Menjadi Diri Sendiri (1)

Menjadi Diri Sendiri (1)

2442 angka kembar yang pas buat saya, hanya tinggal dibolak-balik tapi penuh arti. Saya memang menyukai angka. Bagi saya, angka adalah sebuah ukuran penanda suatu memori. 1177 menjadi penanda bulan dan tahun kelahiran, sedangkan 2442 penanda tanggal dan usia saat ini.

Saya ingat, bagaimana saya menandai usia diri sendiri sejak masuk SMP. Ketika itu saya sudah membayangkan bagaimana rasanya jika nanti mencapai usia 17 tahun. Yang terbayang kala itu adalah usia remaja menuju dewasa yang akan dipenuhi dengan bersenang-senang. Banyak juga yang bilang masa SMA adalah masa yang paling indah. Betulkah? Hmm … sepanjang ingatan saya, ketika mencapai 17 tahun, terlewati dengan biasa saja. Cenderung menikmati masa sekolah dengan cara saya sendiri. Membentuk diri menjadi pribadi mandiri. Aktivitas hanya seputar sekolah, tempat les bahasa dan rumah. Pergaulan pun terbatas. Saya lebih banyak bergumul dengan diri sendiri. Sedikit waktu bagi saya melibatkan keluarga atau teman.

Kemudian saya membayangkan kembali bagaimana rasanya jika nanti meninggalkan usia belasan tahun. Usia 20 tahun, masa kuliah. Disinilah masa saya mulai mengeksplor jati diri. masa kuliah menjadi titik di mana saya betul-betul mandiri. Tinggal di rumah sendiri tanpa orang tua. Hanya bersama kakak yang memiliki kesibukan masing-masing. Mengelola keuangan terbatas pemberian orang tua yang telah pensiun untuk mengurus rumah, ongkos kuliah dan kebutuhan lainnya.

Beruntungnya saya memiliki teman dan sahabat sejak masuk kuliah hingga lulus. Susah senang dilalui bersama. Membuat rencana kerja studi, saling pinjam meminjam catatan kuliah, membuat tugas kelompok praktikum, laporan kerja praktek hingga saat membuat tugas akhir semua saling membantu.

Tidak hanya urusan kuliah, di luar kuliah saya mulai mengenal pergaulan yang lebih luas. Tetapi masih dalam koridor yang tidak menyimpang. Main bilyard hingga dinihari pernah saya lakukan. Tetapi tidak seteguk pun minuman beralkohol melewati tenggorokan. Bahkan tidak ada tarikan nafas saya dilalui nikotin. Walaupun pada kenyataannya saya adalah seorang perokok pasif. Jiwa muda saya mulai menggila ketika di luar rumah. Berbagai hal baru saya coba dan menambah wawasan kehidupan pribadi. Ketika kembali ke rumah, saya diam, tetap tidak melibatkan banyak hal tentang pribadi dengan keluarga sendiri.

Di dalam pikiran saya saat kuliah itu adalah, nanti bisa atau tidak mengerjakan tugas akhir dan melewati sidang tugas akhir. Saat kuliah, saya minim fasilitas. Komputer atau laptop tidak punya. Tetapi saya jalani saja. Saya hanya ingn membuktikan, saya tidak sama dengan yang lain. Ternyata bisa! Tentu dengan bantuan teman dan sahabat.

Ketika kuliah saya membayangkan jika bekerja nanti, sepertinya akan seru dan asyik. Menyusuri jalan rusak untuk diukur lalu diperbaiki. Kostum yang saya pakai celana jeans, kaos yang dilapis kemeja lengan panjang untuk menghindari sengatan matahari,sepatu kets ditambah kacamata hitam dan topi.

Tercapai kah bayangan itu?

rumahmediagrup/gitalaksmi

5 comments

Comments are closed.