Mariyah (1)

Mariyah (1)

Derai air merembes dari kedua mata bulatnya. Mengalirkan kesedihan yang selama ini di pendamnya. Sekuat hati ia mencoba menahan rasa sakit. Namun akhirnya, benteng pertahanan itu roboh juga.

Perempuan berkerudung abu-abu itu menghapus air mata yang membasahi pipinya. Sesekali ia merapikan kerudungnya yang tak beraturan tertiup angin.

Suasana sore hari di tepian pantai membuat suasana hatinya sedikit lebih tenang. Meski itu tak bisa membuatnya menahan semua rasa sakit yang di deritanya. Namun setidaknya, ia bisa mengasingkan diri dari keramaian.

Memilih menyendiri di tengah hati yang terluka adalah jalan yang selalu ditempuhnya. Masih dalam masalah yang sama seperti sebelumnya. Tentang cinta.

“Adi sudah menikah di Malaysia dengan perempuan asal Jawa.”

Begitu yang diucapkan kakak sepupu Adi, ketika Mariyah mendatangi rumah lelaki yang di cintainya untuk menengok keadaan ibunda Adi.

“Jadi kau tak perlu lagi datang ke sini, Riyah. Sekarang kau bukan lagi calon istri Adi. Kau tak perlu repot-repot mengunjungi kami. Jika kau masih berharap pada Adi, itu akan sia-sia bagimu.”

Ucapan kakak sepupu Adi bagai pedang menghujam tepat ke jantung Mariyah. Begitu nyeri hingga ke dasar hati. Kesetiaannya selama ini kepada lelaki yang sudah menjadi bagian hidupnya selama tiga tahun itu, hanyalah kesia-siaan belaka.

Penantiaannya selama ini sungguh tak berarti. Pernikahan yang diimpikannya selama ini bersama Adi, tinggalah angan-angan. Karena semua itu tak akan pernah bisa terwujud nyata.

Kurangnya komunikasi antara Mariyah dan Adi membuat hubungan mereka samar-samar. Namun penuturan kakak sepupu Adi dan ditambah kepastian dari mamak Adi, telah membuat semuanya menjadi jelas.

Adi memang telah menentukan tambatan hatinya di negeri seberang. Lalu apa artinya ia bagi Adi selama ini? Apakah ia hanya menjadi batu loncatan saja untuk menentukan pasangan hidup pada akhirnya?

Nyeri sekali dada Mariyah memikirkan semua itu. Pengorbanannya selama ini untuk Adi dan keluarganya tak ada artinya lagi. Adi sudah meninggalkannya. Membiarkannya menangis sendiri, meratapi kesedihan hatinya karena untuk ketiga kalinya hubungan percintaannya harus berakhir di tengah jalan.

Usianya sudah dua puluh tujuh tahun. Waktu yang sangat matang untuknya menikah. Tapi sudah tiga kali ia menjalin hubungan dengan lelaki yang dicintainya, semuanya tak pernah berhasil. Ia akhirnya ditinggalkan juga oleh pasangannya.

Lelaki pertamanya, Saeful, adalah anak pak lurah kampung tetangga. Mereka di pertemukan dalam sebuah acara pernikahan. Hubungan mereka berjalan selama satu tahun lebih. Namun sayang, orangtua Saeful lebih memilih menjodohkan anak semata wayangnya dengan perempuan yang merupakan anak sahabat mereka.

Sedangkan lelaki kedua, Hasan, adalah teman semasa duduk di bangku sekolah dasar. Hubungan mereka berakhir kala Hasan mendapatkan pekerjaan di luar Jawa. Hasan tak ingin hubungan jarak jauh, hingga akhirnya Hasan lebih memilih memutuskan Mariyah. Hubungan mereka yang baru berjalan delapan bulan lamanya itu pun harus kandas.

Dan lelaki terakhir yang sudah menjalin hubungan dengannya selama tiga tahun itu pun melakukan hal yang sama seperti dua lelaki sebelumnya. Harapan Mariyah pun telah berakhir. Kini yang tersisa hanyalah hatinya yang terluka.

**

Seperti kebanyakan perempuan berdarah asia lainnya, Mariyah, seorang gadis keturunan Sasak itu pun memiliki kulit sawo matang. Wajahnya yang ayu membuat tak sedikit lelaki tertarik padanya. Namun sayang, nasibnya tak pernah mujur. Hubungan percintaannya dengan lelaki selalu berakhir kandas.

Putri sulung dari dua bersaudara keluarga sederhana itu adalah lulusan sarjana ekonomi islam di kotanya, Lombok Timur. Ayahnya hanya seorang guru sekolah dasar, sedangkan ibunya berdagang sayuran di pasar. Adik lelakinya masih duduk di bangku SMA.

Mariyah tak memiliki pekerjaan tetap. Kegiatan sehari-harinya hanyalah mengajar ngaji di Mushola dekat rumahnya. Terkadang ia membantu ibunya berjualan sayur di pasar. Sesekali ia menerima tawaran sebagai guru les anak sekolah dasar.

Kesehariannya hanya berkutat di situ-situ saja. Monoton. Kisah percintaannya tak pernah mulus. Di saat gadis-gadis sebayanya sudah memiliki anak yang berusia sekolah, Mariyah belum juga menemukan tambatan hati yang menyandingnya ke bahtera pernikahan.

Terkadang sindiran para tetangga membuat Mariyah risih. Sebutan perawan tua telah melekat di dirinya. Dan itu membuat hatinya semakin sakit. Ia ingin sekali lari dari semua cemoohan orang-orang yang tak pernah mengerti akan perasaannya.

“Riyah ingin ke Jakarta, Pak, Bu,” begitu kata Mariyah, sesaat setelah mereka melaksanakan sholat Isya berjamaah di rumah.

Bapak dan ibu Mariyah saling pandang sesaat. Dengan tatapan heran mereka menatap Mariyah lekat.

“Apa kamu yakin, Nak?” tanya ibu, masih tak percaya.

Mariyah menganggukan kepalanya pasti. Tak ada lagi keraguan dalam wajahnya. Tekadnya sudah bulat untuk pergi ke Jakarta.

“Kenapa tiba-tiba kamu ingin pergi ke Jakarta, Riyah?” tanya bapak, meyakinkan keraguan di hatinya.

“Riyah ingin mengadu nasib di sana, Pak. Riyah ingin memperbaiki hidup kita, terutama hidup Riyah sendiri, Pak.”

“Jakarta ‘kan kota besar, Nak. Di sana sangat keras. Ibu takut terjadi apa-apa denganmu.”

“In Syaa Allah, tidak akan terjadi apa-apa dengan Riyah, Bu. Doakan saja. Riyah akan menjaga diri dengan baik di sana.”

“Kita tak punya saudara di sana, dengan siapa nanti kau akan tinggal?”

“Riyah bisa ngekost, Bu. Riyah akan segera mencari kerja sesampainya di sana.”

Hening sesaat. Hanya derai air mata ibu mengalir perlahan, membasahi kedua pipinya. Riyah melihat itu. Hatinya sungguh tak tega menyaksikan kesedihan ibunya. Sambil bersimpuh di pangkuan ibunya, Riyah pun ikut menangis.

“Maafkan Riyah, Bu. Maafkan Riyah jika selama ini belum bisa membahagiakan Bapak dan Ibu, juga Ahmad,” ucapnya sambil menelungkupkan wajahnya di pangkuan ibunya.

Dengan penuh kelembutan, ibu Riyah mengusap halus kepala anak perempuannya itu.

“Tidak, Nak. Kau dan Ahmad adalah kebahagiaan bagi kami. Juteru kami merasa sedih dengan apa yang menimpamu ini. Kau seharusnya bisa mendapatkan kebahagiaan, namun Allah belum memberimu lelaki yang tepat untuk menjadi pendamping hidupmu.”

Mariyah semakin menangis tertahan. Hatinya masih merasakan sakit akibat penghianatan Adi, namun ia mencoba menahan segala rasa yang menyesaki dadanya. Cukuplah ia yang merasakan derita itu. Ia tak ingin orang tuanya ikut merasakan penderitaannya.

“Kalau itu sudah tekadmu untuk pergi ke Jakarta, Bapak mengizinkannya, Nak.”

Mariyah mendongak. Di tatapnya wajah bapaknya lekat.

“Terima kasih, Pak.”

Bapak hanya tersenyum menatap Mariyah. Meminta kepastian, ia pun menengok ke arah ibunya. Perempuan paruh baya itu hanya menganggukan kepalanya. Dengan sukacita Mariyah menghambur ke dalam pelukan ibunya.

“Terima kasih, Bu.”

“Kau harus bisa jaga dirimu di sana ya, Nak.”

“Tentu, Bu. Riyah akan menjaga kepercayaan Bapak dan Ibu yang telah mengizinkan Riyah untuk pergi ke Jakarta.”

Ibu memeluk Mariyah erat. Dan bapak mengelus kepala Mariyah dengan sayang.

**

Kota Jakarta begitu ramai dengan aktivitasnya yang padat. Kendaraan bermotor hilir mudik menyesaki jalan. Langit Jakarta begitu terik ketika Mariyah menginjakan kaki di terminal Pulo Gebang.

Tiga hari dua malam ia tempuh perjalanan darat dengan bus dari Lombok menuju Jakarta. Rasa lelah selama di perjalanan terbayarkan dengan sampainya ia di kota yang di harapkannya mampu merubah jalan hidupnya ke arah yang lebih baik.

Mariyah sempat bingung, harus kemana ia berjalan. Tak ada saudara atau pun teman yang bisa ia temui di Jakarta. Dengan menenteng tas besar berisi pakaian, ia berjalan menyusuri pinggiran jalan, keluar dari terminal.

Di sebuah rumah makan pinggir jalan, ia pun berhenti. Sambil beristirahat melepaskan lelah, ia pun memesan makanan dan segelas es teh manis. Di lahapnya sepiring nasi berisi sayur dan sepotong ayam goreng. Diseruputnya es teh manis, hingga habis tak bersisa.

“Haus, Neng?” tegur seseorang mengagetkan Mariyah.

Di lihatnya seorang perempuan setengah baya, berdiri di hadapannya. Perempuan yang sedari awal melayaninya mengambil makanan dan minuman.

Mariyah tersenyum malu. Sambil membersihkan sisa makanan yang masih tersisa di mulutnya itu.

“Iya Bu, maklum perjalanan jauh,” ucapnya sambil tersenyum.

Ibu pemilik warung pun ikut tersenyum.

“Memang, Neng dari mana?”

“Saya dari Lombok, Bu.”

“Ngapain jauh-jauh ke Jakarta, Neng?”

“Saya mau mengadu nasib, Bu.”

“Hati-hati tinggal di Jakarta, Neng. Di sini kalau kita tidak bisa menjaga diri, bisa-bisa terbawa arus yang tidak baik.”

“Iya, Bu. Terima kasih atas masukannya. Semoga Allah selalu melindungi kita dari segala marabahaya ya, Bu.”

“Aamiin.”

“Oya, Bu, kalau boleh saya tahu, di sekitar sini, di mana saya bisa mendapatkan kamar kost ya, Bu?”

“Banyak di sekitar sini, Neng. Gak jauh dari sini, neng bisa jalan kaki sekitar 600 meter ke arah kanan, lurus saja, nanti di situ ada persimpangan. Nah, di situ banyak tempat-tempat kost yang sesuai dengan keuangan kita.”

“Baik, Bu. Terimakasih atas informasinya. Kalau begitu, saya mohon pamit ya, Bu.”

“Ya, Neng. Hati-hati.”

“Baik Bu. Terimakasih.”

Mariyah melangkah gontai meninggalkan warung setelah membayar makanannya.

**

rumahmediagrup/bungamonintja