Mawar dan Melati

Mawar dan Melati

Saya mengenal dua orang wanita, yang masa lalunya hampir mirip. Dari keluarga broken home, dari ibu yang tak tahu cara menyayangi anaknya. Ya, kedua wanita itu adalah korban verbal abusing (dan mungkin kekerasan fisik juga) dari ibu mereka sendiri.

Dendamkah mereka pada ibunya? Sepertinya iya. Dari cara mereka bercerita, sepertinya luka itu masih ada. Mungkin memang sayatannya cukup dalam bagi jiwa mereka.

Ini pelajaran juga buat saya, jangan sampai kata-kata kita melukai anak. Karena efeknya bisa begitu dahsyat terbawa hingga dewasa.

Kembali pada dua wanita yang saya ceritakan tadi. Meskipun keduanya sama-sama terluka oleh ibunya, dan mereka sama-sama belum bisa melupakan peristiwa buruk itu, namun ada perbedaan besar dari keduanya.

Wanita yang pertama, sebut saja Mawar, dia masih negatif sekali, getir sikapnya, dan kegetiran itu terbawa dalam hidupnya saat ini. Termasuk dalam mengasuh anak-anaknya. Juga sikapnya kepada orang lain.

Dan itu pengaruhnya besar banget! Akhirnya rumah tangganya pun berantakan, dia pisah tak hanya sekali, tetapi sampai empat kali, dengan lelaki yang berbeda. Dan dia masih terus menyalahkan nasib buruknya kepada ibunya.

Namun berbeda sekali dengan wanita kedua, sebut saja Melati. Meskipun juga keras, cenderung arogan, percaya dirinya kadang over, namun dia cukup berhasil mengalahkan dendam masa lalunya. Saya perhatikan, kini dia tak terlalu sering menyebut ibunya lagi.

Dia berusaha move on. Dia berusaha mengasuh ketiga anaknya dengan baik. Dia hidup rukun dan bahagia dengan suaminya.

Oiya, dari segi finansial pun, kedua wanita itu bagai bumi dan langit. Meskipun keduanya sama-sama tipe pekerja keras, namun aura positif Melati membuat rezekinya lebih melimpah daripada si Mawar yang sering menebar kebencian dalam kesehariannya.

Rezeki itu kan sunatullahnya didapat dengan interaksi antar manusia, ya? Jadi wajarlah kalo yang lebih “padhang” auranya, lebih “jembar” rezekinya.

Saya yakin, keduanya sama, tak ingin apa yang terjadi pada mereka di masa lalu terulang pada keluarga dan anak-anaknya di masa kini.

Nah, yang akhirnya membedakan pencapaian keduanya; dalam keluarga, dalam finansial, dalam hubungan dengan anak, adalah kemampuan memutus rantai dan lingkaran setan dari masa lalunya.

Mengubah dendam menjadi motor penggerak suatu pencapaian. Mengubah energi negatif menjadi energi yang positif.

Tak mudah?
Nyatanya ada yang bisa. Si Melati contohnya.

rumahmediagrup/meikurnia