Mantan

Aku diam, menatap layar gawai dengan enggan. Tiba-tiba hatiku galau.

Tidak bisa.

Mataku kembali menatap gawai, membaca pesan whatshapp dari Evan, mantan pacar di zaman SMA.

Kalimat tidak bisa yang dia ucapkan lewat whatshapp terlihat betapa tidak pedulinya dia saat ini.

Dokumen pribadi

Siapakah Evan?

Evan adalah teman curhat disaat galau, orang yang pertama aku beri tahu saat tulisan-tulisanku menang lomba.

Dia selalu memberi solusi ketika tidak kutemui cara, bahkan dialah satu-satunya orang yang selalu bertanya apa yang kamu pikirkan (sebelum Facebook aku buka).

Evan tidak pernah mengabaikan aku. Saat tahu aku belum makan siang di jam 15.00 WIB karena asyik mengerjakan proyek membuat hantaran pesanan penganten, Evan datang lima menit dengan membawa makan siang.

Evan adalah Evan.

Orang yang pernah lima tahun mencintaiku.

Kenapa hari ini dia ketus, hanya untuk menjawab chat ku yang mengajak membeli anggrek di Jumat sore besok.

Hatiku meruntuk, merasa tidak percaya dengan chat yang dia kirim.

“Hai?”

Aku tersenyum, menatap wajah yang membuatku uring-uringan hadir didepan mejaku.

“Sudah makan?”

Aku menggeleng cepat, seperti biasa ada sesuatu yang istimewa ditangannya.

“Soto ya?”

Evan mengangguk, meletakkan soto tauco khas Tegal dimejaku.

“Terimakasih.” Aku menatap Evan bangga, menghadiahkan senyum termanis.

“Makan gih, waktu makan sudah lewat. Nanti mag kamu kambuh.”

Aku tersenyum, mengangguk pasti dan membuka bungkusan didepanku dengan cepat.

Mataku melirik Evan yang duduk didepan mejaku sambil memainkan handphone.

“Wow, ada apa ?”

Evan terlihat ragu. Menatap ku sekilas dan kembali melihat gawai di tangannya.

“Sa, aku minta maaf”

“Untuk apa?”

“Chat kamu yang semalam dibaca Ulfa.”

Glek, Soto di mulutku terasa mengganjal. Aku menatap Evan, wajahnya terlihat bingung.

“Selama ini, hubungan kita murni hanya karena persahabatan. Aku bisa cerita apa saja ke kamu, tanpa aku bingung mencari kata yang tepat.” Suara Evan bergetar, “Aku suka kalau dengar kamu butuh bantuanku.” Evan menatapku, kepalaku mengangguk.

“Aku tidak pernah menginginkan lebih.” Evan terlihat menelan ludah. “Aku bangga saat suami kamu memberi CRV pada saat ulang tahun mu.”

Kembali kepalaku mengangguk, menyetujui pernyataannya.

Hubungan kami memang murni persahabatan, kami tidak pernah melakukan hal terlarang.

“Pernahkah kamu bertanya pada suamimu, tentang perasaannya?”

“Apa ?” Mataku menatap wajah Evan yang masih diselimuti kabut.

“Bagaimana perasaannya saat kamu selalu membicarakan aku.”

Aku diam. Aku tidak pernah mempertanyakan hal itu. Aku memang sering menceritakan makan siang yang dikirim Evan, pandangan Evan saat aku mau memutuskan sesuatu pada suamiku. Mungkin aku lebih banyak menyebut dan mengaitkan nama Evan dalam urusan rumah tangga.

Apakah semua itu menyakiti hati suamiku?

“Bagaimana dengan Ulfa?”

Aku menghentikan makan siang ku yang belum sepenuhnya habis. Posisi duduk sengaja aku tegakkan, untuk menegaskan bahwa aku serius mengikuti percakapan ini.

“Ulfa marah.” Evan menunduk, ada rasa menusuk, nyeri.

Selama ini suamiku tidak pernah komplain. Mendengar Ulfa, istri Evan marah. Aku jadi ragu, “Apakah mas Bagas juga marah saat aku menyebut nama Evan?” Mataku menerawang, membayangkan sosok mas Bagas. Suami yang selalu mendukung usahaku, memberi bantuan modal saat aku kolaps, memenuhi seluruh kebutuhan orang tuaku.

Mungkin mas Bagas kurang romantis seperti Evan, yang selalu hadir setiap aku membutuhkan.

Aku menatap Evan yang juga sedang menatapku.

Bibirku tersenyum, Evan mengangguk.

Tubuh jangkungnya berdiri, melangkah pelan keluar dari ruanganku.

Tanpa ada perkataan, sebuah ikrar kita buat “bahagilah bersama pasangan hidupmu.”

Rumahmediagrup/srisuprapti