Menjadi Diri Sendiri (5)

Menjadi Diri Sendiri (5)

Menjadi penengah dalam keluarga terkadang melelahkan. Seperti dituntut untuk menjadi humas yang siaga dan serba tahu dengan mendetail semua hal yang berkaitan dengan seluruh anggota keluarga. “Apa kabarnya si anu? Si itu kenapa begitu? Si ini kenapa begini?” Saya harus punya jawabannya. Jika tidak, akan ada kalimat yang mengiris hati, “Masa sih sampai nggak tahu?”

Sejak kecil hingga dewasa saya terbiasa mendengar bentakan atau amarah yang menggelegar. Bukan hanya ditujukan untuk saya, tetapi bagi siapa saja yang dianggap salah. Ketika kecil, kekerasan fisik pun hadir di depan mata. Secara verbal, cibiran atau kata-kata meremehkan kerap tertangkap pendengaran. Apa rasanya? Miris dan menyedihkan, pasti!

Saya ingat betul, awal masuk kuliah, pagi hari teman-teman saya datang menjemput untuk hadir ke acara yang diwajibkan datang oleh senior. Saat itu masih masa perploncoan. Jadi, apa kata senior adalah titah yang tak terbantahkan. Lewat magrib saya baru diantar pulang kembali oleh teman-teman. Lalu apa yang terjadi, di hadapan teman-teman, telapak tangan sudah melayang ke atas menuju pipi saya, walaupun terhenti di udara, tidak mendarat di pipi saya. Lalu, teman-teman diinterogasi, dari mana, ke mana, melakukan apa? Hanya karena kami pergi ke Ancol, dianggapnya sebagai tempat berkonotasi negatif. Apalagi, teman yang menjemput saya saat itu, empat orang teman laki-laki.

Berulangkali saya memohon maaf secara pribadi kepada mereka. Selanjutnya adalah rasa malu yang terus saya bawa dalam pergaulan di kampus. Saya tidak mengijinkan lagi ada teman yang datang ke rumah. Sejak saat itu, saya semakin tidak melibatkan apapun tentang pribadi saya ke keluarga. Saya diam seribu bahasa, pergi pagi pulang malam adalah rutinitas saya sehari-hari. Saya memberontak, tidak betah di rumah. Cibiran yang saya terima membuat saya dendam dan berusaha membalik ucapan negatif yang ditujukan kepada saya.

Ketika menikah, ingatan buruk terus membekas. Tidak mudah melupakan peristiwa luka di masa lalu. Sehingga jika dalam rumah tangga ada yang tidak sesuai dengan keinginan membuat saya semakin acuh terhadap suami dan meremehkannya. Padahal, suami saya tidak banyak tingkah dan santai. Termasuk tipe yang lurus-lurus saja. Memang cenderung irit bicara. Padahal saya juga terbiasa diam, jika didiamkan akan semakin tenggelam dalam diam.

Stres memuncak akibat pikiran di rumah, keluarga dan masalah di kantor. Menjadi humas dalam keluarga, menjadi Account Manager di perusahaan dan berusaha mencari cara mengatasi emosi dalam rumah tangga. Apa mau dikata, tubuh saya tidak mampu menyelaraskan semua hal dengan baik. Kesehatan tumbang dengan migren yang tak kunjung sembuh dan asam lambung menuju kronis. Penyebab utama adalah stres akibat beban pikiran yang berlebihan.

Mulailah saya berusaha keras menjadi diri sendiri dan mengurai satu persatu akar masalah. Saya berhenti bekerja dan mulai menghempaskan energi negatif yang ada di sekitar. Saya berdamai dengan keadaan, apapun yang saya lakukan, mengedepankan nilai ibadahnya. Niat saya, memasuki usia 40 tahun, harus lebih baik dalam hal ibadah. Saya dan suami beribadah bersama. Salat berjamaah, bahkan menjalankan umroh.

Setiap saya berpikiran negatif, saya ingat kata-kata salah satu ustad dalam ceramah onlinenya di youtube.

“Apapun masalahnya, cari saja sisi positif. Hadirkan berbagai kemungkinan yang membuat kita tidak terus memiliki pikiran negatif.”

rumahmediagrup/gitalaksmi

One comment

Comments are closed.