LUKA MENYENTUH JIWA

OLEH : Allys Setia Mulyati

“Bu Ifa?, apa sebaiknya anak ibu dibawa ke psikiater saja. Kasihan loh, anak ibu cantik-cantik tapi stress. Apa ibu Ifa tidak sayang sama anak perempuannya?”

“Belum mba Yum, bukannya saya tidak mau mengobati anak saja, bagaimana mungkin seorang ibu tidak menyayangi anaknya? Saya bukannya tidak ingin membawanya ke psikiater. Itu kan sangat membutuhkan biaya yang tidak sedikit”

Lagi pula anakku tidak gila! jerit Bu Ifa dalam hatinya yang terdalam. Tak ingin seorangpun tahu keadaan putrinya itu.

Bu Ifa menjawab rentetan pertanyaan dari mba Yum, tetangga yang tinggal di seberang jalan rumahnya. Cukup perhatian dengan Sella, anak gadis perempuan satu-satunya Bu Ifa, yang sedang dihinggapi stres yang sungguh berat. Entah apa awal mula pemicunya, sehingga Sella bisa stress begitu saja.

Ayahnya Sella tidak pernah memperdulikan kehidupan keluarganya. Kadang Pak Barno pulang sebulan sekali untuk sedikit melupakan permasalahan dalam rumah tangganya. Sella semakin sakit dengan sikap ayahnya yang hampir-hampir tidak pernah memberikan perhatian kasih sayang padanya dan terutama pada mamanya.

Setiap hari Sella selalu berpenampilan biasa saja. Gadis seumuran dia ingin mulai mempercantik diri dan gaya dalam penampilan. Jauh berbeda dengan sikap Sella beberapa bulan belakangan ini.

Hubungan dengan teman-temannya pun mulai menjauhkan diri karena perasaan yang teramat malu berbeda dengan teman-teman yang memiliki apapun yang mereka inginkan. Tinggal minta dibelikan pada ayah mereka. Tetapi tidak begitu dengan Sella, maka jiwanya mulai berkelana, karena keinginan hati yang tak bisa di sejajarkan dengan kondisi keadaan dalam hubungan keluarga.

Bu Ifa sedih dengan keadaan anaknya yang memiliki goncangan kejiwaan. Ayahnya yang pemarah, tidak ada perhatian dari sosok seorang ayah yang didambakan oleh setiap anak perempuan di dunia manapun. Tak bisa Sella rasakan.

Sella sering kali kelihatan sangat ketakutan, bahkan dia tidak merasakan apa-apa kecuali hanya kegelisahan saja yang terjadi dalam dirinya. Sementara orang yang melihat amat keheranan tidak menyangka akan kejadian yang sedang menimpa kejiwaan Sella.

Ibu Ifa dengan telaten memberikan segala kebutuhan Sella, meski harus dengan pengorbanan yang amat agung, berharap putrinya itu segera diberikan sembuh, agar eksistensinya sebagai seorang pelajar akan semakin mendobrak semangat belajarnya kelak.

Tetapi sikap Sella makin menjadi. Dia tidak ingin makan, minum atau sekedar berbicara. Kini seolah dirinya diambil luka yang teramat dalam. Ibu Ifa pun hanya bisa menitikkan air mata, berharap ada jalan keluar agar Sella bisa segera sembuh.

Meski setiap ayahnya pulang, ibu Ifa sering menceritakan perihal Sella pada suaminya itu.

Suatu ketika, sikap Bu Ifa tampak kesal, melihat suaminya itu lebih mementingkan penampilan dengan baju-baju baru, bahkan klimis yang tiba-tiba dipertontonkan. Sementara Sella?

“Apa bapa tidak memikirkan Sella, Pak?!”

Ibu Ifa hampir saja berteriak, bahkan dengan muka yang agak memerah, tidak ada niat untuk marah pada suami, tetapi kesal dengan tindak tanduknya saat itu. Hal yang tertutup akhirnya membuncah juga, rupanya Bu Ifa tidak tahan dengan sikap suaminya yang seolah anaknya sendiripun tak di perdulikannya.

Dibilangin sama istri dengan sikap yang hampir saja menjerit itu, ayahnya Sella tidak bereaksi. Malah dia langsung pergi begitu saja. Dengan semakin bertambah kesal Bu Ifa akhirnya menyumpah serapah suaminya itu.

“Pergilah pak! Tak usah pulang kemari!” Sambil tak tahan menangis sejadi-jadinya. Tetangga sudah mahfum. Bahkan mba Yum langsung mendatangi Bu Ifa, sambil memeluk dan mencoba untuk memberi semangat agar mau bersabar dan bangkit dari masalah yang sedang dialami saat ini.

“Sudah, sudah,, istighfar buu!, istighfar!”

“Saya sudah tidak bisa tahan dengan sikap suami saya, mba Yum!”

“Saya mengerti Bu, coba hentikan tangismu. Lihat Sella, apakah dia sudah di beri makan?, Ibu harus selalu sabar akan keadaan ini, percayalah. Ujian ini sangat ringan bagi Ibu!”

Mba Yum mencoba terus menenangkan. Setelah semua kondisi aman, mba Yum mencoba menyatakan ingin sekali menolong. Tetapi tidak ada maksud untuk mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Ini betul-betul rasa kemanusiaan dan kasih sayang yang besar kepada Ibu Ifa dan anaknya. Tidak disangka mba Yum menyarankan agar Sella tetap harus dibawa ke dokter psikiater. Agar tidak terlambat, dan segera mendapatkan penanganan serius dari dokter nantinya.

Beruntunglah Bu Ifa memiliki tetangga yang baik seperti mba Yum. Perkenalan pertama dengan dokter psikiater, Bu Ifa hampir menangis, karena Bu Yum sudah membayar semua ongkos dokter sekaligus resep obatnya.

“Anggaplah ini sebagai sedikit pemberian dari saya Bu,, ibu tidak perlu mengganti” seloroh mba Yum.

“Urus saja Sella dengan baik, saya siap membantu apapun itu” sekali lagi mba Yum berkata sambil memeluk Bu Ifa.

Bu Ifa justru tak bisa lagi menahan tangisnya. Ia merasa benar-benar dibantu oleh para malaikat, dengan cara memberikan bantuan nya lewat mba Yum. Syukur yang tidak pernah berhenti dari hati dan lisannya.

Dokter hanya memberikan senyuman manis kepada Sella. sementara Sella yang di berikan senyum hanya melongo menatap tak memberi arti.

dokter banyak cerita, terutama kepada ibu Ifa dan mba Yum yang juga ikut masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Setelah Sella diperiksa, ada sedikit respon meski hanya sesaat, Sella nampak tersenyum. Tetapi setelah gerakan refleks itu terjadi hanya sementara. Sella kembali bersikap dan terlihat tak memberi perhatian.

Setelah pemeriksaan selesai obat pun diberikan, mereka pulang. Entah kenapa di sepanjang jalan pulang, Ibu Ifa merasa tak enak hati. Kenapa mba Yum mengantarnya mengendarai mobil bersama laki-laki paruh baya yang menyetir mobilnya, dan kenapa sesekali mba Yum melirik ke arah Ifa sambil senyum-senyum.

Sesampainya di rumah, mba Yum berpesan agar obat dari dokter diminumkan pada Sella dengan jadwal yang harus teratur. Agar reaksi obatpun tidak terlalu cepat atau terlalu lambat. Dengan begitu, proses kesembuhan Sella akan dipermudah.

Lima bulan telah berlalu, sedikit-sedikit perubahan pun telah terlihat pada sosok Sella. Kini ia semakin cantik, dengan paras yang lebih segar dan meyakinkan untuk melangkah. Ibu Ifa sangat bahagia. Sella pun kembali bisa diajak berbicara dan mengutarakan apapun keinginannya. Dan setelah banyak bercerita, rupanya Sella mengakui bahwa selama ini hatinya terlalu terfokus dengan sikap ayahnya yang diluar dugaan, sekaligus merasa ada getaran sayang di hatinya.

Ibu Ifa pun tersenyum bahagia penuh makna. Dengan sedikit nasihat pada Sella agar setiap langkah untuk mengenal seseorang, tidak harus terburu-buru. Apalagi usianya masih belia. Jauhilah untuk sebuah hubungan yang tidak memberi arti, semangat lah untuk berbagi ilmu bagi sesama.

sumber dokumen pribadi