Mengelola Emosi Anak Tunagrahita

Tunagrahita diambil dari kata tuna dan grahita. Dalam KBBI tuna berarti kurang dan grahita berarti mengerti. Tunagrahita berarti kurang mengerti.

Seperti itulah konsep yang saya miliki, pertama kali saya memilih untuk masuk ke dunia pendidikan luar biasa (PLB).

pengertian yang tertanam tentang peserta didik yang akan saya tangani adalah anak yang intelegensinya dibawah 80.

Berjalannya waktu, menggeser konsep anak Tunagrahita. Permasalahan mereka sangat kompleks. Intelegensi sebagai standar katagori anak Tunagrahita tidak bisa dijadikan acuan permasalahan yang muncul.

Istilah Tunagrahita menggambarkan kondisi anak yang mengalami kekurangan dalam kecakapan hidup. Kecakapan disini meliputi aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Kecakapan kognitif meliputi pengetahuan, pemahaman dan penerapan. Afektif mencakup sikap, emosi dan pemahaman nilai. Sedangkan psikomotorik mencakup ketrampilan.

Gambar dokumen pribadi.

Tiga ranah itu merupakan satu kesatuan. Tidak mungkin seorang anak mencapai ranah ketrampilan, jika kognitif dan afektifnya belum tercapai.

Permasalahan muncul dalam pembentukan kecakapan. Proses belajar mengajar sebagai sarana pembentukan kecakapan sulit berjalan sesuai rencana. Guru mengalami kendala dalam menyampaikan materi.

Kendala sering timbul karena perilaku negatif anak. Anak Tunagrahita sering menunjukkan emosi meledak, berteriak, tantrum hanya disebabkan masalah kecil.

10 peserta didik yang saat ini saya pegang 80 persen bermasalah dengan emosinya. Jika melihat kelas, terlihat kelas-kelas berantakan, dekorasi kelas yang tinggal bekas lemnya saja bahkan meja dan kursi sering terbalik.

Menanamkan kecakapan pada anak Tunagrahita biasanya dimulai dari pembiasaan mengelola emosi. Bagaimana anak dilatih tetap tersenyum, saat temannya mengatakan tulisannya jelek. Anak tetap duduk saat teman satu kelas membuat suasana gaduh.

Saat kecakapan afektif telah terbentuk, kecakapan psikomotorik lebih mudah tercapai.

Melatih kecakapan kognitif, afektif dan psikomotorik diperlukan kesabaran ekstra dan kerjasama berbagai pihak, yaitu orang tua, guru dan masyarakat (di lingkungan sekolah maupun rumah).

Rumahmediagrup/srisuprapti