MALAPETAKA DIBALIK GADGET

Malapetaka dibalik Gadget

Teknologi dunia semakin berkembang sehingga tak dapat dipungkiri bahwa gadget menjadi kebutuhan yang tak dapat dihindari. Gadget tak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi dapat memberikan kemudahan dan pelayanan nan melenakan. Mulai dari mudahnya mengakses informasi, game online yang bermacam-macam sampai pada menariknya fitur-fitur yang ditawarkan.

Alih-alih dapat mempermudah, gadget justru menimbulkan persoalan-persoalan baru yang lebih berbahaya. Bukan tanpa alasan, tahun lalu belasan remaja di Bogor alami Gangguan jiwa akibat kecanduan gadget (detik.com/ 17 Oktober 2019). Selama tahun 2019 Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dibeberapa daerah Indonesia dipenuhi pasien dengan gangguan jiwa. Seperti di Sambang Lihum, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), sudah menangani tujuh anak dan remaja yang mengalami gangguan jiwa akibat kecanduan gadget (JawaPos.com/ 18 Oktober 2019). Kemudian di Cisarua, ada sekitar 209 anak yang dirawat di RS Jiwa karena kecanduan bermain gadget (TribunJabar/ 19 Oktober 2019). Tak hanya itu, Pihak RSJ melalui Humas RSJ Totok Herdiato menjabarkan, dalam sehari pihaknya menerima pasien anak kecanduan gadget sebanyak 1 sampai 2 orang anak (Okenews/ 26 Oktober 2019). Baru-baru ini malapetaka kembali terjadi, diduga karena kecanduan game online seorang anak tega menusuk ibu kandungnya sendiri (Kompas.TV/ 9 Februari 2020)

Lalu kenapa gadget dapat menyebabkan malapetaka?

Pemicu kerusakan ini adalah tidak adanya aturan dan salah dalam penggunaan teknologi. Ini adalah bahaya kemajuan teknologi yang tak dibarengi dengan keimanan dan ketaqwaan sebagai hamba kepada Pencipta. Gadget yang seharusnya untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan orang banyak, justru menjadi bumerang pemicu berbagai permasalahan. Mulai dari permasalahan kecil hingga besar. Diawali dengan kecanduan, apatis, krisis moral, kehilangan jati diri bahkan berakibat pada gangguan jiwa.

Pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme) yang mendasari permasalahan ini. Bagaimana tidak, kesenangan semu yang ditawarkan oleh liberalisme justru melemahkan pemikiran dan menjadikan pemuda jauh dari Aqidah Isam. Tak hanya itu, pendidikan sekuler semakin menjauhkan generasi dari ketaqwaan. Ditambah lagi dengan kebijakan IT yang tidak dikontrol negara sehingga menyebabkan game online, situs-situs tak bermanfaat bebas menjadi santapan warga +62. Sistem ekonomi kapitalis yang diemban negara sangat berdampak pada regulasi perekonomian. Negara menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan besar tanpa memperdulikan dampak buruk yang akan ditimbulkan.

Islam memandang bahwa kemajuan teknologi harus didukung untuk kepentingan umat, selagi tidak mengandung hadharah atau pemikiran asing yang merusak. Jika merusak maka akan ditolak, seluruh aplikasi, konten haram yang tak bermanfaat dihapuskan dan tak diberi ruang. Penerapan hukum Islam secara Kaffah akan membentuk ketaqwaan individu, adanya kontrol masyarakat (amal ma’ruf nahi mungkar) dan negara sebagai penerapan hukum sanksi bagi pelaku kemaksiatan.

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (TQS. Al- Maidaah:50)

Sudah saatnya kita kembali kepada hukum Islam yang mulia. Islam dengan segenap aturanya akan menghantarkan kita pada perubahan yang hakiki, menjadikan halal dan haram sebagai standar perbuatan.

rumahmediagrup/firafaradillah