Mengeluhkan Kebaikan

pixabay

Mengeluhkan Kebaikan

Sebagai manusia memang diberi fitrah berkeluh kesah (QS al-Ma’aarij [70]: 19-22), namun bukan berarti itu sebagai pengabsahan seseorang untuk sering berkeluh kesah, justru syariat memerintahkan kita untuk bersabar dan memperbanyak syukur tatkala bertemu dengan kesusahan.

Kerap kali keluh kesah itu muncul, disebabkan diri terluput memetik hikmah dari apa yang sedang dijalani dan dihadapi. Sekeping story  berikut menggambarkan hal itu.

Seorang istri mengeluh capek dengan aktivitas melipat baju setiap hari dan mengandaikan ada mesin yang bekerja sebagai pelipat baju, tentu ia tak akan merasakan kelelahan.  Wajar? Wajar sih, tapi menjadi bermasalah keluh kesah itu tatkala tak segera diinsyafi, tak segera diistighfari, ya karena berpeluang akan menjadikan diri menjadi hamba yang kufur nikmat dan menghilangkan niat ikhlas dalam beramal.

Suatu hari, puteri Nabi, Fatimah yang tercinta datang menghadap beliau untuk meminta seorang pembantu guna membantu pekerjaannya dalam menumbuk dan menggiling gandum. Rasulullah tak mengabulkan keinginan puterinya tersebut. Beliau bersabda, Maukah kalian berdua aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian berdua pinta, yaitu jika kalian sudah berada di tempat tidur kalian, bacalah takbir (Allahu Akbar) tiga puluh empat kali, hamdalah (alhamdulillah) tiga puluh tiga kali dan tasbih (subhaanallah) tiga puluh tiga kali karena sesungguhnya bacaan-bacaan ini lebih baik dari apa yang kalian berdua memintanya.” (HR Bukhari).

Menurut Ibnu Hajar, nasihat Nabi ini bermakna bahwa apa yang dilakukan dengan disertai mengingat Allah, maka Allah akan berikan kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan yang dikerjakan dengan dibantu seorang hamba. Segala hal akan dimudahkan bagi seseorang, jika sambil mengingat Allah.

Belajar dari hadits di atas, bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan tangan sendiri itu lebih baik. Setiap aktivitas yang dilakukan dalam rangka menjalankan kewajiban dan taat kepada Allah, maka itulah sesungguhnya yang akan menambah pundi-pundi pahala di sisi-Nya yang kelak itulah yang sangat kita butuhkan.

Setiap amal baik yang dilakukan, maka tak sepantasnya timbul keluh kesah di dalamnya. Tak patut seorang pelajar mengeluhkan capek dalam menuntut ilmu. Betapa Allah sangat memuji orang yang bersusah-susah dalam menuntut ilmu, hingga ikan-ikan di lautan memintakan ampun baginya. Segala suka duka yang dihadapi dalam belajar akan kembali kepada dirinya berupa kebaikan.  

Seorang suami atau istri tak semestinya mengeluh, karena merasa kesulitan mendidik anak-anak yang cenderung sukar diatur. Setiap peringatan, nasihat, pengajaran yang diberikan kepada putra-putri akan menjadi ladang amal, tidak sia-sia. Semakin banyak proses pendidikan itu berjalan, maka akan semakin banyak pula kebaikan itu dituai.

Wal akhir, amal baik di dalamnya terkandung kebaikan yang akan menjadi kebaikan bagi pelakunya. Bersabarlah, jangan mengeluh, hingga saatnya buah kebaikan itu dikenyam dan dinikmati. Selamat beramal baik. Jangan mengeluh!. (rumahmediagrup/wahyudin aufath)