MARAH TANPA AMARAH

MARAH TANPA AMARAH

Fransiska Defi

Sebuah cerita pendek, hasil pelatihan Sehari Bisa Menulis Buku bersama Rumedia Grup oleh Fransiska Defi.

“Bu, kakak nangis guling-guling di ruang tamu, semua PR ketinggalan di sekolah” lapor si mbak padaku dengan muka bingung perlu pertolongan. Berita itu membuat jariku berhenti mendadak seketika dari ketikan laporan pekerjaan.

Pikiranku sedang keruh dikejar tenggat waktu pekerjaan saat ini, berita buruk bak menuang minyak pada api. Rasanya ingin aku marahi kebodohan yang saat ini sulit aku mengerti. Bagaimana bisa semua PR tertinggal di sekolah? Teledor sekali anak ini!

Amarah sudah mengajakku berdiri dari kursi, siap meledakkan diri. Tiba-tiba terlintas kalimat yang menahanku untuk beranjak ke ruang tamu.

“Jika kamu menghadapi masalah, duduklah.” Aku lupa pernah mendengarnya dari siapa dan dari mana, tapi aku turuti juga untuk duduk kembali. Ketika aku mendudukkan diriku, aku pun mendudukkan masalah.

“Mikhael …” panggilku lembut. Tak ada jawaban, tangisnya semakin mengencang dari balik badannya yang tengkurap dengan muka terbenam.

“Mikhael, ibu tahu pekerjaan rumahmu tertinggal semua di sekolah, Ibu tahu kamu sedih sekali. Ibu tunggu sampai kamu selesai menangis, lalu kita bicara, ya?” kataku sambil mengusap rambutnya penuh sayang.

“PRku banyak sekali tapi semua lembar pekerjaan tertinggal di sekolah, bagaimana aku bisa mengerjakan?” ratapnya penuh ketakutan dan penyesalan. Aku tersadar ratapnya saja sudah sedemikian menyesakkan, apalagi jika aku tuang amarah? Mungkin batinnya akan terluka semakin parah.

Aku bisa segera menghubungi gurunya dan menceritakan kejadian ini, lalu meminta dispensasi atau ijin untuk mengambil ke sekolah esok hari. Besok hari Sabtu, sekolah tentu masih buka dan kita bisa masuk kelas untuk mengambil berkas. Kemudian aku akan minta Mikhael mengerjakan dalam waktu dua hari, Sabtu dan Minggu. Lalu Senin dia bisa berangkat sekolah dengan tanpa masalah.

“Mikhael, membuat kesalahan itu tidak masalah, yang menjadi masalah itu adalah ketika kamu tidak berani menghadapi konsekuensi dari kesalahanmu, Nak,” ucapku penuh mengupayakan kesabaran.

 “Aku takut dimarahi guru karena tidak mengerjakan PR, Bu,” isaknya.

Hatiku pedih dengan rasa kasihan dan ingin sekali aku beri pertolongan seperti rencanaku sebelumnya, tapi pikiranku mengajak hatiku punya ketegasan.

“Kalo kita melakukan kesalahan, lalu kita dimarahi, menurut Mikhael wajar atau tidak? Guru marah supaya Mikhael lain kali lebih berhati-hati, supaya Mikhael lebih baik lagi bukan?” tanyaku dengan ketenangan, yang sebenarnya aku pun tidak tega membayangkan anakku dimarahi gurunya Senin depan.

“Iya, aku pasti dimarahi, tapi aku tidak dengan sengaja meninggalkan pekerjaanku di sekolah, Bu,” katanya membela diri.

 “Iya Ibu tahu Mikhael tidak mungkin dengan sengaja melakukan itu, Mikhael hanya lupa memasukkannya ke tas, tapi percayalah mulai hari ini kamu tidak akan lupa lagi,” kataku menenangkan.

 “Aku enggak mau lupa lagi! Aku janji,” katanya sambil mengusap air mata dari tangisnya yang sudah reda.

“Nah, kan, Mikhael sudah belajar banyak dari kejadian ini, Mikhael bahkan sudah bukan Mikhael 10 menit tadi,” pelukku penuh kelegaan hati.

“Besok aku harus bilang apa sama guru-guruku? PRku ada tiga mata pelajaran, Bu,” ucapnya lirih dari balik pelukan. Aku lepaskan pelukan, kupandangi muka polosnya yang kebingungan dengan kesalahan fatal barusan.

 “Kalau kita berbuat salah, apa yang harus kita lakukan, Mikhael?” tanyaku gemas.

 “Hm … minta maaf?” pertanyaan yang sungguh tidak memerlukan jawaban itu aku tegaskan dengan anggukan.

Senin pagi sengaja aku bangun lebih dini. Aku buatkan bekal sekolah spesial untuk buah hatiku yang tampak sedikit grogi. Dari semalam sudah berkali-kali mengatakan bahwa hari ini adalah hari yang besar sekali.

“Selamat pagi, onigiri isi daging teriyaki spesial hari ini! Kan, Mikhael perlu amunisi!” kataku penuh semangat sambil menyerahkan tas bekal sekolah.

“Horee! Terima kasih, Ibu!” balasnya dengan muka cerah berseri-seri.

“Mikhael, Ibu bangga padamu, Nak. Kamu berani menghadapi masalahmu sendiri, bahkan Ibu tidak perlu bicara dengan para guru, kamu hebat sekali!” ucapku setulus hati.

Senyum percaya diri mengembang di bibir anak delapan tahun yang akan menghadapi tiga orang guru karena kecerobohannya. Aku kepalkan tangan lalu dia meninju kepalan tanganku dengan tawa seakan dia sedang meninju dunia, aku bisa!

Kutatap punggungnya yang tertelan lift menuju lantai bawah. Hari ini kita sama-sama belajar, nak. Kamu belajar menghadapi masalah dengan gagah, ibu belajar marah tanpa amarah. Aaahh … sungguh indah!

(Tamat)

(Ilustrasi: Re Reynilda with Canva Apps)