Mengasuh Anak adalah Mengasuh Diri Orangtua Terlebih Dahulu

Sumber foto : dokumentasi pribadi

Mengasuh Anak adalah Mengasuh Diri Orangtua Terlebih Dahulu

“Mau anak sopan? Orangtuanya lebih dulu beri contoh sopan.”

“Mau anak berlaku baik? Orangtuanya lebih dulu beri contoh berlaku baik.”

Ungkapan yang benar adanya seperti di atas sering kita dengar dari lingkungan sekitar. Pun dari artikel-artikel parenting yang bisa kita jumpai media online.

Sebagai orangtua, terutama ibu, sudah pasti aku bangga dan bersyukur ketika membaca buku penghubung ini (seperti yang terlihat di foto). Buku penghubung milik anakku Jehan yang baru berusia 5 tahun 3 bulan dan baru duduk di TK A.

Ibu guru menulis beberapa poin. Diantaranya, Jehan mempunyai sikap dan perilaku yang sopan dan santun, mengenal perbuatan baik dan buruk.

Aku jadi teringat komentar salah satu ibu guru ketika kami mendaftar ulang masuk TK di bulan Juni lalu. “Jehan pinter bergaul. Cepat akrab. Seperti mamanya.”

Saat itu aku hanya tersenyum manis dan menjawab sopan, “Alhamdulillah Bu Guru.”

Kemudian aku bergumam dalam hati, ‘tidak tahukah bu guru seberapa kuatnya aku berjuang melawan rasa malas, untuk menyapa orang lain, disaat aku benar-benar sedang malas bertemu orang apalagi bicara?’

Ya, sebagai ibu penyintas depresi, dulu untuk keluar rumah saja, aku mengalami serangan panik yang menghadirkan banyak sensasi. Apalagi menghadapi keadaan harus bertemu dengan orang lain di luar rumah.

Sensasi depresi itu antara lain, rasa malas yang berasal dari rasa takutku bertemu orang lain bahkan orang banyak. Keadaan yang membuat detak jantungku berdebar kencang sehingga sulit bernapas karena sesak. Ketika keadaan tersebut mengharuskanku keluar rumah untuk mengurus sebuah kepentingan anakku (mengurus sekolah, misalnya), kondisi ini juga membuat seluruh tulang di tubuhku serasa mau lepas semua.

Tidak enak sekali rasanya. Dan aku tahu, hal di atas tidak baik juga untuk perkembangan jiwa kedua anakku. Karena sudah pasti keduanya bisa melihat raut muka bundanya yang sedang malas atau takut.

Kedua anakku juga dapat merasakan kegundahan batin orangtua, terutama ibu, berupa aura negatif yang terpancar dari dalam jiwaku meski tak terucap.

Jika dulu sebagai ibu awam, semboyanku, “anak bisa anteng, asal ibunya terlebih dulu tenang”.

Namun, seiring berjalannya waktu aku mengenal ilmu mindfulness parenting di Agustus tahun 2016 yakni proses pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua dengan kesadaran penuh dalam memberikan perhatian dan tidak memberikan penilaian negatif terhadap perilaku anak. (Glenny, Yenny. 2015. Parenting Indonesia. Apa Itu Mindful Parenting? https://www.parenting.co.id/keluarga/apa-itu-mindful-parenting-. Diakses 14 November 2019).

Aku menjadi sadar untuk membereskan masalah yang ada di dalam diriku terlebih dulu.

Sungguh … bagi penyintas depresi sepertiku kala itu, tentu saja tak bisa menghindari dan juga bukan perkara mudah menerima keadaan bertemu dan berbicara dengan orang.

Tetapi aku harus berjuang untuk mengasuh diriku terlebih dulu. Di dalam rumah, aku berjuang mengendalikan intonasi suaraku agar tetap bisa berbicara sopan kepada Jehan. Meski aku sedang sangat ingin marah karena terpicu tingkah Jehan sebagai anak perempuan yang aktif.

Aku pun berjuang berperilaku baik kepada Jehan. Sebagai salah satu contohnya, dengan cara langsung meminta maaf kepada Jehan apabila aku sebagai bundanya melakukan hal yang tidak baik. Berbicara kasar, misalnya.

Contoh-contoh tersebut di atas, aku lakukan hanya demi Jehan bisa meniru sikap dan perilaku yang sopan dan satun serta mengenal perilaku yang baik.

Sungguh … sangat tak mudah melakukan itu semua disaat mood swing tiba-tiba merajai dan ingin sekali meledak saja rasanya.

Atas seizin Allah, aku selalu ingat untuk mempraktikkan teknik-teknik yang ada di mindfulness parenting. Salah satunya acceptance (menerima). Aku berjuang merima semua rasa yang hadir itu satu per satu. Rasa marah, rasa kesal, rasa malas, rasa takut dan lain-lain.

Lalu aku menarik napas panjang dan dalam. Kemudian aku hempaskan segala beban itu dengan napas yang panjang dan dalam juga. Aku melakukannya berulang kali sampai benar-benar lega.

Secara perlahan-lahan aku melakukan afirmasi positif dipikiran untuk berani dan siap hadapi keadaan apapun di dalam rumah maupun di luar rumah. Diantaranya, dengan menyapa orang lain terlebih dulu. Agar Jehan bisa menirulakukan berani dan tidak malu menyapa orang lain dengan hangat. Karena sejatinya anak itu peniru ulung. Anak tak butuh banyak nasihat. Anak hanya butuh contoh nyata dari orangtuanya.

Inilah yang kusebut perjuangan yang tak mudah bagi ibu penyintas depresi sepertiku. Perjuangan memberi contoh nyata bersikap sopan dan santun dengan menyapa terlebih dulu kepada sekitar disaat diri sendiri enggan dan malas bertemu dan berbicara pada orang lain.

Namun semua kulakukan hanya demi “mengasuh anak adalah mengasuh diri orangtua terlebih dahulu.”

Alhamdulillah perjuangan tidak pernah berakhir dengan sia-sia. Ada hasil nyata tertulis di buku penghubung Jehan.

Berjuanglah para ibu penyintas kesehatan mental lainnya💪💪 percayalah pada pertolongan Allah, bahwa meski kita pernah menjadi ibu yang tidak baik, kita tetap akan dimampukan oleh Allah untuk dapat mengasuh dan mendidik anak-anak kita menjadi anak yang berperilaku baik. Asalkan ibunya terlebih dulu membaik. Bismillah….

Sokaraja, 14 November 2019

-Ribka ImaRi-

(Penyintas depresi dan bipolar yang kini menjadi Mentor Kelas Online Mindfulness Parenting)

Penulis/Mentor bisa dihubungi via aplikasi whatsapp 085217300183

rumahmediagroup/ribkaimari

5 comments

Comments are closed.