Menjadi Diri Sendiri (6)

Menjadi Diri Sendiri (6)

Saya pernah membaca sebuah kalimat ‘pernikahan adalah satu ibadah yang paling lama’. Dengan menikah, artinya kita juga harus mau belajar. Jika menganggap pasangan kita tidak sempurna, berarti kita pun tidak sempurna. Maka menikah adalah bukan soal mendapatkan pasangan yang sempurna, tetap bagaimana kita terus belajar menyayangi dan menerima pasangan dengan cara yang sempurna hingga maut memisahkan di dunia, tetapi mempersatukan kembali sebagai pasangan di janah. Inilah yang saya pahami, mengapa pernikahan adalah ibadah yang paling lama.

Saya mengalami dan melihat sendiri keadaan rumah tangga orang tua dan saudara-saudara terdekat. Bagaimana akibatnya kekerasan fisik dan verbal bisa mengganggu perkembangan psikologis anak bahkan hingga dewasa. Beruntunglah saya segera sadar, bahwa saya memiliki pendamping hidup. Dibalik ketidaksempurnaannya justru menerima saya dengan segala kekurangan ini dengan caranya yang luar biasa.

Ketika saya sedang dirudung rasa tidak nyaman terhadap keluarga, beliau menetralkan emosi saya dengan pandangannya yang tidak memihak. Inilah yang kemudian membuat saya terus berusaha menjadi diri sendiri. Saya tidak lagi bersembunyi dibalik kata saya baik-baik saja, padahal saya sedang tidak baik.

Saya mulai melepaskan diri dari urusan orang lain. Karena separuh usia saya lebih banyak lelah mengurusi dan memikirkan kepentingan orang lain. Mulai memantaskan diri untuk menggapai rida suami dan rida Allah. Secara perlahan, saya kembali mengobati diri sendiri dari trauma masa lalu.

Usia 42 tahun, saya menemukan cara mudah berkomunikasi, dengan menulis! Lewat tulisan, saya melatih pikiran agar tak lagi sibuk dengan kilas balik. Saya ingin sehat jiwa raga, lahir batin dan pastinya bahagia dunia akhirat. Mengurai buah pikiran lewat tulisan yang baik dan semoga saja bisa bermanfaat untuk orang lain.

Terus istiqomah untuk memperbaiki diri dan keluarga. Keluarga yang baik akan sama-sama berkumpul di syurga. Jangan terus sibuk dengan masa lalu tapi lantas melupakan rencana masa depan. Maafkan yang telah menyakiti dengan bersyukur bahwa mereka telah memberikan pelajaran bagi diri kita untuk tidak mengikuti jejak buruknya. Menjadi lebih baik dengan niat ibadah akan meringankan langkah menggapai bahagia.

rumahmediagrup/gitalaksmi

One comment

Comments are closed.