Memutus Lingkaran Setan Trauma Inner Child

Memutus Lingkaran Setan Trauma Inner Child

Oleh: Ribka ImaRi (Penyintas Depresi dan Bipolar)

Dengan SKST (Semangat, Konsisten, Sabar, Telaten) aku bolak-balik mengerahkan PAUSING (jeda sesaat untuk tarik napas dan hembuskan napas supaya tidak otomatis meledak marah) & ACCEPTANCE (menerima keadaan repot luar biasa hadapi anak liburan sekolah).

Selama satu jam berkutat dengan cucian dan anak. Bolak balik menenangkan Jehan yang mini tantrum karena kesal diganggu masnya. Bunda berjuang tetap SKST.

Bolak balik peluk Jehan sebentar sampai tenang dalam keadaan baju bunda yang basah. Beri pengertian ke Tyaga Jehan untuk kembali main yang akur. Bunda tetap tidak menyerah pada TV/HP untuk membuat keduanya kembali anteng saat bunda pamit kembali untuk mencuci kucek bilas dengan tangan.

Alhamdulillah perjuangan SKST tidak sia-sia. Kini, duo TJ kembali asyik bermain bersama dihari pertama libur sekolahnya. Tanpa terluka batinnya secuil pun. Sebab bunda berhasil berjuang selama satu jam tanpa mengomel apalagi memarahi keduanya yang sempat tidak akur.

Demi keduanya punya kenangan masa kecil (IC) yang indah di 10 tahun mendatang. Karena Duo TJ sudah merekam dalam ingatan masa kecilnya. Bahwa sebanyak apapun cucian bunda, perasaan TJ lebih utama untuk ditenangkan. Bukan dengan marah-marah memaksa keduanya mengerti kerepotan bundanya.

Meski ini sangat tidak mudah. Sebab 3 tahun lalu aku masih bolak balik mengamuk. Karena mood swing-ku sebagai penyintas bipolar, pernah terpicu trauma IC-ku. Aku menemukan ada kenangan buruk semasa aku kecil pernah dicubit mama sampai biru lebam akibat bertengkar dengan mas kandung disaat mama sedang mencuci baju dengan kucek bilas tangan.

Benar-benar mirip dengan kejadian saat aku mendampingi TJ. Disnilah kesadaranku tumbuh untuk benar-benar berjuang memutus lingkaran setan trauma IC. Sebab apa yang kujalani saat ini adalah daur ulang IC-ku dulu.

Demi Tyaga kelak jadi ayah dan terutama Jehan sebagai anak perempuan yang kelak akan menjadi ibu. Jangan sampai Jehan merekam IC seperti yang pernah aku rekam pada 30 tahun yang lalu. Agar kelak saat Jehan menjadi ibu pada 20 tahun mendatang, ia tak perlu terseok-seok berjuang sekuat tenaga untuk mengendalikan emosinya ketika terpancing keadaan repot mengurus anak dan mengerjakan pekerjaan domestik. Sebab anak hanya menirulakukan perlakuan orangtuanya kepada anaknya. Anak hanya mendaur ulang pola asuh orangtuanya.

Jadi stop sampai di aku saja. Jangan aku teruskan pola asuh yang sama yang telah kuterima dari mamaku dulu. Aku belajar memaafkan mama karena mama belum punya pengetahuan ilmu pengasuhan apalagi ilmu mengasuh dengan kesadaran tinggi untuk selalu sabar yang diajarkan oleh mindfulness parenting. Dengan cara berdamai dahulu dengan trauma-trauma masa lalu.

Aku yang sudah paham tentang hal ini, berjuang keras untuk memutus lingkaran setan trauma inner child ini. Meski ini sangat tak mudah, aku terus memohon agar Allah memudahkan. Bismillah

Sokaraja, 16 Desember 2019
-Ribka ImaRi-
Penyintas Depresi & Bipolar
Mentor Kelas MIC (Mengasuh Inner Child)
Mentor Kelas SMALP (Seni Mengasuh Anak Laki & Perempuan)
Mentor Kelas Tantrum Anak (KTA)
Bisa dihubungi di wa 085317300183