Mau Hidup Lebih Lama? Menulislah!

Belakangan ini, kegiatan menulis semakin diminati masyarakat. Tak hanya mereka yang bergelut di dunia sastra dan bahasa, minat menulis juga merambah ke beragam profesi lainnya, bahkan ibu rumah tangga. Tak hanya orang dewasa, kesempatan menulis di penerbit besar juga terbuka bagi anak-anak. Sekarang, profesi penulis seolah memiliki prestise tersendiri. Orang-orang bangga jika diprofil pribadi akun sosial medianya tertulis indah, profesi: penulis.

Ada banyak alasan yang membuat kita pantas menjadikan menulis sebagai bagian dari aktivitas kita. Menulis itu mengekalkan pengalaman, dan membuat yang biasa tampak istimewa. Setiap kejadian yang kita alami, semua pemandangan yang kita lihat, orang-orang yang kita temui. Hal-hal yang tampaknya biasa kita lihat sehari-hari akan menjadi seni yang indah apabila kita tuturkan dalam tulisan, seolah-olah semuanya baru pertama kali kita lihat.

Menulis akan membuat nama kita hidup lebih lama. Jika secara fisik kita tidak bisa hidup selamanya, bukankah boleh saja jika kenangan kita hidup lebih lama? Karya tulis adalah salah satu cara merealisasikannya.

Dengan menulis, kita memberikan sesuatu untuk dunia. Konsumsi masyarakat dunia saat ini adalah yang terbesar dalam sejarah dunia, baik konsumsi makanan, hiburan, hingga informasi. Menulis bisa menjadikan kita mengurangi konsumsi kita, dan sebaliknya kita “membuat” sesuatu, lalu membaginya pada dunia.

Kita menulis untuk mengikat makna dan memberi makna. V. Frankl, seorang psikiater mengatakan bahwa pencarian utama manusia bukanlah kesenangan atau kebahagiaan, melainkan makna hidup, menulis adalah sarana bagi individu untuk menemukan makna bagi diri sendiri dan membantu orang lain menemukan makna.

Apakah Anda berminat menjadi menulis? Sudahkah Anda mulai menulis? Ada banyak alasan seseorang “belum” juga mulai menulis, sekalipun ia sangat berminat. Salah satu yang sering dijadikan kambing hitam adalah bakat. “Aku nggak bakat nulis, nggak mungkin jadi penulis.” “Pengen banget nulis, tapi. . . bla. . . bla. . . bla. . .”

Bakat merupakan suatu potensi atau kemampuan khusus dan lebih dominan dimiliki seseorang, yang dapat berkembang melalui proses latihan dan pendidikan intensif. Tetapi bakat hanya menyumbang 1% terhadap keberhasilan, sedangkan 99% adalah sumbangan minat, latihan, usaha, kerja keras, dan pengalaman.

Untuk menjadi seorang penulis, sesungguhnya tidak dibutuhkan bakat khusus. Setiap orang, bisa menulis. Apa pun latar belakangnya. Bukankah setiap kita adalah pencerita? Bukankah setiap hari, setiap waktu, misalkan ketika kita ketemu teman, saudara, kakak, adik, orangtua, kita pasti berbincang yang sesungguhnya sebagian besar isinya adalah cerita? Artinya, setiap kita sesungguhnya adalah pencerita. Hanya saja kita ditantang untuk menuangkan cerita kita tidak hanya secara lisan, melainkan tulisan.

Jadikanlah buku ini sebagai warisan yang berarti bagi anak cucu kita. Sebaik-baik warisan adalah ilmu. Ilmu hanya akan kita peroleh salah satunya dengan rajin membaca. Ilmu hanya akan bermanfaat apabila kita amalkan. Orang yang memberikan ilmu baik, orang yang mendengarkan ilmu juga baik, tetapi ada yang lebih baik lagi ialah orang yang mengamalkan ilmunya bagi kebahagiaan orang lain.

Akhir kata, dengan merujuk pada sabda  Rasulullah Saw, “Orang pandai ialah orang yang selalu merendahkan diri dan senantiasa melakukan amal perbuatan untuk dirinya sesudah mati. Sedangkan orang bodoh ialah orang yang selalu memperturutkan kehendak nafsu dan mengharapkan sifat kemurahan Allah yang tidak sesuai dengan kehendaknya.”

Semoga kita yang sudah mengetahui ilmunya ini, dapat bersikap arif, serta memilih untuk menjadi orang pandai yang cinta pada surga. Semoga buku ini menjadi amal saleh bagi penulis untuk bekal pulang menghadap Sang Maha Pencipta.

Penulis berharap pada ampunan Allah jika ada kekurangan dan kesalahan dalam penulisan buku ini, kemudian apabila pembaca yang arif mengetahui kekhilafan, kekurangan, dan kesalahan yang terdapat dalam buku ini, penulis harapkan untuk dapat mengkoreksinya.

Akhirnya, saya ucapkan selamat membaca, semoga setiap kata yang tersaji dapat dinikmati dan diresapi sebagai bahan memotivasi dan pengembangan diri. Jika ada masukan atau saran, saya sangat senang menerimanya dan semoga bisa menjadi mempererat tali silaturahmi. Semoga, Allah Swt menjadikan kita semua pribadi yang tangguh dan selalu semangat untuk menjemput rezeki secara baik. Aamiin.

rumahmedia/deejay