Mengukir Sejarah Dengan Menulis

Mengukir Sejarah Dengan Menulis

Bagi ibu rumah tangga seperti saya, menulis adalah pekerjaan terbaik. Bisa dilakukan di dalam rumah tanpa menggangu pekerjaan rumah tangga. Pekerjaan di belakang layar yang banyak mendatangkan teman, sahabat dan saudara baru.

21 April adalah hari dimana nama Kartini dikenang. Beliau tak pernah ikut berperang tapi namanya dikenang sebagai pahlawan. “Habis Gelap Terbitlah Terang” adalah buku yang mengabadikan nama beliau.

Sebuah karya tulis adalah warisan terbaik. Bayangkan saja bila yang kita tulis adalah kebaikan, motivasi dan nasihat. Melalui tulisan, kita mampu menghantarkan seseorang mendapat hidayah. Mampu menumbuhkan semangat bagi orang yang sedang putus asa. Mampu memberi solusi bagi mereka yang mempunyai masalah.

Betapa bahagianya, saat di akhirat kelak kita temui timbangan amal kebaikan yang begitu banyak datang dari orang-orang yang merasakan manfaat dari tulisan-tulisan kita.

Sahabatku, menjadi pengagum aksara memang tidak mudah. Diperlukan kesabaran tingkat tinggi. Harus bisa melawan kejenuhan. Harus sabar merangkai kata agar enak dibaca. Sabar membaca naskah berulang kali agar kalimatnya ngalir. Sabar jika ternyata karyanya belum banyak peminat. Sabar jika ternyata naskahnya ditolak oleh penerbit.

Untukmu Kartini masa kini, menulislah, agar engkau mampu mengukir sejarah. Menulislah, agar saat engkau telah tiada tapi karyamu masih tetap bermanfaat bagi sesama. Engkau cukup di dalam rumah, biarlah karyamu yang keliling Nusantara. Teruslah menulis, jangan mudah menyerah, siapa tau, ini jalan kita untuk menuju Jannah.

Daftar Pustaka : Ahmad Rifai Rif’an,2017, The Perfect Muslimah, Quanta, Jakarta.

Rumahmediagrup/Vita