Manjamu Salahku

Manjamu Salahku

Seorang ibu pedagang di pasar berkeluh kesah tentang anak lelakinya.

Dia memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan.

Si sulung, lelaki, sudah dua tahun yang lalu lulus dari sekolah kejuruan. Masih menganggur dan tidak mau melakukan hal yang berkaitan dengan masa depannya. 

Melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, menolak. Diminta belajar bekerja dengan ikut sang paman, tak mau. Dicarikan pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya, berkelit. 

Setiap hari waktunya habis untuk keluyuran di saat orang tuanya terlelap setelah letih seharian, dan tidur panjang saat orangtua sibuk mencari nafkah. 

Sang ibu mengelus dada dan menarik nafas panjang.

Dia teringat perlakuannya saat si sulung masih kecil. 

Hati orang tua mana yang tidak senang memiliki anak pertama laki-laki. Mereka pun masih kuat mencari nafkah, hingga si sulung selalu dipenuhi permintaannya. Walaupun bukan orang kaya, tapi mereka mampu mengabulkan permintaan sang anak.

Anak dimanja, tidak pernah ditegur saat bersalah, dibiarkan saja saat tidak mau melakukan sesuatu. 

Si sulung memiliki adik di saat telah akil balig. Limpahan kasih sayang dengan pembiaran, terlampau lama dia rasakan. Hingga kehadiran sang adik, perempuan, perhatian orang tua mulai terbagi.

Dia tidak lagi prioritas utama.

Segera sadarkah dia? Tentu sulit, karena berubah bukanlah tindakan instan

Kini, saat diancam tidak akan diberi makan dan kebutuhan lainnya, jawab si anak enteng saja. “Nanti kalau aku kelaparan dan mati, buang saja ke sungai, supaya tidak ada beban Ibu dan Ayah untuk menguburkan aku.”

Masyaallah.

Si Ibu menangis, menyadari kekeliruannya selama ini, namun ia merasa sudah terlambat. “Manjamu Nak, itu salahku.” ucapnya dengan sesegukan di sela ceritanya hari ini. 

Sesama pedagang berempati dan memberi masukan agar si Sulung konsultasi dengan psikiater dan hindari untuk memakai cara supranatural yang tidak diperbolehkan dalam agama.

Ini menjadi pelajaran bagi orang tua lainnya, bahwa :

  1. Memanjakan anak boleh saja namun dalam taraf yang wajar. 
  2. Mendidik mandiri sejak dini akan menghasilkan generasi yang tangguh di masa depan.
  3. Hubungan orang tua dalam keseharian juga penting karena orang tua adalah role model bagi anak.
  4. Pendidikan agama juga menjadi benteng dan membantu pembentukan akhlak anak. 
  5. Pantau juga lingkungan di luar rumah yang mempengaruhi anak, terutama teman-temannya.

Langkah di atas bisa dimulai sejak dini, sehingga anak bisa terarah dan mandiri.

rumahmediagrup/hadiyatitriono

2 comments

  1. Orang tua lebih mendekatkan diri pada Sang Khalik dan Minta bantuan ahli agama untuk anaknya. Terima kasih apresiasinya Pak.

Comments are closed.