Menjadi Kaya Itu Pentingkah?

Menjadi Kaya Itu Pentingkah?

Endah Sulistiowati*

Kaya itu relatif, tidak ada tingkat minimalis ataupun maksimalis. Sehingga kriteria kaya menurut penulis belum tentu masuk kriteria kaya menurut pembaca. Dulu, adik saya bilang dia lahir diawal tahun 1990an, kaya itu jika diumahnya itu punya kulkas (lemari es) dan punya pesawat telepon. Menurut anak saya yang lahir tahun 2010, kaya itu kalau rumahnya tingkat (dua lantai) dan punya mobil. Kaya versi anak-anak itu memang sangat beragam. Sedang dalam KBBI online kaya diartikan sebagai orang yang mempunyai banyak harta (uang dan sebagainya).

Siapakah orang yang paling kaya di dunia saat ini? “Yang punya perusahaan Microsoft; Bill Gates!” Mungkin inilah jawaban yang terlontar, andaikan salah seorang dari kita dihadapkan pada pertanyaan di atas. Atau bisa jadi jawabannya, “Pemain bola anu!” atau “Artis itu!”. Ternyata Bill Gates adalah orang terkaya no 2 di dunia dengan jumlah kekayaan bersih $90 miliar atau setara Rp 1.202 triliun. Sedangkan yang menduduki orang terkaya no 1 dunia dipegang oleh Jeff Bezos merupakan orang di balik kesuksesan Amazon, e-commerce terbesar di dunia saat ini. Dengan jumlah kekayaan sebesar $430 miliar atau setara Rp 5.745,23 triliun.

Bagaimana dengan Indonesia, Indonesia pun memiliki data 10 orang terkaya, yang jika digabungkan kekayaan mereka setara dengan kekayaan 100juta penduduk Indonesia kelas ekonomi menengah kebawah, jika diasumsikan 1 orang penduduk memiliki kekayaan 20juta. Dinomor urut 1 orang terkaya Indonesia saat ini masih stagnan diduduki oleh Robert Budi dan Michael Hartono dengan total kekayaan US$35 miliar (Rp 508 triliun).

Menunjuk mereka di atas sebagai orang terkayasangat dianggap wajar karena barometer kekayaan di benak kebanyakan orang saat ini diukur dengan kekayaan harta duniawi. Padahal, jika menggunakan barometer syariat, bukan merupakan hal yang mustahil bahwa kita pun amat berpeluang untuk menjadi kandidat orang paling “kaya”! Bagaimana bisa? Bisa saja!

Orang paling kaya, jika diukur dengan timbangan syariat, adalah: orang yang paling nrimo (menerima). Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan tidaklah diukur dengan banyaknya harta, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati” (HR. Bukhari dan Muslim; dari Abu Hurairah). Maksudnya kaya hati, atau sering diistilahkan dengan “qana’ah“, artinya adalah ‘nrimo (menerima) dan rela dengan berapa pun yang diberikan oleh Allah Ta’ala.

Andaikan kita telah bisa mengamalkan hal di atas, saat itulah kita bisa memiliki kans besar untuk menjadi orang terkaya di dunia. Ujung-ujungnya, keberuntunganlah yang menanti kita, sebagaimana janji Sang Musthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
“Beruntunglah orang yang berislam, dikaruniai rezeki yang cukup, dan dia dijadikan menerima apa pun yang dikaruniakan Allah (kepadanya).” (HR. Muslim; dari Abdullah bin ‘Amr)

Berdasarkan barometer di atas, bisa jadi orang yang berpenghasilan 20ribu sehari dikategorikan orang kaya, sedangkan orang yang berpenghasilan 30juta sehari dikategorikan orang miskin. Pasalnya, orang pertama merasa cukup dengan uang sedikit yang didapatkannya. Adapun orang kedua, dia terus merasa kurang walaupun uang yang didapatkannya sangat banyak.

Sehingga kekayaan itu tidak bisa ditentukan batas nominalnya. Kalau kita saat ini hidup diera kapitalis yang semua dihargai dengan materi (uang), sebesar apapun harta yang dipunya tidak lantas membuat seseorang puas dengan apa yang telah dimiliki, yang ada merasa apa yang ada masih jauh dari cukup. Karena harta tidak menjamin hidup seseorang itu bahagia.

Kemudian, apa kita tidak boleh kaya? Boleh, sah-sah saja kita kaya. Namun tidak menjadikan kaya sebagai tujuan hidup. Para Ulama menyampaikan “Taruhlah dunia digenggamanmu dan akhirat ada dihatimu”, fainsyaAllah makan dunia akan mengikutimu. Yang pasti dalam kondisi apapun kita harus senantiasa mengikatkan diri dengan aturan-aturan Allah SWT. Mengembangkan harta tanpa riba, meraih hidup barokah.

Sehingga jika ditanya penting atau tidakkah kaya itu? Sebagai seorang muslim yang penting hidup itu adalah qona’ah (cukup), berapa pun rizki yang Allah berikan akan selalu cukup bagi kita, dan selalu mensyukuri nikmat yang telah diberikan kepada kita, dengan begitu Allah akan selalu menjaga kita dalam kehidupan yang bahagia. Wallahu’alam.

*Direktur Muslimah Voice

Rumahmediagrup/endahsulis1234

2 comments

Comments are closed.