Mengikis OCD Perfeksionis (2)

Mengikis OCD Perfeksionis (2)

Oleh: Ribka ImaRi

Bagian (1) https://wp.me/p8793X-2xv

Sekitar tahun 2000, ketika aku masih kuliah di FH Undip, Semarang. Aku mulai menyukai warna biru. Ketika membeli barang baru, sebisa mungkin harus yang berwarna biru.

Aku sampai harus mengelilingi Pasar Johar, Semarang. Hanya untuk mencari kipas angin dengan warna biru secara keseluruhan, tanpa ada campuran warna lain. Saat belum mendapatkannya, aku pantang menyerah mencarinya.

Saat ditawari stok kipas angin yang ada di toko, tetapi tidak berwarna biru, aku langsung menolaknya. Hal seperti ini berlanjut ketika aku sudah bekerja dan mendapat penempatan di kota Padang. Saat itu, aku merasa semakin mengalami gangguan obsesi.

Seluruh isi kamarku hampir seluruhnya biru. Mulai dari DVD player, magic com, sprei, gorden, ember, gayung, piring, sendok dan yang lainnya. Pokoknya kalau masih bisa dicari berwarna biru, aku akan terus mencari sampai mendapatkannya.

Kala itu aku belum merasa terganggu akibat terobsesi warna biru. Pun, aku belum paham ada gangguan obsesi pada diriku. Sampai suatu ketika di tahun 2011, saat aku sudah menikah, aku mengobrol dengan tetanggaku. Dari tetanggaku itulah aku baru tahu tentang OCD (Obsessive Compulsive Disorder).

Gangguan obsesi ini ternyata makin nyata ketika aku sudah mempunyai anak pertama. Sekadar hendak memegang dan menggendong bayiku, aku harus mencuci tangan atau membasuh tanganku dengan tisu basah atau antiseptik bermerk ant*s.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Lama kelamaan aku tersadar ini sangat mengganggu aktivitasku. Sebab aku bisa berpuluh kali mencuci tangan atau menuangkan ant*s di telapak tangan. Jika aku tidak melakukannya, aku seperti merasa sangat bersalah sebab merasa akan menularkan penyakit kepada bayiku.

Seiring perkembangan usia bayiku dan aktivitasku menjadi ibu muda, aku semakin OCD. Aku mulai terbiasa menyediakan bermacam spon cuci piring tergantung peruntukannya. Untuk gelas sponnya sendiri, untuk piring juga terpisah, untuk panci beda lagi, apalagi untuk wajan bekas minyak. Sponnya semua benar-benar harus terpisah.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Begitu pula aktivitas mencuci baju, embernya harus dicuci dulu. Baru kemudian aku merendam baju dengan dipisah-pisah berdasarkan warna. Lalu menjemur baju pun dengan hanger baju berdasarkan kelompok warna.

Sumber foto: dokumentasi pribadi

Hal tersebut semua pernah membuatku lelah. Saat melakukan aktivitas tersebut, dadaku berdebar-debar kencang. Adrenalin terpacu. Seperti sedang mengikuti perlombaan yang dinilai. Aku merasa harus menyelesaikannya secara sempurna semua.

Sebenarnya hati kecilku berbisik, “Tidak seharusnya aku melakukan sebegitu terobsesinya.” Namun, sungguh … rasanya aku sangat sulit melepaskan semua kebiasaan yang sudah aku lakukan sejak belasan tahun lalu. Bahkan puluhan tahun lalu, lebih tepatnya 27 tahun silam. Dimulai sejak mas kandungku meninggal di tahun 1992. Dari kejadian itulah semua berawal…..

(Bersambung)

Sokaraja, 18 Desember 2019
-Ribka ImaRi-
Penyintas OCD sejak SD hingga usiaku 39 tahun saat ini.

rumahmediagroup/ribkaimari