Masker cinta Rumah Harlyn

Masker Cinta Rumah Harlyn

(Cerita Nunuk)

Sebuah cerita pendek, hasil pelatihan Sehari Bisa Menulis Buku bersama Rumedia Grup, oleh Cerita Nunuk.

“Ibu, masker kita di rumah tinggal sekotak. Yudhis sudah cari di beberapa toko tapi tidak ada,” kata si sulung, sambil memasang maskernya, sebelum turun dari mobil dan masuk ke sekolah.

Saya pun yang kala itu masih sibuk dengan banyaknya kegiatan, tidak punya cukup waktu untuk keliling Singapura mencari surgical mask yang menjadi barang langka saat kedatangan Covid19 di awal tahun 2020.

Saat di tanah air belum ada laporan warga yang terinfeksi virus Corona, Singapura sudah ramai dengan gencarnya pemberitaan pasien-pasien yang harus segera mendapatkan pengobatan. Namun kegiatan warga tetap berjalan seperti biasa dengan beberapa anjuran dari pemerintah namun harus mengenakan masker.

Mask out of stock. Sorry … mask sold out. We don’t sell mask.

Begitulah tulisan-tulisan yang menyambut saya saat masuk ke dalam untuk untuk berburu penutup wajah dengan tali pengikat di belakang telinga itu. Wajah ramah karyawan toko sampai kerut dahi, dan suara ketus pun sering saya jumpai di tengah keputusasaan berburu masker.

“Ibuu … ada kiriman dari Solo. Isinya 2 bungkus masker. Ibu tidak perlu capek keliling toko,” teriak dek Erlang menyambut saya saat baru tiba di rumah.

“Alhamdulillah ya, Allah!” ucap syukur saya, seolah baru menerima kiriman durian satu truk. Belum lagi sempat mengirim pesan singkat, berisi ucapan terima kasih kepada sahabat yang mengirimkan masker-masker itu, sebaris pesan saya terima dari suami tercinta. Ia mengabarkan bahwa seorang sahabat lain mengirimkan sekardus besar masker dari Makassar.

“Masya Allah! Terima kasih ya, Allah, atas semua rejeki yang telah Engkau kirimkan kepada kami melalui para sahabat yang baik hatinya. Lindungilah kami dan semua sahabat kami dari semua penyakit dan mara bahaya. Aamin,” doa saya sambil bersimpuh kepada-Nya.

Mendapat perhatian berupa kiriman masker dari tanah air, sangat membuat hati ini terharu, gembira, bahagia, semua bercampur aduk. Apalagi saat mengetahui masker yang kemudian kami bagikan kepada teman-teman di Singapura itu juga mendapat sambutan luar biasa. Bukan karena harga tapi karena tidak ada lagi persediaan masker di negara ini. Mata saya lalu memanas penuh haru.

Situasi ternyata tak juga membaik, ketika pemerintah Singapura mengumumkan diberlakukannya Circuit Breaker sejak 7 April 2020. Semua dihimbau untuk belajar dan bekerja dari rumah, kecuali yang mendapat ijin dari pemerintah. Jika melanggar aturan, siap-siap saja bayar denda yang tidak sedikit bahkan sampai pemutusan kontrak kerja.

Wow! Ketat sekali aturannya, ucap saya dalam hati. Saya yang kala itu sedang berburu bahan makanan di supermarket, dua hari sebelum berlakunya Circuit Breaker tiba-tiba membayangkan sebuah mesin jahit. Hmm … bukankah saya bisa menjahit, meskipun tidak terlalu mahir? Bukankah semua orang saat ini membutuhkan masker kalau ke luar rumah?

Kalimat-kalimat itu mengganggu pikiran saya saat sedang antri di kasir. Kenapa saya tidak menjahit saja? Apalagi nanti saya tidak boleh keluar rumah. Apa yang akan saya lakukan seharian setelah semua urusan pekerjaan rumah selesai?

Niat spontan itu mengantarkan saya memasuki Spotlight di Plaza Singapura, hari itu juga. Toko yang menjual beragam pernak-pernik hobi dan berbagai hiasan perabot itu penuh sesak oleh pembeli. Saya harus rela antri panjang untuk membeli mesin jahit dan perlengkapannya. Rasa haus dan ingin ke toilet pun saya tahan karena takut antrian terlewat. Ternyata pengumuman stay at home d iberbagai media mendorong banyak warga untuk belanja. Melakukan hobi dan berbagai kegiatan saat “dipaksa” berdiam diri di rumah untuk memutus rantai penyebaran Covid19.

Mesin jahit pun tergelar. Anak-anak merelakan meja makan yang biasanya rapi berubah menjadi meja workshop. Setelah membuat contoh berbagai model dan ukuran, perencanaan pun dimulai. Saya yang terbiasa bekerja detail tidak mau ada kain yang terbuang, karena itu pola ukuran masker harus rapi. Tidak mau ada waktu yang sia-sia juga karena salah jahit. Tidak mau terlalu banyak bongkar pasang benang berbagai warna di mesin, hingga pengelompokkan warna kain menjadi penting. Akhirnya, saat masker contoh telah selesai, hati pun gembira. Apalagi saat mengetahui suami dan anak-anak menyukai jahitan ibunya, semangat saya untuk terus menderu mesin bertambah.

Mulailah hari-hari saat saya “terpaksa tidak boleh keluar rumah” menjadi hari nan produktif penuh canda dan tawa bersama suami dan dua putra remaja saya. Mereka dengan riang turut membantu memotong kain, mengukur dan memasang tali, menyiapkan pembungkus masker, bahkan membuatkan kopi panas untuk ibunya. Waktu berjam-jam di meja workshop terasa singkat oleh gelak tawa mereka. Bahkan suami saya kembali mengerjakan hobi lamanya, menggambar sketsa saat saya sedang menjahit. Senangnya!

Tak terasa waktu sudah tengah malam saat saya menyelesaikan 120 masker perdana untuk para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang saat itu berada di penampungan KBRI Singapura. Saya membayangkan kekangenan mereka terhadap keluarga di tanah air, tapi harus tegar menyelesaikan semua persoalan di negeri Merlion ini. Saat mendengar bahwa masker yang saya jahit dengan penuh cinta bermanfaat, digunakan saat mereka beraktifitas, rasanya senang sekali. Foto mereka, saat sedang mengenakan masker jahitan saya yang dikirim seorang teman, menjadi penyemangat saya kala lelah.

“Aaaah, Ibu kayaknya harus pakai kaca mata nih,” ujar saya saat mata mulai pedih karena berulang memasukan benang tapi tidak berhasil. Semangat saya tumbuh lagi saat beberapa kolega suami mengirimkan ucapan terima kasih atas kiriman masker kain yang diterimanya. Belum lagi kiriman foto keluarga seorang teman sedang bermasker ria dengan anak-anaknya. Maklum saat itu berbagai jenis masker tidak ada di pasaran.

Semakin hari kecepatan menjahit saya bertambah. Meskipun proses menjahit yang sederhana, tapi membutuhkan kerapian dan ketelitian. Saat sekotak besar masker siap dikirim ke panti jompo dan panti asuhan, saya sudah memikirkan target penerima berikutnya. Saat sedang menjawab beberapa email penawaran kursus keterampilan, tiba-tiba email dari management sebuah panti jompo masuk ke inbox saya. Ucapan terima kasih atas kiriman masker dan apresiasi para warga panti atas corak masker yang indah, membuat hati bahagia.

Nuk, bisa jahit 500 masker dalam tiga hari? Kalau sanggup, nanti bahannya dikirimkan. Pesan seorang teman melalui Facebook sambil mengirimkan link berita dari sebuah organisasi sosial di Singapura. Saat itu pasien Covid19 tiba-tiba melonjak tinggi dengan banyaknya korban dari para pekerja konstruksi yang tinggal di asrama, hingga membutuhkan masker dalam jumlah sangat banyak. Duh! Ingin sekali saya menyanggupinya, dan ikut berpartisipasi membantu warga yang membutuhkan. Tapi saya harus realistis, bahwa kemampuan saya menjahit saat itu hanya maksimal 50 buah masker per hari. Itu pun dengan mengorbankan waktu makan menjadi singkat dan istirahat yang berkurang.

Rasa sedih karena tidak bisa turut membantu menjahit masker dalam jumlah besar dengan waktu terbatas kala itu terobati dengan saya bergabung di sebuah group social, Masks Sewn With Love, yang akan menyalurkan masker yang kita jahit kepada warga yang membutuhkan. Saya yang semangat menjahit, membutuhkan bantuan untuk menyalurkan masker yang terus menumpuk di rumah. Untung saya sempat membeli kain puluhan meter sebelum semua toko diminta tutup oleh pemerintah dan juga memanfaatkan banyak kain batik pemberian beberapa orang sahabat saat ke Singapura.

Masker kain produksi Rumah Harlyn dikirimkan melalui kantor pos ke Masks Sewn With Love (MSWL) lengkap dengan jumlah dan ukuran masker. Ini untuk memudahkan admin group saat menerima masker kita dan mendistribusikannya setelah lulus proses quality control. Pengiriman melalui kantor posnya pun gratis, karena ada kerjasama antara mereka.

Saat sedang menikmati jus jeruk pagi itu, pandangan saya tertuju kepada banyaknya notifikasi di Facebook, saya pun penasaran. Betapa terkejutnya, ternyata postingan saya di group MSWL mendapat respon dari Madame Ho Ching, istri dari Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong. Beliau membagikan ulang postingan yang saya kirim di dinding Facebook miliknya. Mungkin beliau tertarik dengan kalimat yang menyatakan bahwa saya seorang warga Indonesia, ingin turut memberikan kontribusi kepada community di Singapura, dengan menjahit masker dan membagikannya secara gratis. Ahh … meskipun tidak pernah bermimpi mendapat respon seperti ini, tetap saja rasanya senang dan bersyukur sekali. Apalagi setelah membaca ratusan komentar positif mengenai kegiatan menjahit masker kala pandemi.

Mengetahui bahwa pasien Covid19 mulai banyak di tanah air akhir April 2020 lalu, saya pun berinisitif mengajak teman-teman Facebook untuk menjahit atau mendistribusikan masker di kota masing-masing. Bagi yang bersedia menjahit, bahan kain akan dikirim ke alamat. Bagi yang ingin membagikan masker pada yang membutuhkan, maka masker kain siap pakai akan dikirimkan padanya. Alhamdulillah, banyak teman yang membantu dan berpartisipasi, meskipun saat itu belum ada kewajiban untuk mengenakan masker di tanah air.

Hampir 1.500 masker telah saya jahit dengan penuh cinta berisi penuh harapan dan doa. Mengalahkan rasa malas yang kadang mendera. Semoga siapa pun yang mengenakannya selalu sehat, dan terhindar dari bahaya Corona. Kita tidak bisa sehat sendirian. Kita harus sehat bersama, agar kita semua bisa melakukan banyak kegiatan seperti semula. Segera lakukan niat baik, meskipun hanya langkah kecil. Semoga Covid19 cepat berlalu, agar kita bisa bertemu melepas rindu.

(Tamat)

(Foto: Koleksi pribadi)