Menerima Keadaan Saat Anak Sakit

Menerima Keadaan Saat Anak Sakit

Oleh: Ribka ImaRi

26 April 2018

Hampir menetes air mata ini, maafkan bunda ya, Nak. Karena bunda salah meletakkan botol infus saat memakaikan celana mas sehabis buang air kecil tadi. Darah mas jadi naik sehingga selang infus harus dikorek-korek lagi oleh suster tadi.

Pada titik ini, bunda bersyukur sudah belajar untuk tidak menyalahkan diri sendiri. Bunda sudah banyak memaafkan diri sendiri. Jadi bisa banyak meminta maaf kepada mas dan dede. Namun bunda tidak ingin lagi menyalahkan, apa, siapa dan keadaan.

Bunda percaya semua pasti atas kehendak Allah Swt. Walaupun Allah Swt pernah memberi bunda sebuah gangguan bernama OCD (Obsessive Compulsive Disorder) Perfeksionis. Selama 6 tahun bunda berjuang menjaga kesehatanmu Nak. Sungguh tak mudah. Bunda jatuh bangun menghadapi sakitmu yang berkali-kali lolos tanpa harus rawat inap.

Namun, seberapa kuat bunda menjagamu selama 6 tahun tanpa opname. Pada akhirnya Allah Swt jugalah yang izinkan bunda mengalami hal yang sama dengan para ibu seperjuangan lain yang sudah terlebih dulu mengalaminya. Harus menyerah saat dokter bilang “mondok alias opname.” Karena trombositmu hanya tinggal 80.000 saja. Padahal minimal harus di angka 150.000.

Tak dapat dihindari lagi. Kita harus menghadapinya, Nak. Bunda hanya bisa pasrah dengan mengucap bismillahirahmairrahim. Bunda percaya, ini tandanya Allah Swt tahu bahwa bunda sudah siap hadapi ini semua. Allah tahu bunda sudah kuat mental

Terlalu banyak yang bunda syukuri. Ketika mengalami kejadian mas harus diopname, usiamu sudah 6 tahun. Bunda bersyukur, kita sudah siap secara mental. Bunda pun telah selesai dengan trauma masa lalu yang biasanya terpicu dengan kata “opname”.

Dulu, tahun 1991 sewaktu bunda masih berusia 11 tahun, mas kandungnya bunda (pakdemu) pernah diopname selama 40 hari di RS Atmajaya, Jakarta. Hingga akhirnya meninggal di usia yang masih sangat muda, yaitu 13 usia tahun. Trauma ini begitu membayangi menjadi momok mengerikan bahkan sekadar kata “sakit.”

Hampir 2 tahun mengenal MINDFULNESS PARENTING (mengasuh anak dengan kesadaran) sejak tahun 2016, menjadi salah satu fokus bunda untuk sadar “menyelesaikan” trauma yang bersemayam di jiwa selama 27 tahun lamanya. Trauma itu menghadirkan ketakutan kronis ketika anak bunda sakit. Jadi bunda belajar mengatasi ketakutan akibat trauma tersebut. Karena bunda yakin suatu saat nanti, meski siap tidak siap, mau tidak mau, tetap harus menghadapinya.

Maka, ketika DSA menulis rujukan opname siang kemarin, akhirnya bunda benar-benar sadar untuk merasa siap. Alhamdulillah sudah bisa tenang, tidak terkena serangan panik bahkan tidak ada sensasi stres terpicu. Begitupun dengan ayahmu.

Meski kesehatan fisik bunda sedang menurun karena sakit juga. Pun harus merawat Jehan yang didiagnosa sakit gejala tipus. Meski sempet terpancing marah. Sebagai penyintas bipolar, dorongan ingin mengamuk karena kelelahan fisik karena sudah 5 malam begadang ditambah harus menghadapi kenyataan mas Tyaga harus bolak balik diinfus sampai lima kali jarum infus baru berhasil di infus. Astagfirullahaldzim…

Alhamdulillah … alhamdulillah … bisa segera mindful. Bisa kembali menyadarkan diri bunda untuk mengerti penderitaan mas Tyaga. Keadaan nyeri, sakit dan berkali-kali ditusuk jarum infus yang gagal lagi dan gagal lagi. Jarumnya bengkok berkali-kali karena mas Tyaga tegang, meronta dan menangis.

Sampai akhirmya, Allah SWT memampukan bunda membimbing mas Tyaga yang baru berusia 6 tahun 1 bulan untuk pasrah dan berserah. Bunda dudukkan dipangkuan. Lalu bunda peluk hangat dan erat dari belakang. Berkali bunda meminta maaf karena sempat bernada tinggi dan kasar (sempat mencengkeram pergelangan tangan mas Tyaga) karena lima jam di UGD itu sangat melelahkan. Bunda ingin secepatnya pindah ke kamar rawar inap yang baru diperbolehkan setelah infus berhasil dipasang.

Empat kali gagal lagi, gagal lagi, saat jarum infus dicoba pasang. Yang kelima justru semakin sulit keadaannya. Karena mas Tyaga sudah merekam rasa sakit jarum infus, membuatnya semakin menolak. Bunda hampir menyerah. Bunda hampir marah lagi. Buru-buru mindful, tersadar untuk mentransfer energi positif ke tyaga.

Berupa eergi berani, kuat dan semangat hadapi kenyataan harus menghadapi jarum infus lagi. Bismillah yang kelima ini berhasil. Bismillah berani. Entah berapa ratus kali kata bismillah kubisikan ditelinga tyaga.

Lalu saat memangku mas Tyaga, bunda menarik napas panjang. Dari belakang, bunda peluk erat dan lembut Tyaganara-ku. Bunda rapatkan pelukan dadaku ketemu punggung Tyaga.

Bunda transfer ritme napas yang rileks. Bunda membimbing untuk ucapkan “bismillahirrahmanirrahim” berkali2 dengan sangat pelan tapi yakin. Kuajak Tyaga mengucapkannya juga. Terus menerus bunda sounding. Bunda elus dada mas Tyaga dengan tangan kanan sementara tangan kiri menggeggam erat tangan kiri mas Tyaga.

Semua itu sangat tak mudah jika jiwaku tidaklah stabil. Jika trauma-trauma masa laluku belum selesai bisa jadi baper melihat keadaan mas Tyaga. Bisa jadi meledak marah karena lelah, sedih dan kecewa campur jadi satu.

Namun, dua hal lain yang benar-benar membuatk bersyukur, saat ini semua Allah izinkan terjadi, bunda mendapati ayah tyaga sudah pada level super sabar menghadapi anak lelakinya. Tidak terpicu inner child-nya.

Dulu, IC ayah bunda memang saling memicu. Tapi kali ini, justru IC kami saling menguatkan. MasyaAllah…

Luar biasanya kami bahu membahu dalam kesabaran mengurus dua anak sakit . MasyaAllah … karena sejatinya orangtua yang sehat jiwanya tidak akan marah-marah atau sedih mendalam saat merawat anak sakit. Entah itu marah karena terpicu kelelahan, cemas, distress empati, dll.

Ditambah inner child bunda (jiwa masa kecil) ketika usia 11 tahun dulu menyaksikan bapaknya bunda (kakekmu) yang setiap detik marah saat mengurus masnya bunda yang sakit koma selama 40 hari. Siapa saja yang di dekatnya menjadi sasaran amarahnya, tak peduli itu para suster RS Atmajaya yang merawat masku.

Maka, bunda bersyukur alhamdulillah saat mengalami anak harus diopname, ayah dan bunda benar-benar sudah di posisi saling menerima. “RADICAL ACCEPTANCE” penerimaan mendasar yang ada dalam diriku, Allah izinkan membuat jiwaku jadi lebih rileks. Tak ada bersitegang, justru suami bisa menenangkanku saat aku mulai terpancing emosi pada jam 19 akibat teramat lelah. Memang sebaiknya diurai satu per satu penyebab stres saat anak stres.

Alhamdulillah … akhirnya bisa terlewati satu fase memasang jarum infus untuk jarum yang kelima. Subuh tadi, selang infus kembali korek-korek karena mampet, pun tak membuatku terpicu baper (DISTRESS EMPATY) berlarut-larut. Astagfirullah … pasti sakit banget ya, Nak. kuat dan tabah ya. Tetap semangat. Doa kami menyertaimu sayang.

Ya Allah memberi kesembuhan untuk anakku, Tyaga dan Jehan. Beri kemampuan maksimal pada obat-obatan, sari kurma dan makanan dari ahli gizi di RS, agar semua menjadi alat kesembuhan dari-Mu saja ya Allah.

rumahmediagroup/ribka