Mengejar Kebahagiaan

Mengejar Kebahagiaan 

Tiada bingkisan yang indah selain nasehat dari orang terkasih. Bingkisan ini lama teronggok, tak tersentuh, diantara tumpukan buku dalam kotak. Entahlah tetiba tangan ini tergerak untuk melihat kembali yang tertulis di dalamnya. 

Buku kecil karya Al Ustadz Abu Usamah ‘Abdurrahman Lombok berjudul Bingkisan Indah untuk Sepasang Mempelai.

Kini kami bukan sepasang pengantin baru lagi. Namun kebahagiaan rumah tangga tetaplah sebagai prioritas yang ingin terus ada sepanjang usia perkawinan ini.

Inilah yang kami nukil dari buku itu, sebagai pedoman kebahagiaan yang ingin diraih.

Ada dua bentuk kebahagiaan yang kita kejar. Pertama adalah kebahagiaan yang semu, dan yang kedua itu kebahagiaan yang hakiki.

Lalu apa pengertian keduanya?

Kebahagiaan yang semu itu bersifat sementara dan akan lenyap bersamaan dengan lenyapnya jasad dan kesempatan. Itulah yang sering dinamakan kesenangan dunia semata. 

Bila kita mengharapkan kebahagiaan semacam ini, sungguh malang nasib dan tujuan hidup ini. Memang semua yang diinginkan dapat tercapai, kemegahan hidup di dunia, anak yang berpangkat dan berpendidikan tinggi, atau memiliki perusahaan besar dengan beribu karyawannya. 

Simaklah penjelasan Rasulullah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah :

“Lewat seseorang di hadapan Rasulullah, lalu beliau berkata, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Mereka berkata, “Orang ini jika meminang pantas untuk diterima, jika memberikan pembelaan akan diterima, dan jika berucap akan didengar.”  Lalu dia (seorang Rawi) berkata, “Beliau terdiam.” Kemudian lewatlah seseorang yang fakir dari kalangan kaum Muslimin di hadapan Beliau. Lalu kata Beliau kembali, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Mereka menjawab, “Dia pantas jika meminang tidak diterima dan jika berucap tidak didengar.” Rasulullah bersabda, “Orang ini lebih baik daripada orang itu, sekalipun sepenuh bumi.”

Kebahagiaan hakiki akan menjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kemuliaan yang sejati adalah dengan memegang prinsip-prinsip agama. Mempelajarinya, memahami, dan mengamalkannya. 

Sabda Rasulullah :

“Maka pilihlah yang beragama dan jika kamu tidak memilih yang beragama maka engkau akan celaka.” (HR al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah).

rumahmediagrup/hadiyatitriono