Melepaskan Mental Korban

Melepaskan Mental Korban

Oleh: Ribka ImaRi

“Mengapa ku yang harus selalu mengalah … tak pernahkah kau berpikir sedikit tentang hatiku?”

Penggalan lagu dari Seventeen di atas pernah merasuk ke jiwaku. Lagu yang dirilis tahun 2008 itu pernah membuat hidupku terasa terpuruk. Karena saat mengingat kata-kata dalam syair lagu itu membuatku perasaanku terasa melow terus.

“Masa aku terus yang harus mengalah? Masa aku terus yang harus minta maaf duluan? Enak saja dia gak pernah minta maaf! Makin ngelunjak dia nanti!” Bisikan-bisikan dipikiranku itu pernah membuatku enggan memulai memperbaiki hubungan dengan pasangan.

“Sudah ada suami, kok tetap aku yang beli gas. Mana pakai motor gigi. Repot deh.” Selalu saja ada bisikan-bisikan yang membuat down. Aku pernah merasa menjadi istri dan ibu yang harus berkorban untuk orang serumah.

Nah ini! Ternyata, ini salah satu hal yang menghalangi hubunganku dengan suami selama ini. Karena aku merasa menjadi pihak yang paling terluka dan paling menderita sedunia.

Dari Mindfulness Parenting (ilmu mengasuh dengan kesadaran jiwa sehat) aku menjadi tahu bahwa mental korban ini juga bagian dari inner child yg terluka semasa kecil. Karena pernah selalu disalahkan dan tindas terus menerus. Jadi merasa lelah untuk memperbaiki keadaan. Sekali-sekali aku ingin sebagai pihak yang dihargai dan disayangi serta tidak dituntut untuk melakukan sesuatu untuk kebahagiaan semua pihak. Akan tetapi biarlah orang lain yang ganti melakukannya dan berkorban untukku.

Dengan berada diposisi korban, aku berharap semua yang ada disekitar bisa memperhatikanku. Padahal, saat diri ini merasa menjadi korban, bisa jadi yang menjadi akulah pelakunya. Pihak lain seperti, suami, orangtua, anak, saudara, sebenarnya juga tersakiti atau direpotkan oleh keadaanku.

Dari Mindfulness Parenting aku belajar MELEPASKAN MENTAL KORBAN, lalu mengubahnya menjadi MENTAL PEJUANG membuatku mampu melepaskan ego diri sendiri lebih dahulu.

Jadi bisa memulai dari diri sendiri untuk meminta maaf lebih dahulu. Bukan demi suami, melainkan demi kedamaian dan kebaikan jiwaku sendiri yang mampu meminta maaf lebih dulu.

Melepaskan mental korban membuatku mampu mengendalikan diri dari emosi lebih dulu meski pasangan, orangtua, saudara, atau siapa pun itu tidak pernah mau berubah.

Akhirnya aku tanamkan dalam pikiran, “Suamiku mau berubah atau tidak, biar itu menjadi urusan dia dengan Tuhan. Hal paling penting adalah akulah yang berubah lebih dulu demi kedamaian jiwaku.”

Maka ketika suami, anak, ortu, saudara, sahabat ngambek, marah, memancing emosinya, aku TERIMA SEMUANYA. Akhirnya, membuatku bisa tetap santai dan tidam terpancing emosi saat menghadapinya.

Aku belajar memahami keadaan bahwa masalah dalam hidupku atau ibu lain sebagai ibu rumah tangga selama ini, pasti berat. Bahkan berat sekali rasanya. Meski intensitasnya berbeda-beda satu sama lain.

Walaupun sering mendengar kata, “Allah tidak akan menguji diluar kemampuan hamba-Nya”. Namun, aku sering merasa tidak mampu dan benar-benar tidak sanggup. Bahkan sekedar hal sepele membeli gas 3 kg memakai motor Supra, buka motor matic yang bisa membantu memudahkan membawa gasnya. Aku pernah merasa nelangsa, merasa repot begini sendirian. Padahal ada suami sudah seatap lagi. Akan tetapi mau gimana lagi. Ini harus aku jalani. Karena aku sedang tidak bisa meminta tolong suami. Sebab suami sedang ada pekerjaaan yang tidak bisa ditinggalkan. Toh, selama ini beliau mau bantu-bantu pekerjaan lainnya. Pikiran positif membuatku bisa fokus memandang kebaikan suami dalam hal lain.

Jadi aku ambil tanggung jawabku. Lalu aku melepaskan mental korbanku. Kemudian aku ganti dengan metal pejuang. Yuk lakukan dengan hati lapang. Demikian afirmasi positifku pada pikiran. Sehingga tindakanku menjadi positif juga, mengikuti pikiran yang sudah positif.

Meski pun pihak lain membuat kesal, aku akan tetap berjuang jalani kehidupanku yang seharusnya. Tidak lagi terpuruk, bersedih dan merasa paling menderita sedunia. Seperti contoh kasus ini, harus membeli gas sendiri meski sudah tidak LDM (Long Distance Marriage).

Pikiran aku ajak untuk berpikir positif, aku afirmasi diriku bahwa pada akhirnya memang keadaan seperti ini harus aku jalani. Sebab penjual gas langgananku sedang tidak ada stok. Jadi aku harus berjuang mencari ke penjual lain. Sementara aku tidak ada nomor telepon penjual lain, jadi aku tidak bisa melakukan pesan antar. Melainkan aku yang langsung membawa tabung kosongnya saat membeli gas.

Aku terima keadaan aku yang harus membeli gas meski sudah seatap dengan suami, tetapi beliau sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda hanya untuk sekedar membantu membeli gas. Hal ini sangat sepele. Namun, tanpa disadari, jiwa mental korban yang merupakan bagian dari inner child-ku pernah membuatku merengek pada suami yang memancing pertengkaran hanya gara-gara hal sepele.

Akan tetapi jiwa dewasaku, akhirnya memilih berjuang dan menerima keadaan hadapi sendirian demi kebutuhan orang serumah terpenuhi.

Sokaraja, 11 Desember 2019.

-Ribka ImaRi-

Sumber foto: domentasi pribadi

rumahmediagroup/ribkaimari