“Mencintai” Kesenjangan

“Mencintai” Kesenjangan

Dulu saat kuliah, saya pernah mendapat sedikit teori tentang “das sollen dan das sein“. Yang artinya kurang lebih “apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi”. Seringkali kedua hal tersebut tidak sinkron, atau saling bertentangan. Misalnya kita mengharapkan rumah senantiasa bersih dari sampah, namun pada kenyataannya tidak semua anggota keluarga mampu mendisiplinkan diri untuk menjaga kebersihan rumah setiap saat. Sehingga akhirnya timbul kesenjangan. Kesenjangan yang berupa masalah yang harus diselesaikan.

Kesenjangan ini harus kita atasi dengan mengajukan beberapa alternatif solusi. Apakah dengan menyediakan tempat sampah di setiap sudut ruangan? Memberikan penyuluhan dan pelatihan ala rumahan tentang menjaga kebersihan kepada semua angota keluarga, membuat jadwal piket harian, dan sebagainya.

Tapi tenang. Saya tidak akan membahas masalah kebersihan maupun penyuluhan kesehatan. Yang akan kita bahas dalam artikel kali ini adalah tentang mencintai kesenjangan di dalam kehidupan agar kita senantiasa memiliki ide untuk menulis.

Sebagai penulis, kita diharapkan untuk selalu peka dengan apa yang terjadi di sekitar. Terutama saat ingin menulis sesuatu. Tentunya kita harus melihat sebuah kesenjangan yang bertentangan dengan harapan ideal kita agar memperoleh ide untuk menghasilkan sebuah tulisan. Betul?

Bayangkan bila segala sesuatu yang ada di sekitar kita semuanya berjalan dengan baik. Tak pernah ada konflik, semua selalu sesuai dan harmonis. Semua berjalan ideal, sesuai dengan keinginan dan harapan. Tentunya akan terbayang betapa menjemukannya hidup ini. Tanpa gelombang. Datar. Flat.

Bila hal itu benar-benar terjadi, pastinya semua pelaku seni akan mengalami kebuntuan ide, begitu pula para penulis seperti kita. Mau menulis apa jika tak ada kegelisahan, kesedihan, ketakutan, keinginan mencapai sesuatu yang lebih baik, dan sebagainya. Takkan ada yang dapat diekspresikan mau pun diangkat menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati banyak orang.

Otak kita juga bisa membeku karena tak ada rangsangan yang timbul untuk berpikir. Bukankah otak akan terus bekerja selama kita selalu mempergunakannya dalam setiap kegiatan proses berpikir? Bila tiada proses berpikir maka takkan ada sebutan “kritis” lagi.

Saya teringat ucapan seorang penulis kenamaan di negara kita di salah satu workshop kepenulisan bahwa di luar negeri, hasil tulisan yang timbul dari rasa gelisah akibat melihat sebuah kesenjangan ternyata ampuh merangsang timbulnya sebuah aksi revolusi. Aksi revolusi yang api semangatnya bermula terpercik dari sebuah buku hasil tulisan seorang penulis biasa yang tidak terkenal –tapi maaf saya tidak sempat mencatat siapa dan apa judul bukunya– menjadi kobaran api semangat di tengah masyarakat yang kemudian bergerak bersama-sama dan mampu menjadi solusi untuk mengatasi kesenjangan yang terjadi. Baik secara revolusi maupun evolusi.

Maka betapa dahsyatnya pengaruh suatu kesenjangan bagi para penulis yang selalu haus akan ide-ide segar sebagai bahan tulisannya. Asalkan kita mampu dan jeli menangkapnya. Maka sekecil atau seremeh apa pun sebuah ide, ia akan melahirkan sebuah tulisan, lukisan, dan sebagainya. Sebuah karya yang bisa dinikmati oleh banyak orang.

Luar biasa, bukan hikmah dari kesenjangan itu? So, “mencintai” kesenjangan? Siapa takut?

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah