Mengapa Mayoritas Manusia Tidak Menulis?

Saya agak  tersindir juga saat membaca sub judul di atas. Iya, kenapa sih mayoritas manusia tidak atau tidak suka menulis? Sebenarnya menulis itu gampang. Bukannya hanya mengurai abjad A sampai Z menjadi kata, merangkai kata jadilah kalimat, kalimat-kalimat disusun menjadi sebuah paragraf dan kemudian akhirnya paragraf-paragraf itu didesain untuk menjadi satu tulisan utuh?

Ditambah lagi, dari bangku Sekolah Dasar kita sudah mengenal pelajaran mengarang, lanjut ke SLTP, SMU pun begitu, hingga bagi yang sempat menyicipi saat kuliah kita dijejali berbagai tugas menyusun paper dan diakhiri dengan skripsi. Jadi apa susahnya?

Buku ini berargumen, hal itu dikarenakan kita terlalu memilih untuk mengekspresikan apa yang ada di dalam fikiran dengan cara berbicara, bukan dengan menuliskannya. Speak first, write-nya kapan-kapan. Jadilah sebuah paradoks yang ekstrem: menulis sudah dipelajari sejak berusia 7 tahun, namun uniknya tidak semua orang bisa menulis dengan baik.

Faktor lainnya ini yang menarik yaitu bisa jadi karena kita terlalu kaku atau kurang berani tampil ekspresif. Penjelasan masuk akal dari pertanyaan mengapa kita sulit menuangkan ide-ide kreatif dalam bentuk tulisan adalah karena adanya ‘hambatan’ yang mengunci otak sekaligus tangannya. Kenapa bisa begitu? Semua terjadi karena satu alasan: “Otak selalu menginginkan sesuatu yang ideal, prima dan sebagus mungkin bagi diri kita sendiri”.

Akibatnya, itu berimbas pula pada proses menulis. Otak terlalu khawatir nanti kita terlihat konyol dan ditertawakan oleh orang lain. Sensornya sedemikian ketat sehingga untuk menulis satu kalimat pun sulitnya bukan main. Esensi dibagian pendahuluan ini cukup memberi gambaran tentang manfaat metode freewriting sebagai solusi untuk mengatasi kesulitan tersebut.

Mengapa freewriting? Alasannya karena freewriting merupakan metode paling bersahabat untuk membantu seseorang yang ingin menulis gagasan-gagasannya namun belum sempat mewujudkannya hingga sekarang. Selain itu, freewriting membutuhkan kinerja otak secara maksimal sehingga tujuan dari buku ini, yaitu melejitkan potensi otak lewat proses tulis menulis dapat tercapai.

Karena yang asyik kita akan belajar menerapkan metode freewriting ini dengan menuliskan hal-hal yang paling kita kuasai terlebih dahulu, yaitu tentang diri sendiri.

rumahmedia/deejay