Menelusuri Jalan Pikir H.O.S Tjokroaminoto (2): Refleksi Kisah dan Pemikiran

Sumber gambar : http;//www.wikipedia.com

Menelusuri Jalan Pikir H.O.S Tjokroaminoto (2): Refleksi Kisah dan Pemikiran

Tulisan ini adalah naskah banding atas buku Syarah Sejarah Pemikiran H.O.S Tjokroaminoto. Para penulis menyuguhkan syarah pemikiran pak Tjokro, diawali dengan sebuah refleksi. Refleksi ini dituliskan sebagai sebuah pengantar. Kontruksi berpikir pembaca diarahkan untuk memahami dahulu tentang “lahirnya” pemikiran mereka. Sebuah pemikiran yang terbentuk dari bagaimana ia dibesarkan dalam sebuah keluarga, bagaimana keluarga dan lingkungan penulis mampu membentuk pemikiran mereka. Sebenarnya, menurut saya “kemauan“ bab 1 ini adalah sebagai pengantar mengapa para penulis harus “ada” dan menuntut penulis untuk menafsirkan pemikiran pak Tjokro sesuai dengan pemikiran yang terbentuk dari lingkungan mereka (salah satunya adalah keluarga). Namun, refleksi yang dituliskan penulis, hanya sebatas pembentuk cara pikir yang berasal dari lingkungan keluarga, sekolah, komunitas/organisasi. Saya pikir refleksi ini belum selesai, karena hanya menceritakan masa lalu dan berhenti saat tergabung dalam organisasi rumah Peneleh. Bukankah cara pikir tidak hanya hadir dan tumbuh dalam keikutsertaan sebuah organisasi? Mungkin penulis dapat menceritakan perilaku apa saja yang telah dilakukan, dengan nilai-nilai keyakinan yang terbentuk di masa lalu dan lingkungannya sekarang.  Dengan atau tanpa ikut serta dengan Peneleh. Mungkin akan berbeda hasilnya jika di antara mereka tidak tergabung dalam Peneleh.

Menurut penelitian, ditemukan bahwa cara pikir seseorang ditentukan oleh 50% gen dan 50% sisanya oleh lingkungan. Tetapi temuan ini sudah tidak relevan lagi. Bukti empiris menyatakan bahwa sistem otak berhubungan langsung dengan kepribadian  (Gale, 1983). Begitu juga pak Tjokro, cerminan pemikiran kebangsaan yang beliau miliki adalah bagian dari masa lalu yang membentuk kecerdasan. Ketika dewasa, pak Tjokro tumbuh menjadi sosok yang terbentuk di masa kecilnya. Lalu, terbentuk oleh kepribadian beliau.

Karakter pribadi pak Tjokro yang kekal terbentuk oleh genetik dan lingkungan. Karakter kekal ini dimaknai sebagai karakter yang tidak banyak berubah, yang dimulai dari masa anak-anak, sampai dewasa. Sampai penulis mengkaitkan gunung Krakatau meletus saat pak Tjokro lahir dengan mitos bahwa siapa saja yang lahir saat bencana alam, maka akan melahirkan tokoh pembaharu. Tetapi, ada ketidaksamaan tahun lahir yang disebutkan para penulis. Kejadian meletusnya Krakatau tahun 1983, tahun lahir pak Tjokro? kebenaran ini tidak bisa diterima begitu saja. Sehingga harusnya kebenaran atas hal ini dikembalikan lagi pada pembaca, untuk percaya pada mitos atau tidak, kebenaran tahun lahir dipastikan terdahulu oleh penulis. Hal ini agar tidak membawa pada informasi yang tidak benar.

Penelusuran kepribadian yang bersifat kekal ini dimulai dari perubahan yang terjadi dan kesamaan-kesamaan atas apa yang terjadi. Nah, salah satu kepribadian kekal pak Tjokro yang tidak hilang adalah tentang Islam. Penulis menceritakan bahwa bukannya pak Tjokro itu adalah orangtuanya adalah seorang Priyayi dan keturunan santri. Begitu pula gaya “nakal” yang ditunjukkan pak Tjokro ini menandai bahwa karakter kritis sudah muncul di masa anak-anak. Gail Sheely (dalam dutton, 1976 yang dituliskan kembali Farid Poniman) membahas tentang pengaruh tahapan kehidupan seseorang terhadap perkembangan kepribadiannya. Kritis yang dimiliki, keturunan santri dan priyayi membentuk cara pikir dan kepribadian pak Tjokro. Sudut pandang ini hanya di bahas peneliti sebatas “telling”, belum menembus batas dalam sudut pandang yang lain. Karena lebih menarik kontruksi pemikiran pak Tjokro ternyata bukan hanya disebabkan karena lingkungan, namun juga kepribadian yang terbentuk oleh lingkungannya dulu. Kepribadian tidak bisa diubah oleh waktu, tidak berubah-ubah. Ada kepribadian yang kekal, terutama dikaitkan dengan konstruk yang berada di atas sifat, hal ini disebut dengan karakter kepribadian. Respon alam bawah sadar secara alami melekat pada kepribadian seseorang. Apa yang dia lihat, didengar, dirasakan akan melekat secara alami pada dirinya.

Meskipun demikian, konflik-konflik batiniah yang di alami oleh Pak Tjokro dengan pilihan-pilihan keberaniannya belum di bahas oleh penulis. Banyak yang diceritakan dari “luar” pak Tjokro. Saya belum menemukan konflik batin apa yang dirasakan beliau. Karena menurut Sigmund Freud bahwa yang mendominasi perilaku manusia adalah konflik-konflik bawah sadar, meskipun Marston mengungkapkan juga bahwa kombinasi konflik dan psikologi seseorang akan membentuk pribadi. Fungsi dasar kepribadian manusia terbentuk oleh fungsi pikiran, perasaan, instuisi, dan penginderaan. Beberapa fungsi ini, penulis hanya menceritakan dari sisi fungsi pikiran dan penginderaan pak Tjokro (konflik atas apa yang dia lihat dan rasakan). Belum pada konflik pada pikirannya sendiri. Konflik “diri” yang ia dialogkan dengan dirinya. Seperti konflik, keberdayaan apa yang ia haruskan?, tidak hanya apa yang ia lihat saja. Hal ini mungkin dikarenakan penulis hanya melihat dari sudut pandang referensi yang ia baca dan gunakan.

Sebenarnya, tidaklah aneh jika pak Tjokro tumbuh menjadi sosok bapak Bangsa. Karena beliau memiliki karakter kepribadian kekal yang sangat kuat. Dan cara pikir beliau sudah terbiasa dengan menggunakan kuadran otak yang sering digunakan. Teori Ned Herrman mengatakan bahwa karakter kekal yang kuat telah terbentuk pada otak mana yang sering ia gunakan. Apakah otak kiri? Ini merupakan kecerdasan sekaligus karakter kepribadian berpikir (thinking), atau otak kanan? Ini merupakan kecerdasan dan kepribadian intuiting. Atau bahkan otak bawah kiri yang menjelaskan kecerdasan sensing, atau juga kecerdasan feeling (otak kanan bawah). Kemungkinan pak Tjokro menggunakan otak yang sering ia gunakan, dan ini berdampak pada perilaku berpikir beliau. Tetapi ini tidak ada hubungannya dengan tingkat IQ seseorang. Hanya berhubungan antara kecerdasan dengan belahan otak mana yang sering digunakan dalam berpikir.

Kecenderungan dasar pada kepribadian dan kecerdasan diwariskan, dibentuk oleh pengalaman. Kemampuan ini diperoleh melalui observasi. Begitu juga sikap kritis pak Tjokro muncul ketika beliau mengamati saat sekolah di OSVIA, beliau melihat kenapa hanya anak bangsawan yang sekolah, sedangkan pribumi tidak. Kenapa harus bekerja kepada Belanda setelah lulus, bukankah pendidikan ini hanya menguntungkan orang Belanda? Bagaimana dengan orang pribumi?,..seperti yang dituliskan oleh penulis. Tetapi penulis tidak menceritakan bagaimana lingkungan di OSVIA secara lengkap. Bukan hanya soal siapa yang sekolah di situ, tetapi apa saja pelajaran yang pak Tjokro dapatkan. Teman sekolahnya siapa? Belum tentu semua anak Belanda yang sekolah di situ memiliki pemikiran yang berbeda dengan Pak Tjokro, atau bahkan pak Tjokro memiliki sahabat di sekolah itu. Mengapa demikian? Karena karakter bisa terbentuk dari adaptasi. Hubungan interaksi pak Tjokro dengan lingkungan di sekolah ataupun lingkungan lainnya akan mempengaruhi terbentuknya adaptasi kepribadian. Faktor kemampuan, kebiasaan, sikap dan hubungan diperlukan sebagai hasil dari interaksi individu dengan lingkungan. Meskipun apa yang pak Tjokro lihat muncul banyak pertanyaan bagi dirinya sudah terungkap, namun lebih menarik lagi jika juga diungkapkan dengan siapa saja pak Tjokro berinteraksi di sana.

Tapi dikisahkan pula dalam buku ini, bahwa Pak Tjokro pernah tidak mengikuti tradisi dengan bekerja dengan Belanda, beliau mengundurkan diri dari pekerjaan juru tulis milik Belanda. Kemudian beliau menghilang dari Madiun. Tetapi alasan yang dikemukakan oleh penulis diantaranya karena pak Tjokro tidak mau jadi pesuruh di negerinya sendiri, apakah memang demikian?, menurut saya beliau keluar dari pekerjaan itu bukan hanya karena ikut perusahaan Belanda, tetapi memang pekerjaan juru tulis bagi tipe kecerdasan pak Tjokro sangat menyiksa. Persoalan ini bukan hanya persoalan kecintaan terhadap tanah air, tetapi juga ketidaksesuain kecerdasan yang dimiliki dengan pekerjaan. Buktinya pak Tjokro bersekolah lagi dibidang Teknik, jurusan teknik mesin, bekerja di perusahaan dagang, kemudian pindah di perusahaan gula. Penulis tidak memberikan keterangan apakah pabrik gula ini milik pribumi atau Belanda? Perubahan atas keputusan-keputusan tersebut belum dijelaskan oleh penulis, apakah hanya persoalan kejenuhan? Persoalan kepemilikan usaha? Atau jangan-jangan ada hal lainnya.

Penelusuran syarah pada bab-bab buku ini dituliskan dengan menurut syarah masing-masing orang. Hal ini menjadi terkotak-kotak. Kelihatan ada bagian yang terpotong. Mengapa tidak dibuat sub bab judul yang menggambarkan syarah? Atau dibuat lebih menarik tulisan-tulisan judul dari masing-masing penulis? Tapi hal ini mungkin kesesuaian selera dari saya sebagai pembaca.

Semoga bermanfaat

Referensi:

Tulisan ini adalah naskah banding pada buku Syarah Sejarah H.O.S Tjokroaminoto yang telah saya sampaikan pada Maret 2020.

George Vallant, 1977. Adaptation to life. New York.

Howard Gardner. 1993. Frame of Mind: The Theory of Multiple Intelengence. Basic Book: New York.

Palil, Nafik. 2015. Menyiapkan Ananda Menjadi Sang Juara Kehidupan. The Naff Publishing: Sidoarjo.

Poniman, Farid. 2010. Stifin Personality, Mengenali Cetak Biru Hidup Anda. PT. Stifin Fingerprint. Jakarta.

rumahmediagrup/Anita Kristina