Makin Lancar Dengan Paket Kuota Belajar

Makin Lancar Dengan Paket Kuota Belajar

Ting…! denting pesan pendek masuk di tengah-tengah saya membimbing menjelaskan materi video pembelajaran dalam PJJ di grup WA tengah hari ini. Saya membuka smsnya beberapa saat kemudian, cukup beralasan buat tersenyum cerah selesai penat mengajar jarak jauh.

Alhamdulillah, ada bantuan paket kuota belajar dari kemendikbud yang sudah sangat dinanti-nantikan oleh semua pihak terkait pendidikan, khususnya para orang tua peserta didik yang sering mengeluhkan kebutuhan putra putrinya yang sering minta dana untuk membeli paket kuota internet selama proses PJJ dari bulan Maret.

Memang sebelum ini ada juga bantuan berupa voucher kartu khusus untuk aktivasi di platform belajar yang sudah bekerja sama dengan kemendikbud, tetapi banyak keluhan dari peserta didik belum bisa memanfaatkannya karena ketika diaktifkan pun tidak bisa digunakan oleh mereka yang rata-rata diminta gurunya membuka whatsapp grup, classroom, google meet, dan youtube.

Beberapa waktu yang lalu bertebaran status anak-anak yang mengeluh “tugas padat, kuota ngadat, ilmu gak dapat” karena mereka juga merasa jenuh dengan kondisi tak segera bisa ke sekolah. Sampai hal yang paling menyedihkan ada kabar di suatu 2 SMA yang berbeda, si anak murid ini menelpon guru wali kelasnya dan berpamitan untuk drop out, mundur tak mau sekolah lagi karena tak sanggup belajar dengan media daring. Saat ketika PJJ berlangsung sekitar di bulan Mei-Juni yang lalu, waktu akan dilaksanakannya PAT, penilaian akhir tahun, sedih saya mendengarnya tapi tak bisa juga berbuat banyak karena kejadian itu sudah beberpa hari sebelum dikabarkan dalam rapat dinas terbatas.

Guru sering disalahkan terlalu membebani tugas tanpa melihat kemampuan anak-anak dengan keadaan ekonomi keluarganya. Padahal guru sudah sangat berhati-hati dalam memberikan tugas dengan menerapkan jargon Merdeka Belajar.

Seringan mungkin guru menerapkan sistim PJJ-nya, tak harus dengan media daring, dengan luring, tatap muka jumlah terbatas, bahkan guru kunjung juga sudah dijalani. Kondisi minim komunikasi antara peserta didik dan guru wali kelas serta giri mapelnya, ditambah kurang minat baca info dari guru (terbiasa budaya info secara lisan) sering menimbulkan syak wasangka dari pihak orang tua peserta didik.

Semoga dari hari ini seterusnya tidak lagi saya mendengar anak-anak peaerta didik saya mengeluh tak punya kuota internet dan tetap bisa menjalankan proses belajar jarak jauh dengan guru-guru mapelnya. Segala kesulitan memang tidak mungkin tidak ada solusinya, tapi harus menanamkan kesabaran yang cukup tinggi sampai semua pihak terkait tidak saling menyalahkan.

pic : http://tsel.me/kuotabelajar

rumahmediagrup/isnasukainr

One comment

Comments are closed.