Masjid Ji’ronahCatatan Perjalanan (2)

Masjid Ji’ronah
Catatan Perjalanan (2)

Hari itu 24 Ramadhan, Hari kedua kami di Makkah. Pagi-pagi sekali setelah shalat shubuh kami berencana mengambil miqat di Ji’ronah. Pihak hotel mencarikan kami taksi menuju kesana. Dengan 100 RS kami menuju ji’ronah dengan diantar seorang sopir dari Pakistan. Udara segar pagi ini membuat saya merasa lebih sehat. Langit Mekah merah kekuningan terkena pancaran matahari pagi yang terlihat lebih besar disini. Mentari terlihat bulat penuh berwarna orange dengan cahayanya yang hangat mengiringi perjalanan kami. Sedikit berdesakan di taksi kami menyusuri jalanan dengan pemandangan gunung batu dan beberapa padang pasir. Sesekali kami melewati perkotaan, dengan arsitektur bangunan khas arab dan pohon-pohon kurma yang tertata indah di tepi jalan.

Sekitar satu jam setengah perjalanan, kami sampai di masjid ji’ronah. Sebuah masjid dengan cat putih dengan paduan sedikit coklat muda, dengan satu kubah berwarna putih dan menara yang menjulang indah. Di sini terdapat sumur bersejarah yang menurut riwayat, saat itu usai perang Hunain kaum muslimin kehabisan perbekalan air. Kemudian Rasulullah memukulkan tongkat beliau dan memancarlah sumber air. Di cerita selanjutnya, Nabi Muhammad SAW akan berkunjung kembali ke daerah ini. Mengetahui hal ini kaum musyrikin segera menebar racun di sumur tersebut. Atas petunjuk Allah, Rasulullah pun meludahi sumur tersebut dan seketika sumur yang awalnya beracun menjadi tawar dan bahkan dipercaya bisa dijadikan obat.

Seusai shalat sunnah di masjid ji’ronah, kami ingin mengambil air berkah ji’ronah. Di sekitar masjid ada beberapa penjual jerigen seharga mulai dari 2 sampai 5 riyal. Setelah membelinya, Kami mengantri karena hanya tersedia beberapa kran air sumur ji’ronah. Setelah itu kami segera kembali ke Masjidil Haram.

rumahmediagrup/muslimatulfaiqoh

ditulis ulang dari facebook