Menabung Tidak Mudah

Menabung Tidak Mudah

Sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar, kegiatan menabung sudah diajarkan pihak sekolah. Setiap hari Senin, anak-anak selalu menyodorkan buku tabungannya untuk diisi. Minimal seribu rupiah saja. Akhir tahun ajaran, uang tabungan bisa ditarik oleh siswa. Hati siswa tentu senang bukan.

Menabung, menyisihkan sebagian uang yang kita pegang dalam bentuk tunai itu bukan hal mudah. Kebutuhan rumah tangga banyak, belum lagi harga kebutuhan dapur sulit sekali mendapatkan yang murah. 

Senang pedas, cabe mahal. Telur yang selalu ada di menu harian, sekarang harus diakali dengan mencampurnya pakai tepung bumbu supaya terlihat besar saat di goreng. Itu baru perhitungan uang untuk mengisi perut. 

Kebutuhan sekolah anak, transport, air, listrik, daftar panjang pengeluaran rutin bulanan bisa bikin botak.

Jadi seperti layaknya seorang siswa sekolah dasar yang tidak tahu kebutuhan hidup keluarganya, tetap saja ngotot agar buku tabungannya diisi sang bunda. 

Demi masa depan kita hidup di dunia ini, patutlah kita memaksa sedikit untuk menyisihkan semampunya uang belanja ke tabungan. Dana tersebut bisa sebagai cadangan saat kebutuhan mendesak.

Masih ada lagi yang perlu kita tabung juga. Ya, tabungan untuk akhirat. 

Perbanyak amal sedekah walaupun dilakukan dalam jumlah sedikit tapi rutin dan ikhlas, rasanya lega saat dikerjakan. Jangan memikirkan berapa pahala yang akan diperoleh, itu urusan Allah, kita hanya menjalani saja demi kebaikan.

Kejar dunia dan akhirat melalui tabungan, walaupun itu tidak mudah.

“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu….” (QS  Al-Baqarah: 267)

rumahmediagrup/hadiyatitriono