MELEK DIGITAL

Merupakan curhatan seorang guru honorer

Guru honorer, itu sebutan untukku saat ini. Gaji sudah sekitar 1 jutaan. Alhamdulillah sejak Januari 2019 pemerintah daerah mewujudkan impian kami, meski belum standar UMKAB. Dahulu gajiku sangat minim. Pertama mendapatkan SK dari kepala sekolah, aku mendapatkan gaji 150.000 rupiah. Aku tetap bersyukur, makan masih ikut orang tua, maka gaji seratus lima puluh ribu kugunakan untuk beli bensin. Itu pun masih ada sisa. Yah, pulsa tak perlu minta orangtua. Pernah mendapatkan ejekan dari seseorang. “Gaji segitu sebulan? Kalah dengan penghasilan tukang becak dong! Ikut aku aja, kerja di perusahaan. Mau?” Aku tersenyum, sedikit perih dan kepedihan hatiku membuatku hanya menerima hantaman itu. Mengapa? Karena dalam benakku sedang berdialog antara kecamuk rasa dan kenyataan yang harus kuhadapi. Namun segera kulupakan. Kutepis rasa ini agar tak mengganggu impianku menjadi guru.


Dalam tulisan ini, bukan hal tersebut yang ingin kusampaikan. Pada masa pandemi semacam ini, para guru tentunya mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan yang kualami. Menyajikan pembelajaran jarak jauh (PJJ), belajar dalam jaringan atau dikenal dengan istilah daring.
Dahulu aku menolak ketika teman-teman guru honorer mengajak untuk bergabung sebagai guru yang mampu melakukan inovasi dalam profesi sebagai guru. Dalam grup tersebut teman-teman melakukan inovasi dalam bentuk meng-upload setiap pembelajaran di kelas melalui media sosial. Sehingga mereka harus belajar banyak hal yang berhubungan dengan informasi digital. Memerlukan dana sudah tentu. Itu sebabnya semua kuhindari.

Sekarang aku menjadi kelabakan. Harus belajar sana-sini, bertanya kepada teman sejawat yang dahulu pernah mengajakku untuk bergabung. Hal ini harus kulakukan meski aku harus pasang wajah melas. Kuhapus seluruh rasa gengsi dan malu untuk melanjutkan usia profesi guru yang baru saja kunikmati.
Sungguh suatu pembelajaran yang berarti bagi kita, bahwa dalam kehidupan harus berani menerjang rintangan seberat apapun pada kondisi yang sedang kita hadapi.

Di awal pembelajaran daring, aku yang hanya memberikan tugas dengan cara memotret halaman buku kemudian memerintahkan siswa-siswi untuk mengerjakan di buku tulisnya. untuk selanjutnya mereka memotret hasil pekerjaannya dikirim di dalam grup WhatsApp bersama orang tua.. Hanya itu satu-satunya jalan yang bisa kulakukan karena kurangnya pengetahuan tentang penggunaan IT alias gaptek.

Dua sampai tiga bulan berjalan PJJ dalam masa pandemi membuatku bisa banyak berbuat, terutama yang berhubungan dengan komunikasi digital. Mau tidak mau harus mengenal komunikasi zoom, karena harus musyawarah dengan wali murid secara jarak jauh. Komunikasi video call dengan banyak siswa melalui WhatsApp. Membuat soal Google form, menyimpan data siswa dalam Google Drive dan sebagainya menjadikan diriku Melek Digital.

Apakah selesai sampai disini? Jawabnya tidak! Aku harus menghadapi siswa yang tidak mengirimkan hasil pekerjaannya. Variatif sekali dasar mengapa siswa-siswi tidak mengirimkan hasil pekerjaannya. Ada yang menyampaikan tidak bisa membuka foto soal, ada yang hanya bertanya ‘ini dikerjakan dengan soalnya ya Bu?’ (pertanyaan usang yang biasa ditanyakan di kelas), ada yang hanya membaca tidak mengerjakan, ada pula yang cukup mengatakan “belum selesai besok ya bu” (darah mulai masuk nih!)

Tidak cukup hal itu yang kuhadapi Insyaallah juga dihadapi oleh guru yang lain. Kami harus melaksanakan tugas tatap muka yang dijadwalkan satu minggu sekali bertemu dengan kelompok-kelompok siswa yang terdiri dari maksimal 5 anak. Ini adalah solusi yang lebih baik bagi para guru. Kelompok-kelompok belajar yang disebut dengan istilah TKB ditempatkan secara musyawarah dengan wali murid di salah satu rumah yang ditunjuk yang representative cukup digunakan belajar untuk maksimal 5 orang secara protokol kesehatan.

Pembelajaran melalui TKB-TKB ini membuat kami para guru bisa bertemu dengan wali murid dengan situasi yang lebih santai. Ini pula yang membuat kami menjadi lebih dekat secara hati ke hati dengan mereka bahkan menjadi wahana untuk membahas tentang permasalahan belajar mereka.

Mereka sangat setuju adanya kebijakan pemerintah terhadap program tatap muka dengan jumlah siswa sedikit ini. Bagi mereka ini mengurangi kegalauan yang melanda para orang tua yang tidak mampu mendampingi putra-putrinya untuk belajar. Bahkan lebih parah orang tua terbiasa pasrah dalam hal pendidikan kepada guru.

Dari sisi guru, menyampaikan dengan cara luring lebih baik, karena kami bisa menyampaikan secara lebih jelas dengan menerangkan secara langsung. Dengan demikian guru bisa menerangkan dengan menulis di papan kecil dilengkapi dengan penggunaan media peraga untuk memperjelas maksud atau makna.

Solusi demi solusi terhadap permasalahan pembelajaran jarak jauh di masa pandemi covid 19 membuat guru honorer semacam saya ini seolah memberikan energi untuk tetap bertahan demi pendidikan berjalan terus dan anak-anak bangsa ini tidak terpuruk dalam mendapatkan ilmu.

3 comments

  1. Ini ada aplikasi vtube yg menghasilkan dolar per 40 hari $12 .dgn syarat nonton sponsor 24 jam hanya 10 sponsor.
    Apakah berminat? Mumpung pendaftaran 100% GRATIS. Agar kami bantu Daftar ke Vtube

Comments are closed.