Melakukan Wawancara Alami

Sumber Gambar: http://www.femina.co.id/

Melakukan Wawancara Alami

Peneliti kualitatif dituntut untuk mampu melakukan wawancara yang alami. Sebenarnya, beberapa orang tanpa latihanpun sudah pernah melakukan wawancara. Namun, seringkali wawancara itu tidak dalam lingkup penelitian/ilmiah. Misalnya, seorang anak menanyakan kepada ibu mereka kapanpun mereka ingin tahu. Seorang murid bertanya kepada guru tentang pelajaran yang tidak ia ketahui. Dan banyak lagi tentang wawancara yang telah kita lakukan. Berarti wawancara dapat dimaknai sebagai pengiriman pesan dan menerima pesan, bertanya dan menjawab. Bentuk komunikasi ini dalam penelitian kualitatif bukan hanya sekedar pertukaran ilmiah dalam sebuah komunikasi.

Sementara itu, wawancara dalam penelitian kualitatif adalah bentuk komunikasi yang akurat, memberikan petunjuk dan syarat informasi yang cukup. Penyampaian pesan tidak hanya menjawab pertanyaan, namun juga memaknai atas jawaban tersebut. Saluran informasi verbal dan non verbal akan tertangkap peneliti dengan jelas, jika terjadi interaksi percakapan atau bisa disebut sebagai komunikasi penuh.

Selanjutnya adalah penafsiran yang bersifat kepekaan insting terhadap situasi yang sebenarnya terjadi. Kemampuan menafsirkan tersebut akan menjadi bagian penting kemampuan peneliti. Penafsiran sosial yang kompleks dan situasi yang sebenarnya menjadi tantangan bagi peneliti kualitatif. Bukan hanya soal menafsiran gambar atau foto, namun memaknainya dengan tepat. Bahkan bahasa non verbal harus bisa dipecahkan oleh peneliti. Menangkap makna dari non verbal tersebut.

Selama proses wawancara, pewawancara (peneiti) dan yang diwawancarai (informan) secara bersamaan memberi dan menerima pesan, melalui komunikasi verbal dan non verbal. Pertukaran ini merupakan bagian dari kesadaran. Masing-masing informan secara sadar hadir dan menghadirkan dirinya. Mereka sengaja untuk mengatakan sesuatu dan memberikan reaksinya sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Tetapi, pada interaksi tertentu, wawancara kadang terjadi tanpa kesengajaan. Bukan tidak diharapkan, namun berlalu alami begitu saja. Tingkah laku yang tidak disadari menjadi bagian dari kejadian alami diantara peneliti dan informan. Misalnya, pada saat diwawancari, informan tiba-tiba mengangkat telepon genggamnya. Suara terekam tidak sengaja, namun memberikan informasi penting. Bahkan karakter informan bisa terlihat secara tidak sengaja. Saat diwawancarai dengan suara yang sopan, tiba-tiba menerima telepon dengan nada tinggi dan kasar. Penampilan sosial informan dapat tertangkap tanpa disadari dan disengaja.

Sewaktu-waktu, bisa saja ditemui informan secara tidak sengaja memberikan informasi di luar dugaan peneliti. Ada bagian jawaban informan yang tidak pantas diceritakan. Atau harusnya menjadi rahasia, namun diceritakan oleh informan tanpa sengaja. Ini bisa saja disebabkan karena intuisi atau pengetahuan lain di luar yang telah direncanakan dalam wawancara. Banyak kesadaran yang didapatkan dari interpretasi pesan yang disampaikan informan.

Kualitas wawancara secara keseluruhan dapat dinilai dari proses yang terjadi dalam wawancara. Misalnya, jika peneliti menghiraukan atau acuh terhadap bagian jawaban yang sensitif dari informan, maka mereka (peneliti) bisa saja memaksa informan untuk berbohong. Agar aman dan jawaban informan tidak menjadi masalah di kemudian hari. Sehingga peneliti merubah pokok permasalahan, tidak merepon dan informan meninggalkan peneliti dengan acuh juga. Harusnya peneliti berhati-hati pada persoalan yang sensitif, agar terjaga hubungan baik dengan informan. Dan pada akhirnya, peneliti kehilangan informan yang berharga.

Namun, berbeda jika peneliti merespon atas petunjuk sensitif yang diperlihatkan informan. Paling tidak, peneliti harus menjadi seorang yang peka dalam menerima pesan, baik verbal maupun non verbal. Bahkan peneliti dapat menarik kembali informan ke bagian pertanyaan yang tidak menyenangkan lain kali. Artinya, peneliti harus bisa melihat situasi dan kondisi saat memberikan pertanyaan. Tafsir sosial ini menjadi penting. Mungkin bisa dikatakan sebagai aturan main tidak tertulis. Kritis terhadap persoalan sensitif.

Peneliti yang sedang beproses sebagai pewawancara harus bernampilan sadar dan reflektif. Berhati-hati dalam melihat dan menafsirkan perkataan informan, serta hal lain yang ditunjukan informan. Penafisiran yang muncul ditunjukan dari isyarat, petunjuk atau pesan yang diberikan informan. Termasuk dalam informasi kesediaannya memberikan informasi. Interaksi nantinya akan terjalin dengan suara hati yang tulus, perasaan, gaya bicara, isyarat latar belakang pendidikan, semuanya ini akan mewakili jika dituliskan dalam transkip nantinya.

Peneliti juga bisa berperan sebagai aktor. Karena menampilkan jalur rutinitas dan gaya yang sewajarnya. Dengan meletakkan semua “baju” yang melekat. Jangan tampilkan bak seorang yang berpengetahuan tinggi. Hal ini akan muncul menggurui bagi informan. Akhirnya tidak alami prosesnya. Ikuti saja aktor lain (informan) sepanjang proses wawancara. Ikuti gaya hidupnya, kebiasaanya, cara pikirnya, dengarkan dengan hati-hati. Jika ingin informan secara terbuka berbicara tentang perasaan dan pandangannya, maka jangan membuat prasangka apapun. Cara terbaik adalah menerima informan dan apapun jawabannya, hindari membuat keputusan tertentu yang membuat informan tidak nyaman, tidak percaya atas tindakan peneliti.

Berbagai penafsiran peran seorang peneliti, maka peneliti harus menyediakan waktunya untuk mendengarkan informan, dari “telinga ketiga”. Ini artinya, banyaklah mendengar dari banyak orang. Dengan cara yang luas, penuh kesadaran dan sikap yang jujur menerima segala informasi tanpa curiga, tanpa menggurui. Penyeimbangkan kepentingan penelitian dengan hati nurani sangat penting untuk dilakukan, agar penelitian berjalan alami dan jujur.

Semoga bermanfaat.

rumahmediagrup/Anita Kristina