MATA BAIK LAILA

by. Gina Imawan

GUBRAK!!

“Kamu lagi! Jalannya hati-hati dong, Laila. Masa meja segitu besarnya ditabrak”, bu guru membantu Laila berdiri. Satu kelas tertawa.

Laila meringis. Bangkit berdiri dengan bantuan bu guru.

“Maaf, bu”, gumamnya pelan.

Bu guru menghela nafas. Kembali ke ke depan kelas. Ini ketiga kalinya Laila jatuh tersandung ujung meja. Mungkin tubuhnya yang kurus membuat keseimbangannya juga kurus.

Maka esok dan seterusnya, bu guru membawa bekal lebih banyak. Dibaginya setengah untuk Laila yang selalu menerimanya dengan bola mata berbinar penuh kaca-kaca.


PRANG!

Tangan penuh sabun Laila bergetar. Matanya terbelalak menatap bagian-bagian piring yang berserakan.
Licin. Sabunnya sungguh licin. Padahal dia sudah sangat berhati-hati. Ditatapnya setumpuk cucian piring yang lain. Bersih berkilau.

“LAILA! NYUCI PIRING AJA NGGAK BECUS! APA SIH BISANYA KAMU INI?!”

Laila terlonjak. Dari belakang suara cempreng itu mengagetkannya. Dengan mata berkaca-kaca dikumpulkannya seluruh pecahan piring. Dimasukkan kedalam plastik kresek dan dibuangnya ke tempat sampah.

‘MALEM INI KAMU NGGAK BOLEH MAKAN. SEENAKNYA AJA MECAH-MECAHIN BARANG!’,
Suara cempreng itu kembali terdengar. Galak. Ketus.

Laila menghela nafas. Menggigit bibirnya. Sekuat tenaga menahan tangis.


KROMPYANG!!

Suara panci beradu dengan lantai terdengar nyaring.
Laila tergopoh-gopoh berlari ke dapur. Terpana mendapati sepanci sup makan malam mereka sekarang berhamburan di lantai. Tak layak lagi.

Laila menghela nafas. Sia-sia sudah dia berpeluh mengerjakan sup sepanci penuh. Matanya mencari. Ada sosok kecil yang masih memegang centong sayur dan mangkok plastik berdiri mengigil di pojok dapur. Ketakutan.

Laila mendekatinya. Menghela nafas. Mengambil centong sayur dan mangkok plastik dari tangannya. Memeluk tubuh ketakutan itu erat. Menenangkan. Tetes demi tetes air mata hangat dari sosok kecil itu membasahi pundak Laila. Laila mengeratkan pelukannya.

‘SIAPA YANG NUMPAHIN SEPANCI SUP INI?!!’, suara cempreng menggelegar mengagetkan keduanya.

Si kecil Ana mengeratkan pelukan di punggung Laila.

Laila melepaskan pelukannya. Berdiri tegap. Menarik Ana yang masih tersedu ke balik tubuhnya.

‘aku, bu…’, Laila berkata mantap. Bisa dirasakannya nafas tersentak kaget sosok kecil dibelakangnya.

‘BAGUS!! KAMU LAGI!! MULAI SEKARANG SELAMA SEMINGGU, KAMU BERSIHIN SEMUA KAMER DI SINI. SENDIRIAN. DASAR ANAK NGGAK ADA GUNANYA!!’

Bentakan-bentakannya menyakitkan telinga. Suara cemprengnya meledak ke seluruh ruangan di rumah itu. Belasan pasang mata mengintip dari balik jendela dapur.


‘kak Laila…. kak….’, si kecil meletakkan piring berisi nasi, tahu dan tempe si atas meja. Lalu beranjak mendekati Laila.

‘kak Laila…makan dulu…ini Ana bawain…”

Mengoyang-goyang tubuh kurus kering Laila yang tak juga bergerak. Dalam kebingungannya Ana menjerit. Berteriak minta tolong sekencang-kencangnya.

Sekejap. Keadaan hiruk pikuk. Semua orang menghambur ke arah teriakan Ana. Melihat Ana yang sudah menangis meraung-raung disamping tubuh Laila. Menggoyangnya sekuat tenaga agar membuka mata.

Ibu gemuk bersuara cempreng mendekat. Meletakkan tangan di kening dan kaki Laila. Tertegun. Dingin sekali. Kulit Laila pucat dan dingin.

Terbata-bata, dia meminta tukang kebunnya membawa Laila ke rumah sakit.
Ana masih meraung-raung. Beberapa orang yang lebih besar berusaha menenangkannya. Titik-titik air mulai bergantian meluncur di belasan netra itu.


Hari ini di depan panti asuhan itu kamu bisa melihat ada bendera kuning.

Bendera yang hanya akan dipasang bila ada penghuninya yang meninggal. Kursi-kursi dikeluarkan. Pelayat berdatangan.

Ana masih belum bisa berhenti menangis. Meringkuk di atas kasur tipis tempat Laila biasa tidur. Matanya bengkak. Hidungnya semerah tomat.

Bu guru yang datang melayat menemukannya sedang memeluk sebuah buku tulis lecek. Bu guru memeluk Ana. Lama. Tak berkata apa-apa karena memang tak perlu berkata apapun. Kata penghiburan tak akan berguna menyembuhkan dalamnya luka.

Tujuh hari berlalu. Pelayat sudah mulai berkurang. Ana mulai bisa tersenyum tipis meski masih sering menangis. Tidurnya tetap di kasur tipis Laila. Dengan buku tulis lecek disebelahnya.

Ibu gemuk dengan suara cempreng itu mengamati dalam diam. Bagaimana pun tidak ada manusia yang berhati sekelam gulita. Segelap-gelapnya bayangan, bila tak ada cahaya, tak ada bayangan, bukan?

Maka, suatu petang, setelah Ana tertidur dalam lelap. Dia mengambil buku tulis lecek. Membawanya ke kamar. Membuka-buka. Membaca seluruh isinya.


B-ila memang takdirku tak pernah bertemu dengan orang tua kandungku. Aku harus tetap bersyukur.

A-palagi yang aku bisa selain berenang dalam kerinduan. Berselimut terima kasih dalam kesedihan?

I-nilah hidupku. Bersama belasan anak lain sejak aku mulai bisa melihat dan mengingat. Di panti asuhan ini.

K-awan-kawan sepenanggungan. Tertawa tanpa suara dalam tangis tanpa air mata. Kami semua bersama, bukankah itu yang terpenting?

M-aka aku berusaha melakukan yang aku bisa. Melindungi adik-adikku kalo mereka dibentak-bentak bu cempreng. (menyebut namanya aku suka malaaas…. tapi dia pengelola pantinyaaaa….)

A-mbil alih semua hukuman karena terkadang kerjaan yang disuruh bu cempreng itu terlalu berat buat mereka. (Jadinya mereka sering salah dan bu cempreng nggak mau tau kalo dikasih masukan…bingung kan?)

T-api tak mengapa. Aku tak akan menyesal. Bersikap baik itu rasanya luar biasa. Memandang binar bahagia itu rasanya menakjubkan.

A-ndai aku bisa memberitahu bu cempreng kalo mata itu jendela jiwa. Cermin segala rasa. Andai bu cempreng bisa lihat apa yang aku lihat kalo anak-anak itu tertawa. Begitu lepas dan bahagia. Bu cempreng pasti lupa gimana caranya ngebentak.

Udah ah, aku capek. Mau tidur duluuu…

Ini hari terakhir hukuman dari bu cempreng. Nggak boleh makan malem. Harus ngebersihin seluruh kamar di panti sendirian. Kasian anak-anak, kalo mereka ketahuan nolongin aku, pasti dibentak-bentak lagi.

Mataku pengennya merem. Semoga saat terbuka lagi hanya kebaikan dan kebahagiaan yang aku lihat. Aamiiiiin…..

Bu gemuk bersuara cempreng itu menutup mukanya dengan kedua tangan. Merasakan sesak di dada.

Oh Lailaaaa….

jw39

jeniuswriting

menulisitusedekah

virusbahagia

One comment

Comments are closed.