Menelusuri Jalan Pikir H.O.S Tjokroaminoto (Penutup) : Menuju Kecerdasan Kebangsaan Selanjutnya

Sumber gambar : http;//www.wikipedia.com

Menelusuri Jalan Pikir H.O.S Tjokroaminoto (Penutup) : Menuju Kecerdasan Kebangsaan Selanjutnya

Setiap orang akan hidup pada masanya. Begitu juga kisah perjalanan pemikiran bapak bangsa Tjokroaminoto ini akan hidup pada masanya. Namun, setidaknya kita bisa belajar dari sebuah kisah ini. Bukan hanya itu, hikmah dari tiap pelajaran yang disuguhkan dapat menjadi inspirasi dalam kehidupan berkebangsaan.

Lalu, bukankah setiap jengkal pengalaman yang kita punyai akan kita torehkan dalam kisah lain, maka belajar dari kisah guru besar akan menciptakan kecerdasan kebangsaan pada generasi selanjutnya.

Bukankah juga pak Tjokro juga mewariskan banyak kebaikan, nilai dan cara pikir. Namun, penulis hanya masih menceritakan konflik organisasi, dan sedikit sekali dalam menafsirkan wasiat pedoman umat yang dibuat pak Tjokro. Isi wasiatnya apa? Meskipun disebutkan sedikit konsep urusan kunst (kepandaian dalam membikin-bikin dan mengarang karang), urusan religie (keagamaan), dan urusan filosofi. Belum diulas secara mendalam terkait warisan ini. Landasan religiusitas keagamaan? Apakah benar begitu?

Apapun warisan pak Tjokro, ada hal penting untuk dilakukan selanjutnya. Yakni menumbuhkan kecintaan dan ideologi kebangsaan, berperilaku cerdas berkepribadian yang kuat, dan memiliki kebebasan memilih untuk bersikap hanya untuk kepentingan umat.

Tumbuhnya kebangsaan mungkin dapat dimulai dari kepemimpinan diri. Mesin kecerdasan memiliki arah atas kepemimpinan diri, membentuk tipe transaksional, organisator, transformasional, demokratis, ataupun altrulistis. Masing-masing tipe ini berada pada tipe kecerdasan yang berbeda. Dimana letak kecerdasan kepemimpinan kita? Ataupun menumbuhkan kepribadian yang kuat.

Inspirasi dari keseluruhan buku ini adalah berbuat baiklah, terbaik, lakukan sesuatu untuk negeri. “Senjata” keberhasilan pak Tjokro adalah terbaik untuk diteladani. Yakni kepribadian dan mesin kecerdasan yang luar biasa. Berada pada habitat yang tepat. Kesemuanya akan membentuk pola pikir, nilai, dan perilaku.

Dan hal yang terpenting untuk dimaknai terkait kecerdasan adalah bahwa manusia memiliki kecerdasan tunggal, bukan majemuk. Cara kerja otak mendominasi kecerdasan yang muncul. Kecerdasan inilah yang menjadi “karpet merah” dan “senjata” keberhasilan. Semua orang memiliki kecerdasan fitrah dari Tuhan, ada cetak biru yang harus dihargai sebagai pemberian Tuhan. Syukuri apa yang telah diberikan Tuhan melalui menumbuhkan kecerdasan yang hakiki.

Mungkin dulu, kebangsaan dibentuk oleh ikatan keluarga, kesukuan, loyalitas ideologi, kesamaan rasa dan sejarah, sikap keagamaan dan toleransi. Tetapi, sekarang wujudkan kebangsaan yang bercirikan “memanusiakan manusia”, berperan secara fitrah, berdiri kokoh dalam dimensi globalisasi dan kemayaan, ikatan penguatan nilai. Demikian, maka mari kita bersama-sama membentuk kebangsaan dengan menjadi pribadi yang berkarakter religius, multikultural, berkeadilan, serta berbudi.

Hidupkan jejak H.O.S Tjokroaminoto, namun dalam bingkai diri (kefitrahaan kecerdasan) sendiri. Bismillah…..

Referensi

Tulisan ini adalah naskah banding pada buku Syarah Sejarah H.O.S Tjokroaminoto yang telah saya sampaikan pada Maret 2020.

George Vallant, 1977. Adaptation to life. New York.

Howard Gardner. 1993. Frame of Mind: The Theory of Multiple Intelengence. Basic Book: New York.

Palil, Nafik. 2015. Menyiapkan Ananda Menjadi Sang Juara Kehidupan. The Naff Publishing: Sidoarjo.

Poniman, Farid. 2010. Stifin Personality, Mengenali Cetak Biru Hidup Anda. PT. Stifin Fingerprint. Jakarta.