Memutuskan Kapan Mulai Penelitian

sumber gambar : http;//www.google.com/

Memutuskan Kapan Mulai Penelitian

“Kapan saya harus mulai meneliti bu?” Pertanyaan ini muncul dari mahasiswa bimbingan skripsi saya. Padahal instrumen sudah dibuat dengan benar. Namun masih bingung kapan bisa memulai untuk meneliti.

Biarkan tulisan ini sedikit menjadi petunjuk bagi peneliti pemula. Bukan hanya kesiapan instrumen yang dibutuhkan. Tetapi kesiapan memulai identifikasi ke lapangan perlu juga untuk dilakukan. Maka, saya menyebutnya identifikasi kebutuhan. Peneliti pemula seyogyanya mampu mengidentifkasi kebutuhan atau keperluan apa saja yang dibutuhkan selama proses di lapangan, mengetahui kapan bisa mulai untuk pergi ke lokasi penelitian dan mengumpulkan data.

Tahap pertama, putuskan kapan harus mulai. Apa yang harus dilakukan?

  1. Identifikasi lokasi tujuan. Di sana harus menemui siapa. Pastikan semua informan yang telah diidentifikasi sesuai karakteristik kebutuhan jawaban penelitian. Semua informan yang ditemui memuat maksud dan tujuan penelitian
  2. Prioritaskan dengan mudah sesuai dengan kepentingan tujuan penelitian. Urutkan sesuai peran informan dalam menjawab masalah penelitian. Temui semua informan secara terjadwal.
  3. Identifikasi tanggungjawan dan tugas peneliti, apakah membutuhkan tim? Apakah cukup sendirian? Ini untuk memastikan bahwa kebutuhan terkait merekam suara atau mendokumentasikan data lain yang dibutuhkan.
  4. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Misalnya kelengkapan pedoman wawancara, kamera, alat perekam dan lainnya.

Setelah diidentifikasi kebutuhan dilakukan, maka sederhanakan pola pikir. Buatlah peran peneliti yang lebih sederhana. Jangan membuat rumit. Stay cool. Hal ini juga tergantung pada apakah tanggungjawab peneliti dalam membuat perencanaan penelitian. Seriuslah, namun jangan membuat rumit.

Jangan lupa mengamati semua yang terjadi di lokasi. Karenanya dibutuhkan peneliti yang menyediakan ruang pikiran dan kesabaran untuk banyak mendengar. Catat semua kebutuhan identitas semua informan beserta contact person nya. Mintalah rekomendasi kepada informan yang paling terpercaya beberapa nama dan nomer teleponnya.

Gunakan catatan induk (utama) untuk mencatat nama dan rincian kontak personal yang terlibat dalam pengumpulan data dan analisis nantinya. Kemudian jadikan referensi penting bahwa data dan analisisnya nanti tergantung juga pada kesiapan mereka. Jangan pikirkan jawabannya apa nanti, tetapi pikirkan kapan waktu yang pas untuk mendatangi mereka. Aturlah jadwal dengan bijak.

Tahap selanjutnya adalah mengidentifikasi tujuan penelitian. Buatlah mapping pemikiran tujuan penelitian. Tujuan dijabarkan dalam banyak pertanyaan. Pastikan semua tujuan sudah tertulis dengan benar. Kritisi beberapa tujuan itu dengan beberapa pertanyaan. Misalnya, apa yang harus dicapai? Apa yang diharapkan tercapai? Apa yang dimaksudkan untuk mendatangi informan A? Informan B? Dan seterusnya. Ini artinya bahwa saat peneliti menemui informan, maka peneliti langsung mengetahui tujuan apa yang ingin dicapai dari pertemuan tersebut.

Sering juga terjadi bahwa ketika peneliti menemui salah satu informan, maka di saat itu pula ia lupa apa yang ingin dilakukan. Lupa akan tujuan akhir yang ingin dicapai. Pertemuan berlalu begitu saja. Saat kembali ke rumah, peneliti menuliskan jawaban informan maka bisa jadi jawaban tersebut tidak mendalam. Ada banyak jawaban basa basi dari informan. Dan akhirnya, peneliti harus menemui kembali untuk mendapatkan jawaban kembali.

Idealnya, setiap peneliti memiliki daftar tujuan yang ditetapkan. Dimulai dengan rencana identifikasi awal. Ditinjau kembali dan diperbarui secara berkala. Setiap aktivitas peneliti di lapangan harus berkontribusi pada pencapaian tujuan penelitian.

Secara sederhana, tujuan utama penelitian adalah mengungkap apa-apa yang terjadi di balik fenomena. Arahkan tujuan tersebut dengan upaya dan keseriusan. Namun, biarkan hal-hal yang terjadi di lapangan terjadi secara alamiah. Jangan dipaksa mengikuti tujuan peneliti.

Semoga bermanfaat.

rumahmediagrup/Anita Kristina