Bagaimana Mengatur Nafkah dalam Rumah Tangga agar muncul Sakinah

Agak menarik rupanya jika kita mulai menyadari akan pentingnya mengatur masalah pengelolaan uang di dalam rumah tangga.

Tidak semua pasangan menikah memiliki keberuntungan dalam penghasilan dan nafkah keluarga.

Semua memang sepengaturan pemilik hidup yang mengatur rejeki di dunia. Tidak perlu ngotot pun jangan sampai ngoyo, khususnya dalam hal masalah rejeki untuk nafkah keluarga.

Bagaimana sakinah di dapatkan apabila pasangan atau hubungan intern dalam rumah tangga tidak ada ikatan yang memberikan kenyamanan.

Tidak mungkin sakinah tidak diinginkan oleh semua pasangan menikah, karena inilah yang menjadi pangkal utama yang memberikan kenyamanan dan dengan rida-Nya saja yang menjadi pengharapan.

Sebelum segala berjalan diluar kendali, maka sebaiknya peranan suami dan istri harus memiliki ciri-ciri dari keluarga yang memiliki sakinah. Yakni ciri-ciri yang dimiliki oleh setiap anggota di dalam sebuah rumah tangga.

Ciri-ciri suami yang shalih diantaranya :
1. Mempunyai sikap yang baik terhadap istri dan anak-anak tercinta, dengan arti memiliki akhlak yang baik dalam memperlakukan istri dan anak-anak.

2. Wajib mendidik kepada istri dan anak-anaknya. Dengan diberikan tanggung jawab yang sangat berat sebagai pemimpin bagi istrinya. (Lelaki sebagai pemimpin bagi wanita).

3. Memenuhi nafkah bagi keluarnyanya. Menurut QS. Al-Baqarah [2] : “Dan kewajiban suami memberikan makanan dan pakaian kepada istrinya dengan cara yang baik, seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kemampuannya.”

Allah SWT menyuruh agar suami memberi nafkah sesuai kemampuan, namun hal ini tidak dapat dijadikan ukuran atau pembenaran khususnya kepada para suami untuk memberi nafkah sekeinginanya atau sekadarnya saja. Karena dengan begitu maka suami telah zalim kepada keluarganya.

Jadikan semangat bekerja untuk mencari nafkah yang bermanfaat bukan hanya dengan niat mendapat materi saja. Supaya nafkah dapat berguna sampai juga pada nilai pahala baik seorang kepala rumah tangga.

Nah, selanjutnya untuk ciri-ciri istri yang shalihah :
1. Melakukan kewajiban kepada suami, dan memiliki kasih sayang untuk suami dan anak-anaknya.
Menurut QS. An-Nisa [4] : 34, “karena wanita yang shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah SWT dan taat kepada suaminya sebagaimana Allah SWT telah menjaganya.”

2. Menyembunyikan rahasia keluarga, tidak keluar rumah tanpa ijin suami, tidak menerima tamu yang tidak disukai suami, dalam hal ini jangan menerima tamu bukan muhrim ketika suami sedang tidak di rumah.

3. Menjaga kehormatan diri dan harta suami.

Dalam hal ini istri wajib dan memiliki hak untuk menuntut nafkah terhadap suaminya, selama sama sekali tidak memberatkan. Apalagi suami sampai nekad korupsi. Naudzubillah.

Sekedar memberi dan membagi ilmu yang sekiranya penting dan bermanfaat di sini, bahwa sebetulnya kewajiban sebagai seorang suami memberi nafkah kepada istri dan anak-anaknya itu sebagai perintah dari Alla Swt, buka berdasa kepada tradisi atau budaya dan adat kebiasaan.

Maka agar terjalin sakinah dalam rumah tangga, diharuskan suami melakukan segala kewajibannya pula. Karena apabila suami sama sekali tidak memenuhi kewajibannya bagi keluarga, ia telah melakukan dosa kepada Allah SWT, dengan melanggar hak istri dan anak-anaknya.

Ternyata hidup memang mudah bukan, hanya dengan melaksanakan taat dan menjauhi larangan-Nya untuk meraih sakinah. Maka pasangan menikah harus dapat memahami betul hak dan kewajibannya agar menjalankan sesuai ketetapan dari Allah SWT.

Sumber : Cerdas Mengelola Keuangan Keluarga. Dra. Sulastiningsih, M.Si.
Penerbit : Pro-U Media, 2008. Yogyakarta.