MENGINSTAL JIWA ANAK LEWAT SASTRA

Oleh Nurilatih

Beberapa orang yang tidak suka dengan sastra akan tersenyum melihat judul tulisan ini… Hehe….

Entah karena suka atau karena asyik saja ketika masuk di dalamnya, ternyata sastra membawa saya ke dalam suasana lebih baik. Bisa berarti hidup menjadi lebih indah, memandang sesuatu dari sisi yang menyenangkan atau bahkan belajar empati terhadap sesama yang berbeda latar belakang sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya.

Kita ketahui kompleksitas hidup semakin bertambah dengan bertambahnya perubahan-perubahan, terutama akhir-akhir ini banyak sekali penurunan akhlak akibat dari gadget yang penggunaannya tidak secara bertanggung jawab.

Orang tua semakin resah, cari tahu bagaimana cara menyikapi, curhat sana-sini, bahkan tidak ragu menjadi terluap amarah karenanya. Anak-anak yang terpengaruh oleh penggunaan gadget tanpa pengawasan pergerakan parah mengikuti keselarasan pengguna atas pemenuhan kepuasan mereka yang kadang bukan pada jenjang usianya.

Menghadapi kondisi ini, orang tua dan orang dewasa di sekitar anak, mempunyai tugas membimbing menjadi anak berakhlaq baik dengan berbagai cara. Meski sebenarnya tidak terlalu tepat mengajarkan akhlak yang baik secara verbal, karena hanya menghasilkan pengetahuan tanpa pemahaman. Misalnya, dari yang diajarkan oleh guru dan orang tuanya anak tahu, bahwa tidak boleh selalu bereaksi marah ketika dia tidak suka dengan perlakuan orang lain. Namun apa yang terjadi jika orang tua suka menggoda anaknya melakukan bullying hanya untuk sebuah candaan.

Tujuan dari pembinaan akhlak adalah membuat amal yang dikerjakan menjadi nikmat. Seseorang yang dermawan akan merasakan lega ketika memberikan sebagian miliknya kepada orang lain. Seseorang yang rendah hati merasakan nikmatnya tawadhu. Seseorang yang ramah merasakan bahagia ketika bisa menyambut orang lain dengan senyuman.

Maka berdasarkan hal tersebut sastra bisa menjadi bagian untuk membina, memupuk dan meningkatkan kualitas akhlak.

Bagaimana hal itu bisa dilakukan?
Lebih kurang sebagai berikut.
1. Dalam situasi santai ajaklah anak mendengarkan dongeng. Dalam sebuah dongeng, anak mengenal berbagai karakter. Di sana diajarkan bagaimana berempati.
2. Ajaklah menyanyi, cara merefresh perasaan yang seharian sudah penuh dengan target penyelesaian tugas.
3. Jika bisa menari ajaklah menari, dari sini akan dirasakan bagaimana hati menjadi lembut, karena tubuh bergerak mengikuti musik.
4. Ajaklah berpantun. Dengan pantun kita bisa bercanda menyampaikan isi pikiran atau bahkan memberikan nasehat.
5. Kita bisa membawa anak ke ruang-ruang sastra yang lain, seperti baca puisi, drama-dramaan, pantomim dan lain-lain.

Bagaimana?
Setuju kan?