Menjadi Diri Sendiri (4)

Menjadi Diri Sendiri (4)

Ternyata saya merasakan slogan ‘memaafkan bukan berarti melupakan’. Pandangan buruk saya tentang rumah tangga membuat saya menjadi seorang yang perfeksionis. Saya ingin semua berjalan serba teratur dan tertib. Semua hal sudah disiapkan dan direncanakan detail. Jikalau ada halangan, sudah ada rencana cadangan.

Dalam angan saya, usia 30 tahun akan mencapai kehidupan yang mantap dan stabil. Ternyata belum saatnya. Justru cobaan menghampiri dan hinggap di pikiran saya yang berkecamuk. Adaptasi terhadap suami dan lingkungan baru membuat saya sibuk dengan perasaan sendiri.

Setelah menikah, saya berhenti kerja dan mengikuti domisili suami di kota kelahirannya, Palembang. Beberapa saat sebelum menikah, suami dipindahtugaskan dari Bandung ke Palembang. Tugasnya untuk memonitoring kegiatan program ke seluruh wilayah Sumatera Selatan. Seringkali saya tinggal di rumah sendirian, ketika suami dinas keliling berbagai daerah.

Tidak butuh waktu lama saya merantau, suami dipanggil tugas ke Jakarta. Tanggung jawabnya semakin luas, wilayah yang harus dimonitor meliputi ujung barat hingga timur, utara dan selatan Indonesia. Jika di Palembang dalam satu bulan, sepuluh hari keliling Sumatera Selatan. Tetapi di Jakarta, dalam satu bulan hanya sepuluh hari ada di rumah.

Perbedaan kebiasaan dengan suami seringkali membuat saya menahan emosi. Saya yang tak bisa melampiaskan perasaan, hanya mengubah raut wajah menjadi judes lalu diam seribu bahasa. Kebiasaan lama mucul kembali, memendam semua rasa, menjadi pikiran yang menyiksa. Lalu mengurai kembali gundah lama yang telah termaafkan namun tak bisa dilupakan. Rasanya semua orang membuat saya pusing kepala dan merepotkan.

Akhirnya bekerja kembali adalah cara saya untuk melarikan diri dari rumah. Bekerja di kontraktor salah satu teman dari menjadi staf admin untuk menangani tender hingga didaulat menjadi project manager di salah satu tender yang berhasil diraih membuat saya terlena. Lupa bahwa usia bertambah tetapi belum dikaruniai keturunan. Beberapa program dijalani, sehingga stress melanda. Kembali resign untuk fokus pada program kehamilan. Gagal, coba lagi. Gagal lagi, ulang lagi. Hingga menyerah dan pasrah.

Sebuah perusahaan ekspedisi menerima lamaran kerja saya. Mulai kembali bekerja sebagai supervisor untuk operasional gerai pengiriman. Pekerjaan saya tidak mewajibkan saya diam di kantor pusat. Saya bebas mengontrol gerai yang tersebar di wilayah Jakarta. Bahkan ada juga di beberapa pusat perbelanjaan grosir seperti Tanah Abang, Mangga Dua dan ITC. Terkadang saya menggantikan staff yang berhalangan hadir. Saya menikmati pekerjaan dan kembali menjadi diri sendiri.

Pergi pagi, pulang malam. membuat saya dan suami jarang komunikasi. Begitu juga dengan keluarga besar. Perseteruan antar ipar menambah warna hidup menjadi lebih hidup.

Apa yang nanti akan saya alami di usia 40 tahun?

rumahmediagrup/gitalaksmi

One comment

Comments are closed.