Mariyah (3)

Mariyah (3)

“Jadi kamu sedang mencari pekerjaan saat ini, Riyah?” tanya Danis di sela pembicaraan mereka pagi ini.
Danis sengaja datang hanya untuk melihat keadaan Mariyah.

“Iya, Mas Danis. Pekerjaanku yang sekarang tidak membuatku bersemangat. Aku ingin mencari pekerjaan yang lebih baik dari sekarang.”

“Kalau kamu mau, kamu bisa bekerja di cafeku. Kebetulan di cafe sedang membutuhkan kasir”

“Kau punya cafe?”

“Ya, memang agak jauh dari sini, tapi kalau kamu mau, kamu bisa mencari tempat kos yang tak jauh dari cafe.”

“Tentu saja aku mau. Tapi, apa ada lowongan lain di cafemu, Mas.”

“Kamu tak mau jadi kasir?”

“Tentu saja aku mau, tapi jika ada lowongan lain di cafemu, dan kau tak keberatan, teman baikku pun sedang membutuhkan pekerjaan.”

“Kalau dia mau, dia bisa jadi pramuniaga di cafe.”

“Nanti aku bilang pada temanku ya, Mas. Terima kasih banyak kau sudah mau membantuku.”

“Sama-sama, Riyah”

***

Mariyah dan Lani mulai bekerja di cafe milik Danis. Pekerjaan yang sekarang memang lebih baik dari pekerjaan yang sebelumnya. Ia menikmati pekerjaannya yang sekarang. Ada gairah tersendiri dalam dirinya meski kini pekerjaannya hanya menjadi seorang kasir.

Cafe milik Danis memang besar dan tak pernah sepi pengunjung. Letaknya yang berada di tengah kota dan dalam lingkungan perkantoran, membuat cafe milik Danis selalu ramai oleh pengunjung.

Sepengetahuan Mariyah, selama mengenal Danis sebulan terakhir ini, tak pernah ia melihat sosok perempuan berada di samping Danis. Entah ia memang belum memiliki pendamping atau ia memang tak ingin mengenalkannya pada Mariyah. Mariyah tak terlalu mencampuri urusan pribadi Danis, meski seringkali ingin ia tanyakan hal itu.

Hubungan Mariyah dan Danis sudah cukup dekat. Danis seringkali menawarkan diri untuk mengantarnya pulang selepas pekerjaan, dan Mariyah pun tak menolaknya. Bahkan Danis tak jarang mengajaknya jalan berdua meski itu hanya sekadar jalan-jalan di taman atau makan di restoran lain.

Sejauh ini Danis hanya menceritakan tentang pekerjaannya. Tentang bagaimana ia membangun bisnisnya yang sekarang, tentang kondisi orangtuanya yang sejak kecil sudah meninggal dunia. Ia dan kakak lelaki satu-satunya harus bekerja keras untuk tetap bertahan hidup tanpa seorang pun keluarga.

Hingga akhirnya kakak lelaki Danis berhasil menguliahkannya dan menjadikannya seperti sekarang ini. Sedangkan Reno, kakak lelakinya menjalani bisnisnya sendiri dan hidup bahagia bersama dengan istri dan anak perempuannya di Kalimantan.

**

Langkah-langkah kecil kakinya tampak riang menghampiri Danis yang berdiri tepat di sebelah Mariyah. Danis pun menyambut hangat gadis kecil berambut panjang itu dengan pelukan hangatnya. Senyum mereka tampak terkembang. Lain halnya dengan Mariyah yang hanya bisa termangu membisu menyaksikan mereka.

“Tante ini siapa, Ayah?” tanya gadis kecil berusia lima tahunan itu membuyarkan keterpakuan Mariyah.

Danis tampak tersenyum sejenak sambil menggandeng lengan gadis kecil itu.

“Ini Tante Mariyah, Sayang. Kamu bisa panggil Tante Riyah,” ucap Danis masih tersenyum.

Mariyah menatap gadis kecil yang berdiri tepat di depannya. Ia menyalaminya dengan sopan.

“Aku Bianca, Tante,” sapa gadis kecil itu dengan wajah riangnya. Mariyah pun menyambutnya dengan hangat.

“Senang bisa berkenalan sama Bianca,” ucap Mariyah sambil berjongkok di depannya.

Gadis kecil itu hanya menganggukan kepala sambil tersenyum.

“Bian, mulai sekarang Tante Riyah mungkin akan sering main ke rumah kita, Bian tidak keberatan ‘kan?” tanya Danis menatap gadis kecil itu.

“Tidak apa-apa, Ayah. Bian malah senang kalau Tante Riyah bisa sering main ke rumah kita. Bian akan punya teman bermain nanti,” celoteh Bianca sumringah.

Mariyah masih terpaku menyaksikan percakapan Danis dan Bianca. Ia masih tak percaya mendapati kenyataan kalau Danis sudah memiliki anak.

“Tante Riyah, mau ‘kan kalau Tante main sama Bian?” tanya Bianca membuyarkan lamunannya.

“Tentu saja, Sayang. Dengan senang hati Tante akan menemani Bian bermain.”

Mariyah menatap Danis sejenak. Lelaki itu tersenyum senang mendengar percakapan Mariyah dan Bianca.

“Terima kasih, Riyah.”

Mariyah hanya tersenyum pada Danis, detik berikutnya ia tak sempat berkata apa-apa lagi, karena tangannya sudah ditarik Bianca menuju kamarnya. Dan ia menghabiskan waktu hampir seharian dengan Bianca.

Gadis kecil itu menyenangkan, selain wajahnya yang cantik, tingkahnya pun menggemaskan. Mariyah merasa senang bisa menemaninya bermain. Dan Bianca pun tampak bahagia bersamanya.

Mungkin karena seharian bermain, membuat Bianca akhirnya tertidur dengan sendirinya di pangkuan Mariyah saat ia membacakannya dongeng putri salju. Wajahnya tampak tenang dan bahagia. Mariyah pun menidurkannya di atas ranjang. Setelah yakin jika Bianca sudah terlelap dalam tidurnya, ia pun keluar dari kamarnya.

Jarum jam masih menunjukkan angka tiga lewat dua puluh menit. Biasanya di hari minggu ini, Mariyah habiskan waktu membaca buku di kamar. Memang hari minggu merupakan hari libur yang diberikan Danis untuknya bisa meluangkan waktu memanjakan diri. Namun, hari ini Danis rupanya sengaja membawanya ke rumahnya untuk bertemu Bianca. Dan ia tak menyesali itu.

“Riyah…,” panggil Danis yang tengah duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir teh.

“Bianca tidur?” tanya Danis sambil memberikan secangkir teh untuk Mariyah.

Mariyah mengangguk pelan. Duduk tak jauh darinya dan menyesap teh hangat yang diberikan Danis.

“Maaf ya bila Bian sudah merepotkanmu.”

“Tidak. Aku malah senang bisa mengenalnya. Dia anak yang baik, lucu dan menggemaskan.”

“Aku sangat menyayanginya. Dia adalah putriku satu-satunya.”

“Kalau boleh tahu, kemana ibunya?”

Danis menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan. Ia tampak menerawang jauh. Selama beberap saat, ia seperti memikirkan sesuatu.

“Ibunya meninggal saat ia melahirkan Bian,” terang Danis tampak sedih.

“Maaf.”

“Tak apa. Itu sudah lima tahun yang lalu.”

Raut wajah Danis terlihat berubah. Rasa sedih itu kian tampak di matanya yang terlihat berkaca-kaca.

“Sinta. Itu nama ibunya Bian. Aku dan dan Sinta menikah saat usia kami sama-sama masih muda. Kami bangun mimpi indah bersama. Hingga Sinta mengandung. Namun kebahagiaan itu terkikis seiring peringatan dokter untuk menggugurkan janin dalam kandungan Sinta. Ada tumor ganas dalam dinding rahimnya. Dokter menyarankan Sinta untuk tidak melanjutkan kehamilannya, karena hal itu akan membahayakan nyawanya, tapi Shinta bersikeras. Hingga akhirnya Bian lahir, namun nyawa Sinta tak bisa diselamatkan.”

Danis menundukan kepalanya. Tak terasa air sudah menggenang di kedua mata Mariyah.

“Pernah terpikir olehku untuk mencari ibu untuk Bian, namun sepertinya Tuhan belum mengirimkan jodohnya untukku. Kebanyakan dari perempuan yang dekat denganku, hanya mengincar kemapananku. Tak pernah mau menerima dengan tulus kehadiran Bian.”

Danis menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Mariyah. Tersenyum.

“Hidup memang harus terus berjalan, sepahit apapun yang pernah terjadi dalam hidup kita sebelumnya. Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi padamu dan Bianca. Namun, jika boleh, izinkanlah aku menjadi teman untuk Bian berbagi.”

“Kamu yakin?”

“Aku menemukan rasa tenang saat bersama Bian. Wajah polosnya, telah menghipnotisku untuk terus bersamanya. Mungkin karena aku merindukan sosok keluarga yang sudah lama ingin aku miliki.”

“Jika kamu tak keberatan, bolehkah aku mengenalmu lebih jauh lagi, Riyah.”

“Maksudmu?”

“Aku ingin kita saling mengenal lebih dekat lagi. Aku ingin kita menjalin hubungan yang lebih serius dari ini.”

“Apa?”

“Aku akan melamarmu, Riyah.”

“Kamu yakin, Mas?”

“Aku yakin. Aku sudah mempertimbangkan ini sebelumnya. Sejak pertama mengenalmu, aku merasa kau begitu dekat. Perasaan itu aku rasakan juga saat pertama kali mengenal Sinta.”

“Aku tak menyangka kamu akan mengatakan ini.”

“Kamu keberatan?”

“Tidak. Hanya saja aku agak terkejut saja. Selama ini, aku menjalin hubungan dengan lelaki, namun selalu saja kandas. Tapi sekarang, justeru kita baru saja saling mengenal, tapi kau sudah ingin melamarku.”

“Aku tak ingin membuang waktu untuk alasan yang sudah aku yakini. Dan In Syaa Allah, kamu adalah jodoh yang Tuhan titipkan untukku.”

“Aku masih harus banyak belajar menjadi ibu bagi Bianca.”

“Kita akan sama-sama belajar untuk hal itu, Riyah. Aku harap kamu mau menjalani hidup bersamaku dan Bianca.”

“Tentu, aku mau, Mas.”

“Terima kasih, Riyah.”

Mariyah memang belum bisa mencintai Danis. Mungkin begitupun sebaliknya. Baru satu bulan lebih pertemanan mereka terjalin. Namun ia dan Danis meyakini jika mereka bisa hidup bersama dalam hubungan yang lebih sakral. Mariyah pun sudah lelah mencari. Mungkin kini jodohnya telah datang. Dan ia akan menyambutnya dengan bahagia. Semoga ia bisa menjalani hidup bahagia bersama Danis dan Bianca.

**

End

Kisah yang pernah ditulis 6 Agustus 2018 (pernah dipost di Facebook dan Wattpad)

rumahmediagrup/bungamonintja