Menuju Udik

Bagaimana bisa dibilang pulang kampung, kalau nyatanya sehari-hari memang tinggal di kampung?

Dulu, udik hanya dipakai untuk menunjukkan arah hulu sungai, sumber air, tempat perkampungan pertama berdiri. Lama-lama, udik diartikan pada kampung halaman, karena seseorang yang bergerak ke udik umumnya adalah untuk pulang, bukan sekadar menuju hulu sungai.

Sekarang, kata mudik biasa dipakai untuk mempersingkat frasa pulang kampung (halaman). Padahal, sudah banyak orang yang “pulang” bukan ke kampung, tapi ke kota yang bisa jadi lebih besar daripada tempat tinggal tetapnya.

Menuju udik, menuju hulu, menuju sumber, menuju asal muasal. Setiap manusia tak ada yang ingin mendapat sebutan bagai kacang lupa akan kulitnya. Meski menyukai pekerjaan dengan banyak kesibukan, pasti ada satu masa ia ingin kembali menikmati ketenangan masa kecilnya. Masa tak perlu berpikir segala rupa. Masa segala bentuk kekurangan bukanlah masalah.

Dengan mudik, kelelahan hilang seketika.

Dengan mudik, silaturahim terus terjaga.

Dengan mudik, senyum terkembang oleh nostalgia.

Dengan mudik, uang habis tak mengapa.

Dengan mudik, me-recharge jiwa raga.

Namun jangan sampai, belum bisa mudik artinya kita menderita.

Mudiklah selalu ke hadapan Allah dan tumpahkan segala rasa dengan mengharap curahan kasih sayangNya.

In syaa Allah, mudik tak mudik, hati kita bisa tetap rida atas segala peristiwa.

rumahmediagrup/fifialfida