Mengejar Berkah

Mengejar Berkah

Kenapa berkah yang harus dikejar? Karena sesuatu kalau sudah berkah, maka akan memiliki nilai guna yang lebih. Berkah menjadikan sesuatu yang semula sedikit menjadi banyak. Berkah mencukupkan sesuatu yang awalnya dinilai sulit terpenuhi. Berkah mengoptimalkan waktu yang singkat berbuah menjadi amalan yang padat manfaat, lestari dibawa mati bagi pemiliknya.

Rasulullah dijamu makan oleh sahabat beliau Abu Tholhah dan istrinya Ummu Sulaim. Keduanya tak menyangka ternyata Rasulullah datang dengan mengajak para sahabatnya yang berjumlah sekitar 70-80 orang, sementara makanan yang ada di rumah hanya sedikit. Makanan yang tadinya dikira kurang, ternyata mampu mencukupi untuk semua orang tersebut. Semua pulang dengan merasa kenyang. (Hadits Shahih Al-Bukhari No. 4962 – Kitab Makanan dan Hadits Shahih Muslim No. 3801 – Kitab Minuman). Keberkahan telah menjadikan makanan yang sedikit mampu mengenyangkan banyak orang.

Kita lihat pula kisah seorang ulama masyhur, Imam an-Nawawi. Beliau wafat pada usia 45 tahun (631 H – 676 H). Dalam usia yang relatif singkat tersebut, beliau telah meninggalkan warisan yang begitu berharga, yakni berupa kitab-kitab yang jumlahnya tak kurang dari 40 kitab. Kitab-kitab karya beliau seperti hadits Al-Arba’in dan Riyahdus Shalihin terus dibaca dan dipelajari oleh umat muslim di berbagai belahan dunia hingga detik ini. Keberkahan usia hidup menghasilkan amalan-amalan produktif yang bersifat lintas zaman, lintas generasi, manfaatnya berkesinambungan dunia akhirat.

Sepantasnya berkah senantiasa dicari. Berkah sendiri memiliki makna kebaikan yang bertambah atau berlipat. Sebaliknya apabila keberkahan diabaikan dalam menapaki kehidupan, hal tersebut hanya akan mendatangkan kerugian.

Lantas, hal apa di antaranya yang perlu diperhatikan untuk mencapai berkah? Ya, jagalah adab-adab dalam aktivitas yang dilakukan.

Tatakala berkerja mencari nafkaah, maka senantiasa jagalah adab-adabnya, agar harta yang nantinya diperoleh berbuah kententeraman dan kecukupan serta ketaatan bagi anggota keluarga. Tatkala menuntut ilmu, pun penuhilah adab-adabnya, supaya ilmu yang diperoleh membawa kebaikan dunia dan akhirat. Seorang anak yang ingin dalam hidupnya berkah dengan asbab pergaulan dengan kedua orang tuanya, maka berbakti kepada keduanya adalah hal yang mutlak dilakukan.

Dalam Al-Qur’an dan hadits juga ada amalan-amalan yang disebut secara lugas untuk meraih keberkahan, seperti berjual beli dengan jujur (HR. Shahihain), berpagi-pagi mencari rezeki (HR. Abu Daud) serta beriman dan bertakwa kepada Allah (QS. Al A’rof: 96).

Menutup artikel bertema berkah ini, semoga Allah membimbing kita menempuh jalan sesuai dengan petunjuk-Nya dan sesuai tuntunan Rasul-Nya, sehingga dalam menjalani hidup ini kita dilimpahi keberkahan serta terhindar dari hal-hal yang membawa mudharat. Aamiin.

Pehu, 4 Rabi’ul Awwal 1442 H

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar: pixabay