Menggali dan Mengurai Inner Child Sebagai Akar Penyebab Depresi dan Bipolarku

Menggali dan Mengurai Inner Child Sebagai Akar Penyebab Depresi dan Bipolarku

Oleh: Ribka ImaRi

Rumit. Ruwet. Ribet. Njlimet. Rasanya keempat kata tersebut yang pantas untuk menggambarkan bentuk inner child (jiwa masa kecil) yang ada padaku. Setidaknya penilaian ini ada setelah aku berkutat dengan kesehatan jiwa diriku sendiri selama empat tahun belakangan. Akhirnya, aku bisa menganalogikan bahwa inner child (IC) yang ada di dalam jiwaku itu, mirip akar pada gambar yang tertera.

Akar merupakan salah satu bagian dari tumbuhan dan biasanya akar tumbuh atau berada di dalam tanah.(Ilham, Mughnifar. 2019. Jenis-jenis akar beserta contoh dan gambar [lengkap]. https://materibelajar.co.id/jenis-jenis-akar/. Diakses tanggal 7 Desember 2019). Begitulah IC-ku. Sangat banyak jika mau digali dan diurai satu per satu. Aku yang tidak suka anakku memberantaki, karena IC-ku yang sering dibentak-bentak saat berantakan. Aku yang tidak suka anakku menangis berderai-derai dalam durasi yang lama, karena IC-ku pernah menangis selama dua jam tanpa henti dan tanpa ada yang menolong serta memeluk. Masih banyak lagi IC-ku yang lainnya.

Jadi benar-benar harus Semangat, Konsiten, Sabar dan Telaten (SKST) dalam menggali akarnya. Kemudian mencabut serabutnya satu per satu secara rinci. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menangani apalagi mengasuh IC. Mungkin saja butuh waktu sepanjang sisa usia. Sebab memang sangat banyak serabutnya yang telanjur mengakar.

Ternyata, permasalah Inner child yang bagai akar serabut ini terjadi bukan hanya pada diriku. Berdasarkan pengalaman membaca curahan hati para peserta kelas online, berupa pesan di grup atau pribadi, aku jadi bisa menyimpulkan bahwa setiap orang atau jiwa dewasa itu pasti mempunya jiwa masa kecil.

Sebenarnya, IC tidak selalu yang negatif. Inner child bisa dalam bentuk positif antara lain, bahagia, senang, gembira dan jatuh cinta. Karena itu semua merupakan emosi alami yang dirasakan dan dialami setiap jiwa. Namun, sebagian besar orang lebih memahami bahwa IC itu lebih banyak negatifnya.

Karena memang mengalami sendiri dan membuat IC menjadi terluka. Seperti contoh IC marah, sedih, kecewa, kesal, terabaikan, dan lain-lain. Semua itu, baik IC positif dan negatif akan berpengaruh besar pada kehidupan di saat dewasa. Besarnya pengaruh tergantung pengalaman hidup yang didapatkan melalui perjalanan hidup jiwa tersebut sebagai individu yang dimulai bahkan sejak menjadi janin dalam kandungan.

Berdasarkan pada beberapa penelitian terhadap ibu yang pernah mengandung lebih dari satu anak, didapatkan gambaran yang berbeda antara saat mengandung anak yang satu dengan yang lainnya. Kesaksian dari para ibu menguatkan pendapat, bahwa memang benar sejak dari dalam kandungan masing-masing anak telah menunjukkan perilaku dan respon yang berbeda, baik terhadap aktivitas ibu maupun gejolak perasaan ibu. Perbedaan aktifitas bayi dalam kandungan tersebut sangatlah berkesan bagi para ibu. Kemudian ternyata terbukti, bahwa perbedaan itu akan berlangsung sampai anak tersebut besar dan dewasa.

Perbedaan aktivitas bayi dalam kandungan tersebut sangatlah berkesan bagi para ibu. Kemudian ternyata terbukti, bahwa perbedaan itu akan berlangsung sampai anak tersebut besar dan dewasa. (Rarung, Jamesallan. 2015. Kompasiana. Kepribadian Manusia Terbentuk Sejak di Dalam Kandungan. https://www.google.co.id/amp/s/www.kompasiana.com/amp/jamesallan.rarung/kepribadian-manusia-terbentuk-sejak-di-dalam-kandungan_54f99226a33311c1588b45e9. Diakses tanggal 7 Desember 2019).

Seiring berjalannya kehidupan yang dimulai dari janin, kemudian terlahir ke dunia, lalu tumbuh dalam lingkungan keluarga dimulai sejak bayi, baduta, batita, balita, anak-anak, remaja dan pada akhirnya menjadi dewasa. Ada begitu banyak pengalaman hidup yang mengandung banyak emosi yang pada akhirnya tertanam dalam pikiran bawah sadar. Bahkan emosi itu sudah bisa dirasakan oleh janin melalui detak jantung ibunya.

Apa yang sudah telanjur tertancap di pikiran bawah sadar, biasanya sulit untuk disadari oleh jiwa. Namun ternyata, pengaruhnya menjadi luar biasa besar pada tindakan seseorang dalam keadaan sadar, tetapi menjadi tidak terkendali. Misalkan, orangtua yang membentak-bentak anak bahkan mencubit atau sampai memukul akibat anak terlalu aktif dan tidak mau mendengar, itu sebenarnya hanya disebabkan oleh daur ulang rekaman pikiran bawah sadarnya dulu sewaktu kecil diperlakukan yang sama oleh orangtua.

Pikiran bawah sadar adalah bagian otak kita yang membuat kesan dan keputusan tidak sadar (“autopilot“). Para psikolog mengidentifikasi pikiran bawah sadar sebagai sumber kreativitas, pikiran dan perasaan intuitif, inspirasi, serta kesadaran spiritual. (Staf wiki How. id.m.wikihow.com. Cara menggunakan kekuatan pikiran bawah sadar. https://www.google.co.id/amp/s/id.m.wikihow.com/Menggunakan-Kekuatan-Pikiran-Bawah-Sadar%3famp=1. Diakses tanggal 7 Desember 2019).

Pikiran bawah sadar tersebut menancap dan mengakar bagai akar serabut. Seperti yang terjadi pada jiwaku yang sekarang berusia 39 tahun. Ada begitu banyak manifestasi IC yang kalau dirinci satu per satu rasanya tidak akan ada habisnya. Aku dengan jiwa masa kecil yang dibesarkan di lingkungan pemarah yang kudapatkan melalui contoh bapakku, saat melihat, mendengar, merasakan (IC), sudah dapat dipastikan akan mempunyai jiwa yang pemarah ketika dewasa saat ini. Namun sebaliknya, jiwa masa kecil yang melihat, mendengar, merasakan ibuku yang penyabar, membuat jiwa dewasaku tumbuh jadi penyabar.

Ini seperti membentuk dua kutub IC yang berlawanan. Satu pemarah atau sedih mendalam secara tiba-tiba. Satunya sangat penyabar. Dulu hal ini terjadi dalam waktu yang bersamaan dan membuatku bingung. Aku ini kenapa?

Yang namanya suasana hati alias mood, pasti akan berubah-ubah tergantung situasi dan kondisi yang Anda alami di saat itu. Ini normal dan wajar saja terjadi pada setiap orang. Namun ketika perubahan mood itu terjadi tiba-tiba, berubahnya sangat cepat, dan sangat bertolak belakang 180 derajat, ini mungkin menandakan mood swing.

Mood swing ekstrem terjadi mendadak dan melibatkan kondisi emosional yang naik-turun, bergantian antara merasa bahagia dan sejahtera, kemudian dihinggapi oleh perasaan marah, tersinggung, atau depresi, dalam waktu yang relatif singkat. (Deswika Fitriana. 2018. hellosehat.com. Berbagai Penyebab Mood Swings, Gejolak Suasana Hati yang Bukan Sekadar Bad Mood. https://www.google.co.id/amp/s/hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/penyebab-mood-swing/amp/ Diakses tanggal 7 Desember 2019)

Pagi itu, dibulan Oktober 2016, suasana hatiku dalam keadaan bahagia karena bisa berkumpul bersama wali murid untuk menjenguk salah satu wali murid yang baru saja melahirkan. Selang tak berapa lama, setibanya aku di rumah, suasana hatiku langsung berubah menjadi sedih mendalam. Aku menangis tergugu sampai sulit berhenti dalam durasi cukup lama. Akibat terpicu trauma aku melahirkan tanpa ditemani orangtuaku.

Setelah aku memahami apa yang terjadi pada jiwaku. Aku menemukan ada trauma masa lalu. Jika dirunut akarnya berasal dari luka pengabaian dari orangtuaku. Panjang ceritanya jika ingin mengurai satu per satu akar penyebab depresi dan bipolarku.

Dari contoh-contoh nyata yang kuceritakan di atas, berasal dari kejadian-kejadian ekstrem dan rumit dalam hidupku. Pun, penelusuran asal muasal penyebab penyakit kejiwaan yang aku idap. Akhirnya yang menyadarkanku bahwa aku ini mengidap depresi dan bipolar memang secara genetik (keturunan dari bapakku) dan kemungkinan juga dari garis keturunan ibuku (saat hamil, ibuku dalam kondisi tertekan dan memang ada adik ibuku yang mengalami depresi pasca melahirkan) serta lingkungan (melihat mama yang penyabar dan bapak yang seketika meledak-ledak setiap saat).

Dengan setitik ilmu mindfulness parenting yang kupelajari, membuatku bisa menelusuri akarnya satu per satu. Pada akhirnya membuatku bisa menerima satu per satu akar IC sebagai bagian dalam perjalanan hidup dan merupakan ketetapan Allah yang sebaiknya aku syukuri secara terus menerus.

Kemudian, aku banyak memaafkan kedua orangtuaku. Sebab kedua orangtuaku belum mempunyai ilmu parenting apalagi sampai memahami arti dari IC. Akhirnya, menurutku sangat wajar jika secara tidak sadar juga bapak ibuku menoreh luka batin kepada anak-anaknya.

Mindfulness parenting adalah proses kreatif yang berlangsung terus-menerus, bukan sebuah titik akhir. Proses ini melibatkan membawa kesadaran tidak menghakimi (non-judgemental), semampu yang orangtua bisa di dalam setiap momen. Termasuk juga di sini kesadaran tatanan dalam diri terhadap pikiran-pikiran, emosi-emosi, sensasi-sensasi tubuh, tatanan diluar diri orangtua terhadap anak-anak, rumah dan kultur yang lebih luas. (Supri Yatno. 2016. Mindfulness Parenting. Modul Mindfulness Parenting. Hal. 1).

Setelah menerimanya, justru aku bisa menjadikan IC negatif tersebut menjadi pembelajaran hidup. Melalui IC yang kumiliki, yang sebagian besar negatif, aku jadi bisa belajar untuk mencegah agar tidak melakukan dan mengulangi hal yang sama kepada kedua anakku. Aku belajar untuk stop rantai perlukaan IC negatif. Agar Tyaga dan Jehan tak perlu menyimpan kenangan buruk IC dipikiran bawah sadarnya, tetapi sebaliknya, bisa mengukir banyak IC positif. Agar pilihan hidupnya juga tetap positif walaupun keadaan sedang tidak baik (negatif).

Sokaraja, 8 Desember 2019

-Ribka ImaRi-

Penyintas depresi dan bipolar

Penulis

Mentor Kelas Parenting Online

Sumber gambar: MateriBelajar.co.id