Menggali Bakat Anak Berkebutuhan Khusus

Menggali Bakat Anak Berkebutuhan Khusus

ABK (Anak berkebutuhan khusus) merupakan anak dengan karakteristik khusus yang ditunjukan dengan ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk ABK antara lain : Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita, Tunadaksa, Tunalaras (untuk kurikulum 2013 pengunaan istilah ini sudah diganti menjadi peserta didik dengan hambatan penglihatan, peserta didik dengan hambatan pendengaran, peserta didik dengan hambatan kecerdasan, dan lain-lain).

Pertama kali peserta didik memasuki dunia special education yang harus dilakukan guru adalah assessment. Assessment merupakan langkah untuk mengetahui kondisi, karakteristik, sekaligus minat bakat peserta didik. Assessment disini merupakan dasar penyusunan program pembelajaran individual untuk ABK.

Di SLB berlaku program pembelajaran individual, dimana setiap peserta didik memiliki kurikulum berbeda-beda, sesuai dengan kondisi dan kemampuan. Artinya, jika dalam satu kelas terdapat 8 peserta didik, maka akan ada 8 RPI (rencana pembelajaran individual).

Setiap anak istimewa, inilah prinsip yang harus ditanamkan pada setiap orang tua atau pendidik ABK. Prinsip ini juga yang menjadi ruh jalannya tumbuh kembang ABK. Sekecil apapun minat anak pada sesuatu, kami berpikir itu mungkin bakat mereka. Kami berusaha menggali, menggali dan mengembangkannya. Bagi masyarakat umum mungkin hal yang biasa, bahkan sangat biasa, saat anak suka memegang krayon dan mencoret-coret kertas, atau anak yang suka berkhayal dan menceritakan khayalannya seperti kenyataan. Sebagai guru ABK kami sering mengamati kebiasaan-kebiasaan kecil itu sebagai sesuatu yang luar biasa. Kami yakin setiap anak terlahir dengan bakat berbeda-beda. Untuk mengenali bakat yang dimiliki, kita dapat melihat kesukaan peserta didik.

Berawal pada ketertarikan peserta didik pada sesuatu, sehingga mereka menyenanginya kemudian mengulangi, mengulangi, hingga menjadi kebiasaan. Saya melihat bakat ABK sesuatu yang sederhana, saat melihat peserta didik suka mencoret-coret, saya akan mengatakan anak memiliki ketertarikan pada menggambar. RPI saya tekankan pada program mengarahkan peserta didik pada melukis.

Bakat akan muncul dan berkembang apabila diberi stimulus dan kesempatan untuk berkembang. Dan saya sangat percaya, setiap peserta didik saya memiliki bakat.

Pada ABK dengan keterbatasan intelegensi, kami mengoptimalkan bakat tidak pada potensi intelektual, akan tetapi pada kecerdasan lain, seperti seni, bahasa, hubungan interpersonal, hubungan intrapersonal, dan lain-lain. Banyak peserta didik kami yang sukses mengembangkan bakatnya, hal ini dibuktikan dengan menjuarai perlombaan baik tingkat Kabupaten, Provinsi, maupun Nasional. Sebut saja Nidaul Umaim, peserta didik dengan kebutuhan pendengaran yang menjadi juara 1 FLS2N tingkat Nasional di Lombok pada tahun 2012 pada bidang seni lukis, atau Susi Aryani yang mendapat gelar juara 2 tingkat Nasional pada FLS2N di Bangka tahun 2018 pada bidang seni tari.

Apakah mereka anak istimewa?
Tentu, mereka adalah anak berbakat pada bidangnya.
Susi Aryani merupakan peserta didik pindahan dari SD Negeri. Pertama masuk SLB, dia terlihat sangat tertekan, tidak berani menatap gurunya. Mata Susi tertuju pada sepatu yang ia kenakan. Susi merupakan pelajar kelas 5 SD, melihat rapot SD-nya, terlihat kalau kemampuan akademik Susi dibawah rata-rata. Dia tidak dapat membaca dan berhitung sebagai dasar pembelajaran. Saat mengikuti assessment aspek membaca, mata Susi berkaca-kata. Susi tidak dapat membedakan “ba”, “pa”, dan masih banyak huruf lain, padahal setatusnya peserta didik kelas 5 SD.

Mengajarkan materi akademik pada Susi seperti menulis diatas air, karena materi tidak ada yang membekas diingatannya. Hari ini susi belajar “ba”, besoknya sudah lupa. Hal ini terjadi berulang-ulang, hingga suatu hari tanpa sengaja kami dihadapkan pada realita yang sangat mengejutkan. Susi dapat memahami dan menghapal tari sangat baik, bahkan hanya dengan melihat satu kali tarian, dia bisa langsung mengingat dan meniru. Sejak saat itu Susi dilatih banyak tari, pihak sekolah juga meminta bagian kecantikan untuk melatih kemampuan Susi merias wajah. Susi menemukan dunianya sebagai seorang penari.
Saat ini jam terbang Susi sangat padat, ia diundang banyak kegiatan tingkat Kabupaten maupun Provinsi.

Percaya diri Susi meningkat, ia tidak lagi menunduk saat ditanya. Susi dapat menjawab pertanyaan lawan bicara sambil tersenyum, bahkan sekarang teman Susi bukan hanya peserta didik SLB Manunggal, tapi dari sekolah lain.

Tentu kasus Susi Aryani maupun Nidaul Umaim tidak bisa kami jadikan teori global dalam pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus, karena setiap anak unik dan harus digali bakatnya dengan cara yang unik.

Perlu disadari bahwa ABK sama seperti anak pada umumnya, mereka butuh waktu dan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk mengeksplor diri dan lingkungannya. Apabila anak didukung, ia akan merasa lebih positif, harga diri, dan kepercayaan dirinya meningkat sehingga bisa berdampak baik hingga dewasa.

Ayo kembangkan bakat ABK.

rumahmediagrup/ srisuprapti