Mengasah Hati

::Mengasah Hati::

Mayoritas kita pandai menilai orang, namun lalai dengan diri sendiri.

Seberapa sering kita mengomentari orang lain sesuka hati? Pernahkah kita saat berkomentar menyaring kata agar tidak menyakiti orang lain?

Adanya media sosial saat ini memudahkan orang menyampaikan apa yang sedang dipikirkannya. Memudahkan terjadinya polemik dengan sangat cepat. Juga memudahkan terjangkitnya virus penyakit hati yang mampu membuat hati menjadi keras bahkan menghitam. Kita memang tak bisa melihat hitamnya hati, namun kita bisa merasakan saat diri mulai lengah dan menjauh dari koridor Ilahiah.

Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Seperti asal katanya dari serapan bahasa arab, nasiya-yansa, yang berarti lupa. Namun, bukan berarti layak dijadikan sebuah alasan untuk lupa atau lalai dari peka terhadap orang lain.

Silakan bicara sesuka hatimu, tetapi jangan salahkan jika orang tak suka berkawan denganmu sebab kata-katamu. Sungguh kata itu lebih membekas dari sebuah goresan pisau.

Sering-seringlah meminta kepada Tuhan agar dilembutkan hati, sering-seringlah berkirim sholawat kepada Baginda Nabi, agar hati semakin luwes. Jika hati kian bersih maka sinarnya akan menerangi semua lini jiwa. Dan orang lain akan ikut merasakannya.

Pernahkah duduk dekat dengan para Kyai dan ulama? Bagaimana rasanya?
Sudah tentu sangat damai dan nyaman. Yang terakhir ini juga jangan sampai terlupa. Sebagai ummat dari Nabi penutup, maka para Masyayikh adalah panutan kita saat ini. Seringlah bersilaturahim kepada para pewaris Nabi, agar hati tetap terjaga dari keriuhan dunia saat ini.

Salam Jum’at penuh berkah.
Allahumma sholli wa sallim wa baarik^alaih

Teras masjid Al-Ikhwan, Sukamaju Permai