Mencintai Pendahuluan

Sumber gambar ;http;//www.google.com/

Mencintai Pendahuluan

Minggu ini waktu yang cukup berat buat saya. Ada beberapa jadwal menguji skripsi. Yang membuat berat adalah ikutan mikir. Dosen penguji ikut mikir “benarnya” alur cerita yang lagi ujian. Dosen pembimbing ikutan cemas, ikutan bingung kalau mahasiswa bimbingannya lagi ujian. Tapi, bukan ini yang saya mau diskusikan. Bukan tentang perasaan yang campur aduk ini. Ada hal yang menarik untuk dibicarakan dengan sedikit serius.

Apa itu? Sebut saja dia bab 1. Semua orang sebut sebagai bab Pendahuluan. Dalam lembaran bab ini tertulis beberapa hal penting. Karena paragraf-paragraf kalimat yang tertulis disana seharusnya menjadi pintu pembuka.  Ada beberapa ide penting yang disajikan terkait dengan topik skripsi. Terstruktur cara pikir yang mengimajinasi pembaca agar ia tertarik untuk membaca. Atau bahkan menyakinkan dosen penguji bahwa topik yang dituliskan adalah hal penting untuk diteliti.

Tapi apa yang terjadi? Di sebagian ya, ya sebagian besar penulis peneliti pemula ini belum mampu menyajikan pendahuluan dengan “apik”. Mereka sibuk mencari penjelasan yang terlalu umum. Belum bisa membidik topik yang akan diungkap dengan bahasa kritis. Biasanya mereka menyajikan hal-hal umum terlebih dahulu, baru ke topik khususnya. Boleh sich cara ini, tetapi misalnya lingkup penelitian ada di daerah kabupaten tertentu. Kenapa yang diceritakan di paragraf awal adalah tentang dunia? Tentang Indonesia? Asia? Atau lainnya yang sangat jauh dari kata spesifik.

Memang tidak mudah ya menyajikan paragraf spesifik langsung ke topik. Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya muncul menjadi poin kritis adalah bagaimana kontribusi persoalan topik yang diteliti pada keilmuan dan atas empiris lainnya. Nah, hal tersebut juga membutuhkan kerja keras untuk memetakan kontribusi ini. Implikasi logis yang diuraikan di pendahuluan ini harus mendasarkan pada pertanyaan penelitian yang diuraikan, empiris penelitian terdahulu, atau bahkan teori yang ada. Ini yang disebut kebaruan.

Perlu suatu keberanian penulis untuk mengungkap perbedaan apa yang akan diteliti, apa yang diungkap, metode, dan cara pandang yang berbeda dengan beberapa empiris penelitian yang sudah ada. Bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan “tertulisnya bahan” di bab Pendahuluan. Perubahan cara pikir mengedepankan kebutuhan akan nilai-nilai kebaruan dan kontribusi ini, akan dibayar mahal oleh penulis. Kenapa? Karena upaya untuk memenuhi puzzle yang terserak dari sekian banyaknya penelitian sejenis adalah bukan hal yang mudah. Sejatinya, hal ini adalah bagian dari proses. Yakni proses melakukan penyelidikan pendahuluan, sebelum dituliskan dalam bab Pendahuluan. Dan hasil temuan pada penyelidikan pendahuluan ini, akan dituliskan secara kritis di bab Pendahuluan nanti.

Jika penulis sebagai peneliti pemula, maka ia menegaskan pada dirinya sendiri bahwa perubahan cara pikir dan cara tulis pada bab Pendahuluan menjadi “PR” bagi dirinya. Proses ini sebagai suatu dialog. Tanpa terjebak pada keakuan yang egois. Seringkali muncul kesombongan pengetahuan pada penulis saat menuliskan latar belakang atau uraian yang ada di bab Pendahuluan ini. Banyak prasangka yang ia ungkapkan dalam bahasa-bahasa terstruktur. Asumsi-asumsi beserta dugaan yang ia ketahui. Tetapi, banyak dari mereka mengungkapkannya hanya sekedar menulis. Tanpa bahan yang “matang”. Tanpa data pendukung. Parahnya tanpa observasi.

Cerita dalam bab Pendahuluan terkait dengan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian. Ada juga yang menceritakan tentang batasan penelitian di sana. Cerita tentang semuanya itu biasanya juga dibantu oleh sebuah panduan atau pedoman penulisan skripsi. Nah, yang menjadi persoalan adalah penulis bukan saja dihadapkan pada pola pikir yang kritis, tetapi juga mengikuti aturan baku tersebut.

Tiada kebebasan dalam menulis kritis, jika semua terpaku pada aturan baku. Fokus penulisan hanya pada kekakuan aturan saja. Penulis terjebak pada template-template yang ada dalam buku panduan. Sebenarnya adanya buku panduan tersebut bisa dimaknai sebagai alat intervensi, tetapi merupakan cara lembut. Meskipun panduan dibutuhkan, tetapi tidaklah secara kaku untuk diikuti. Misalnya, Bab 1 biasanya tertulis Pendahuluan, bisa juga ditulis langsung pada topik masalah. Bab Tinjauan Pustaka, bisa saja ditulis Bab Diskusi Teorinya. Bab Kesimpulan, bisa saja kog ditulis Pemberhentian Penelitian. Dan lainnya.

Kesadaran berpikir kritis akan membangkitkan pendahuluan secara utuh. Energi yang diberikan adalah kesungguhan dalam mengungkapkan apa yang ada dalam tiap sub bab yang ada. Yaitu apa yang melatarbelakangi? Apa yang menjadi rumusan masalah? Apa yang menjadi tujuan penelitian? Manfaat apa yang didapatkan dari hasil penelitiannya kelak? Uraian kritis pada sub bab ini dilakukan secara terstruktur, bebas dan dibutuhkan data pendukungnya.

Pembangkit kesadaran tersebut salah satunya adalah mencintai pendahuluan itu sendiri. Kesadaran yang tumbuh karena cinta, maka akan berbeda hasilnya. Hal yang pertama dilakukan penulis adalah menumbuhkan kesadaran bahwa mengungkapkan hal yang mendasar di bab Pendahuluan menjadi fokus terpenting dari proposal yang ia ajukan. Sehingga harus dituliskan dengan emosi yang menjiwai. Membangun dialog empiris, menjamin apa yang dituliskan adalah sebuah kebenaran, menggunakan ide-ide yang mengalir dan diambil dari hasil observasi. Yang paling penting, penulis mengintervensi dirinya untuk berpikir rasional, kritis, menggunakan rasa instuisi, spritualitas yang dijabarkan pada tiap-tiap kalimat. Mengungkapkan intervensi atas dirinya ini pada tulisan-tulisan yang bernilai. Yakinlah, intervensi ini adalah hak milikmu, bukan buku panduan, bukan juga dosen pembimbingmu. Berdialoglah dengan banyak teori, bersandinglah diskusi dengan dosen pembimbingmu. Cintailah Pendahuluan dengan banyak intervensi pada dirimu.

Selamat menulis. Semoga bermanfaat.

rumahmediagrup/Anita Kristina