Menjadi Diri Sendiri (2)

Menjadi Diri Sendiri (2)

Bergelut dengan pergaulan yang didominasi teman laki-laki membuat saya nyaman. Saya tidak perlu terlalu menjaga perasaan karena fitrahnya kaum laki-laki mengutamakan akal dibanding perasaannya. Tanpa susah payah menghindari pergaulan, pertemanan kami sehat. Mereka menghargai saya sebagai perempuan. Kebersamaan ini kami lalui selama empat tahun masa kuliah. Selama itu, mereka mengajarkan saya untuk menajamkan intuisi yang ada dalam diri saya.

Lucunya, mereka menjuluki saya cenayang. Padahal, saya hanya pandai menebak atas pertanyaan-pertanyaan jenaka mereka saja.

“Git, hari ini dosen datang atau tidak?” dan saya hanya tinggal menjawab, ya atau tidak ….

Gaya tomboi dengan jeans dan t-shirt beserta ranselnya menjadi ciri khas saya selama kuliah. Tidak sekalipun saya datang ke kampus dengan make up. Ketika teman perempuan lain sibuk ke salon saat jam kuliah kosong. Saya pergi ke rumah teman untuk main kartu atau meramaikan permainan bola di konsol permainan.

Kebebasan di masa kuliah, membuat saya menemukan jati diri dan sikap yang mawas diri, tidak larut dalam bebas yang tak terbatas. Di balik jiwa saya yang ingin memberontak, saya temukan tekad untuk berhasil menyelesaikan kuliah. Saya berusaha memahami kekecewaan orang tua saat empat orang kakak saya tidak ada yang berhasil meraih gelar sarjana. Akhirnya, saya berhasil lulus kuliah, dan mempersembahkan bahagia untuk orang tua. Walaupun keberhasilan ini adalah sebuah balas dendam yang manis atas prasangka papap, ketika sempat beliau mengucap ragu, saya tidak akan menyelesaikan pendidikan seperti kakak-kakak.

Di akhir masa kuliah, saya mulai membayangkan pekerjaan yang ingin saya jalani. Bukan rutinitas delapan jam di belakang meja dengan kostum formal. Sepertinya asyik jika saya bekerja sesuai passion. Walau jalan menuju hal itu harus saya jalani perlahan.

Pekerjaan pertama yang saya terima adalah mengelola pabrik khusus alat-alat laboratorium teknik sipil di wilayah Cimahi. Saya hanya bertahan dua minggu, semua hanya karena saya ingin balas memenuhi perkiraan papap yang terucap bahwa nantinya saya akan bekerja di pabrik. Berdiri kumpul di halte bis untuk menunggu bis jemputan karyawan pabrik. Saya memang bekerja di pabrik, tetapi posisi saya ditempatkan sebagai general manager. Walau tanpa pengalaman. Dua minggu bekerja membuka mata saya, bahwa ini salah. Membalas dendam tidak membuat saya menjalani pekerjaan dengan senang hati. Saya lebih memilih berhenti.

Usia 25 tahun saya capai tanpa prestasi, menurut saya. Pekerjaan yang saya geluti masih belum sesuai dengan impian. Bekerja di salah satu bank swasta sebagai marketing belum membuat saya puas diri. begitu juga dengan kehidupan asmara, saya masih menutup diri walaupun lamaran sudah diajukan langsung kepada saya dan tanpa berunding dengan orang tua, lamaran itu saya tolak. Hubungan asmara pun kandas dengan membawa kebahagiaan. Saya berhasil mendapatkan pekerjaan yang membuat saya bisa menjadi diri sendiri.

Menemukan passion karena bisa berinteraksi dengan orang lain dari berbagai jabatan dan masyarakat. Pada akhirnya saya belajar melibatkan keluarga dalam kehidupan pribadi. Kebersamaan dengan keluarga sedikit demi sedikit mulai terjalin. Komunikasi dan kepedulian terbentuk seiring keterbukaan antar anggota keluarga.

Lalu mulai membulatkan tekad, saya akan memikirkan masa depan. Menandai apa yang akan dilakukan ketika mencapai usia 30 tahun.

rumahmediagrup/gitalaksmi

One comment

Comments are closed.