Menelusuri Jalan Pikir H.O.S Tjokroaminoto (3): Fokus Pada Ideologi dan Kebangsaan

Sumber gambar :http;//www.wikipedia/com

Menelusuri Jalan Pikir H.O.S Tjokroaminoto (3): Fokus Pada Ideologi dan Kebangsaan

Pada usia berapa pak Tjokro mengambil keputusan untuk menuliskan tentang Islam dan sosialisme, tentang Memeriksai Alam Kebenaran?  Usia berapa beliau “bergerak” ?

Pertanyaan tersebut menjadi penting, kenapa? Karena pada usia ke tujuh yang kedua (masa remaja) relatif pada usia ini seseorang melalui tahapan memilih “jalan”. Maka saat pak Tjokro sekolah dipastikan dimulainya “jalan” yang ia pilih terbentuk. Tahapan ini mulai tumbuh dalam dirinya kehendak dan perasaan yang mengikat. Apa yang ia lihat, dan ia rasakan mengikat pada perkembangan ego yang semakin matang. Keegoan pak Tjokro ditunjukkan dengan pilihan preferensinya yang tidak menyukai “keadaan” tertentu di mana yang sekolah hanya anak-anak Belanda, dan pertanyaan kegelisahan lainnya. Orientasi pemikiran pak Tjokro yang cenderung berbeda ini, menuju ke arah kematangan berpikir. Fokus ideologi yang kuat dan kebangsaan yang dimiliki beliau kemungkinan terbentuk di usia ini dan saat bersekolah. Bahkan fokus ini dimulai sejak pak Tjokro kecil, karena ahli mengatakan bahwa usia 7 tahun pertama adalah masa mencari identitas diri, interaksi dengan yang lain ditandai dengan kemitraan ikatan emosional, leluasa dan kebebasan menjadi ekspresi.

Penulis hanya menceritakan isi buku pak Tjokro dan membahas kajian yang dituliskan Beliau. Tetapi disayangkan tafsir atas kajian dan isi buku belum nampak jelas diceritakan. Begitu juga terbentuklah keinginan pak Tjokro masuk dalam beberapa organisasi Islam. Tapi belum di tafsirkan apakah kajian yang ia tulis dan masuk organisasi islam saling mempengaruhi pemikiran beliau. Masih diceritakan secara terpisah. Memang diakui bahwa pak Tjokro adalah desain peradaban yang sempurna.

Perlu diketahui bahwa kesempurnaan yang ditunjukkan pak Tjokro memuat rasional, kestabilan, perasaan dan eksperimen yang lengkap telah dimiliki pak Tjokro. Melalui berbagai kajian yang ia lakukan, pengusaan atas kajian tersebut di usia pak Tjokro 30 tahunan. Dan juga disebutkan oleh penulis bahwa pak Tjokro pernah memberikan kursus dengan materi tentang islam dan sosialisme.

Sesuai dengan siklus perkembangan karakter, maka usia 30 tahunan masuk dalam dewasa awal. Siklus ini memiliki ciri unjuk gigi (30 tahun), pencapaian (31 tahun), ketokohan (32 tahun), penajaman berpikir (33 tahun), kualitas berpikir (34 tahun), ekstensifikasi (35 tahun), keselarasan hidup (36 tahun), pengkaderan (37 tahun), dan peran bintang (38 tahun), hal ini berdasarkan tulisan Farid Poniman (2010). Jika melihat siklus ini maka pak Tjokro berada pada kesempurnaan. Perkembangan siklus ini tergantung pada mesin kecerdasan yang telah terbentuk sebelumnya. Nah, demikian bisa menjadi petunjuk bahwa kecerdasan pak Tjokro membentuk siklus yang sempurna.

Penggarapan bakat yang dimiliki pak Tjokro berada pada fokus ideologi (agama) dan berpikir sosialis dan juga kebangsaan.  Lalu usia berapa seseorang dapat membangun peradaban? Ternyata seseorang dapat membangun peradaban dimulai di usia 15-21 tahun (diadopsi dari American Acadeny of Child and Adolescent’s Facts for Families, dituliskan oleh Nafik, 2015). Peradaban yang dimaksud adalah mampu memikirkan ide secara sungguh-sungguh, memikirkan masa depan, merenungkan pengalaman batin yang ia temui. Nah, ciri ini ada pada pak Tjokro. Namun konsistensi berpikir akan sangat membantu terbentuknya kecerdasan yang fokus pada sebuah peradaban. Sebenarnya, beruntung pak Tjokro dapat bersekolah, dan memiliki kebebasan berpikir, memiliki keluarga priyayi dan kyai. Memaknai apa-apa yang terjadi secara utuh membutuhkan proses, perjuangan pak Tjokro digambarkan dengan jelas dalam buku ini.

Mengapa habitat penting membentuk kecerdasan?, bahkan pak Tjokro mampu menuliskan buku Memeriksai Alam Kebenaran, yang maknanya sangat mendalam. Di usia berapa ya beliau nulis ini? Tidak disebutkan secara jelas oleh penulis, hanya di bacakan saat kongres JongIslamitenbond yang ke IV di tahun 1928. Jadi diperkirakan usia beliau 45 tahun.

Jika benar buku yang hebat tersebut dibuat di usia 45 tahun, maka berdasarkan perkembangan siklus usia, Pak Tjokro berada pada siklus kontribusi besar. Woww…luar biasa…MasyaAllah…Allahu Akbar….kalaupun benar begitu, maka sangat luar biasa perjalanan kecerdasan pak Tjokro ini. Tokoh kebangsaan yang muncul di awal siklus “kontribusi besar”. Dan siklus selanjutnya adalah Kecanggihan berpikir (usia 46 tahun). Pada sekitar usia ini juga, penulis menceritakan pak Tjokro mendelegasikan kepada anaknya terkait organisasi dan ideologi ini, bergesernya usia disekitar 47 tahun adalah siklus pendelegasian. Sekali lagi saya sangat kagum, bisa begitu sempurna perjalanan siklus kecerdasan pak Tjokro.

Tafsir yang dilakukan terkait buku pak Tjokro ini hanya apa yang melatar belakangi Beliau menulis ini. Yakni perenungan yang mendalam terhadap kondisi yang menimpanya, organisasinya, kegelisahan yang ia alami. Tetapi apakah cukup hanya melihat bahwa yang dialami pak Tjokro sama dengan yang dilakukan Rosullah saat berada di gua hira? Apakah benar begitu? Dan bahkan ada buku yang  beliau tulis berdasarkan mimpi yang didikte oleh Rosullallah. Tapi disayangkan, penyajian tafsir antar penulis hampir sama isinya. Apakah memang demikian, atau pengayaan referensi yang kurang? Seandainya masing-masing memiliki tafsir dari sudut pandang yang berbeda, saya membayangkan buku tersebut lebih menarik untuk di baca. Sedikit membosankan jika disajikan hampir mirip isinya. Tapi ini selera saja ya. Tidak menutup kemungkinan pembaca lain tidak merasakan kejenuhan membaca.

Jadi demikian, intan mesin kecerdasan yang terbangun dan dibangun oleh pak Tjokro dibuat sebersinar apa? Kecerdasan potensial yang dimiliki pak Tjokro memiliki benih yang tersembunyi, beruntung Beliau mampu dan bertemu dengan banyak “kejadian” yang justru mengasah bersinarnya intan kecerdasan yang Beliau miliki. Terjadi sinergi yang alami antara bibit “manusia”, kecerdasan, kepribadian dan habitat di mana ia tumbuh.

Referensi :

George Vallant, 1977. Adaptation to life. New York.

Howard Gardner. 1993. Frame of Mind: The Theory of Multiple Intelengence. Basic Book: New York.

Palil, Nafik. 2015. Menyiapkan Ananda Menjadi Sang Juara Kehidupan. The Naff Publishing: Sidoarjo.

Poniman, Farid. 2010. Stifin Personality, Mengenali Cetak Biru Hidup Anda. PT. Stifin Fingerprint. Jakarta.

Tulisan ini adalah naskah banding pada buku Syarah Sejarah H.O.S Tjokroaminoto yang telah saya sampaikan pada Maret 2020.

rumahmediagrup/Anita Kristina