Mengenal Reynhard Lebih Dekat

Mengenal Reynhard Lebih Dekat

Endah Sulistiowati
Dir. Muslimah Voice

Namanya Reynhard Sinaga, sekilas seperti nama orang Indonesia ya? Btw memang Reynhard ini asli orang Indonesia tapi lama tinggal di luar negeri, tepatnya di Mancester, Inggris. Uwoww, biasanya kalo tinggal diluar negeri pastilah Reynhard ini dari klan keluarga kaya, minimal keluarga menengah ke atas lah. Yups, anda benar!

Berbicara tentang kehidupan Reynhard Sinaga di Manchester, detektif senior penyelidik Inspektur Zed Ali, mengatakan kepada Manchester Evening News:
“Dia pergi ke tempat ibadah dan melakukan beberapa pekerjaan sukarela, melakukan pelayanan dan mengajar di beberapa kelas,” kata Zed Ali menirukan keterangan rekan-rekan Reynhard.
“Dia menyukai kenyataan bahwa tempat ibadah yang dikunjunginya menerimanya sebagai pria gay dan juga pria dari negara lain dengan terbuka,” ungkapnya.
Disebutkan Reynhard Sinaga pertama kali tiba di Inggris pada tahun 2007 dengan visa pelajar dan pindah ke Manchester, Inggris sebagai mahasiswa Sosiologi di universitas wilayah setempat.
Dia kemudian memulai gelar PhD di bidang Geografi Manusia di Universitas Leeds.


Pada saat penangkapannya, ia sedang mengerjakan tesisnya, berjudul: ‘Seksualitas dan transnasionalisme sehari-hari di kaum gay dan biseksual Asia Selatan di Manchester’.

Sehingga Reynhard bukan berasal dari golongan anak putus sekolah yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, bahkan dia adalah pemuda yang cerdas, terbukti Reynhard mampu menyelesaikan pendidikan S-3 nya di Mancester.

Kenapa dia bisa seterkenal sekarang, karena gaya hidup hina melebihin binatang-lah yang menyeret namanya. Dengan label sebagai kasus pemerkosaan terbesar dalam sejarah Inggris, kasus Reynhard Sinaga langsung ramai diperbincangkan. Berbagai media langsung memberitakannya secara masif, tidak hanya media Indonesia dan Inggris, namun juga hampir seluruh dunia.

Apalagi merujuk pada jumlah kasus yang terbukti dilakukan Reynhard Sinaga, yaitu 159 kasus pemerkosaan dan serangan seksual terhadap 48 korban pria terbukti dilakukan oleh Reynhard Sinaga. Di antara 159 kasus, terdapat 136 dakwaan pemerkosaan, dengan korbannya dilaporkan ada yang diperkosa berkali-kali.

Pagi hari tanggal 2 Juni 2017, nampaknya menjadi hari ‘sial’ bagi Reynhard Sinaga. Kekejiannya selama ini yang tertutup rapi pada akhirnya terbongkar saat salah satu korban, bisa dibilang korban terakhirnya tersadar saat dilecehkan oleh dirinya.

Analisis selama berbulan-bulan mengidentifikasi lebih dari 195 korban berbeda, yang semuanya tidak sadar sementara Sinaga melecehkan mereka. DI Zed Ali, petugas investigasi senior, mengatakan itu “seperti mencoba menyatukan jutaan potongan gambar tanpa penutup gergaji ukir”.

Hingga pada akhirnya 48 orang korban melapor dan mengaku siap menjadi saksi dalam persidangan Reynhard Sinaga, yang pada akhirnya berbuah vonis seumur hidup untuk Reynhard Sinaga.

Lalu mengapa kasus ini bisa tertutup dari media massa?

Ternyata sebenarnya media sudah mengetahui kasus ini jauh-jauh hari. Namun, pengadilan meminta dilakukannya media blackout atau larangan pemberitaan terkait kasus Reynhard Sinaga. Ada dua tujuan utama dari penerapan media blackout ini.
Pertama, karena kasus itu harus dibagi menjadi empat persidangan terpisah. Hal ini harus dilakukan sebab jumlah korban yang akan bersaksi mencapai 48 orang.
Kedua, Layanan Kejaksaan Mahkota (CPS) Inggris masih terus membuka kemungkinan munculnya korban-korban lain.

Reynhard memang harus diakhiri.

Naudzubillah, tsumma naudzubillah, Indonesia tidak pernah mau disebut sebagai negara Agama, tapi Indonesia menjunjung tinggi norma Agama dan adat ketimuran yang mengedepankan sifat malu. Namun dalam kasus Reynhard ini urat malu sepertinya sudah tidak ada, demikian pula tingkah serupa dengan Reynhard di tanah air justru mendapat back up penuh.

Masyarakat yang menghindari atau menolak orang-orang seperti Reynhard akan dicap intoleran. Padahal kita tahu kejahatan penyimpangan seksual ini sungguh diluar batas-batas kemanusiaan. Apa iya akan terus diperjuangkan agar masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim ini mau menerimanya?

Sebelum Reynhard hadir, kita telah jauh-jauh hari diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ:
.
«إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ»
“Sesungguhnya yang paling dikhawatirkan dari apa-apa yang aku khawatirkan atas umatku adalah perbuatan Kaum Luth.” (HR. Ahmad, al-Tirmidzi, al-Hakim)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَعَنَ اللهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، لَعَنَ اللهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، لَعَنَ اللهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ»
“Allah melaknat siapa saja yang mengamalkan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat siapa saja yang mengamalkan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat siapa saja yang mengamalkan perbuatan kaum Luth.” (HR. Ahmad, Ibn Hibban)

Kekhawatiran Nabi ﷺ, sudah cukup menunjukkan bahwa hal tersebut adalah hal yang tercela, mengandung ancaman yang berbahaya, karena tidaklah Nabi ﷺ mengkhawatirkan sesuatu, kecuali ia merupakan hal yang sangat berbahaya bagi umatnya. Perbuatan kaum Luth yang dimaksud hadits ini pun jelas, maksudnya adalah perbuatan homoseksual, laki-laki ’mendatangi’ laki-laki lainnya dari duburnya. Perbuatan ini dinisbatkan sebagai perbuatan kaum Luth, karena kaum inilah yang pertama kali mempraktikkan perbuatan keji tersebut, yang berakhir dengan kebinasaan.

Namun seakan hendak memutar kembali jarum jam, di zaman penuh fitnah di bawah naungan sistem rusak Demokrasi saat ini, kaum Muslim dihadapkan pada persoalan genting si melambai ini. Ditandai dengan babak baru legitimasi perkawinan sejenis yang disahkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat, yang menjadi kiblat Demokrasi saat ini, menjadi jembatan legitimasi pernikahan sejenis di banyak tempat lainnya di dunia Barat.

Padahal, Islam telah menggariskan solusi paripurna mencegah tersebarnya penyakit liwath (homoseksual) ini, baik preventif, persuasif maupun kuratif, mencakup peranan dalam ruang lingkup individu penderita, keluarga, masyarakat, maupun negara.

Salah satunya dengan penegakkan sanksi agung bagi pelaku ini, berupa hukuman mati yang wajib ditegakkan oleh Khalifah, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

«مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاِعَلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ»
“Siapa saja di antara kalian menemukan seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth, maka hukum mati lah subjek dan objeknya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud & al-Hakim)

Hadits ini, dalam perspektif ilmu ushul fikih, jelas manthuq (tersurat) adanya kewajiban menghukum mati pelaku liwath (sodomi) baik subjek maupun objeknya, siapapun pelakunya (ditandai oleh keumuman lafal man). Dimana penerapannya, merupakan kewenangan Khalifah atau yang mewakilinya (al-Khalifah aw na’ibuhu), sehingga hadits ini pun jelas mengandung mafhum (dilalah iltizam) wajibnya mengadakan khalifah yang berwenang menegakkan sanksi hukuman tersebut, sebagaimana kaidah syar’iyyah yang disebutkan para ulama untuk menegaskan kefardhuan iqamat al-Khilafah, menyebutkan:

مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Hal-hal dimana suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya pun wajib.”

Penegakkan sanksi hukum Islam (’uqûbât) bagi pelaku tindak kriminalitas merupakan zawâjir (preventif) dan jawâbir (kuratif). Disebut pencegah (preventif) adalah karena dengan diterapkannya sanksi secara adil dan tegas, menjadi pelajaran bagi orang lain untuk tidak melakukan kesalahan serupa, hal ini sebagaimana yang dinyatakan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 179). Namun semua ini tidak bisa dilaksanakan kecuali dengan ditegaknya syariah Islam dalam naungan Khilafah. Wallahu’alam.
[]

RumahMediaGrup/endahsulis1234