Mbok e…

Mbok e… Bagian I

“Sateeee….sateee…sateee…”

Setiap pagi perempuan itu sambil menggendong bayi juga selalu diikuti anak lelakinya yang juga masih usia balita, bu Sinem menjajakan sate ayam keliling. Tanpa gerobak tapi hanya dipanggul. Diujung pos desa terkadang beliau berhenti menghabiskan dagangan sate yang biasanya setelah berjalan jauh keliling desa dan masih tersisa.

“Capek yo le kamu, ikut jalan keliling mbok? Makanya tadi kamu harusnya gak usah ikut mbok e keliling, bagusnya tadi mainan saja dirumah sama mbak Nunik, kalau ikut mbok e jualan kamu yo wis mesti capek.”

“Gak apa-apa mbok, Alan memang pengen selalu ikut mbok e jualan sambil bantu jaga adik kalau nanti bangun”. Jawab Alan yang masih berusia 5tahun.

” walah..yowis sak karepmu le… Bocah kok ngeyel, pokoke kalau ikut mbok gak boleh minta jajan terus lhoo”.

“Gak kok mbok, Alan ngerti mboke gak punya duit buat beli jajan, kalau Alan haus biar minum air yang dibotol itu saja”.

Ibu dan anak itu terlihat luar biasa solitnya, kehidupannya sangat sederhana bahkan bisa dikatakan serba kekurangan, tapi rasa nrimo dan syukur yang sering dilihat orang lain pada diri bu Sinem. Dengan beban 5 orang anak yang masih usia sekolah, juga suaminya yang sedang menderita sakit stroke terpaksa bu Sinem harus berusaha keras seorang diri menjadi tulang punggung keluarganya.

Pagi hari beliau keliling berjualan lontong sate ayam hingga siang, sepulang dari jualan itupun langsung disambung kerja sebagai buruh cuci setrika, segala rutinitas dirumahpun beliau kerjakan sendirian saja, sambil merawat suaminya.

Pagi itu gerimis, dirumah kecil yang sangat sederhana nampak ramai orang berkerumun dan berdatangan satu persatu. Ada yang memberikan sedikit sumbangan dan ada yang membawa sedikit beras , suasana haru dan duka menyelimuti rumah keluarga itu, pak Sunarto suami bu Sinem, pagi itu telah meninggal dunia meninggalkan seorang istri dan 5 orang anaknya…

Bersambung….

LellyHapsari/RumahMedia