Menulis Sajalah

Menulis Sajalah

Para penulis besar dunia memulai pekerjaannya menulis bukan semata agar meledak dan menjadi best seller. Tetapi lebih pada membuat sebuah karya sebagai wujud kecintaan terhadap profesi penulis. Rasa cinta yang teramat besar dan dalam hingga tak jarang mereka menuliskannya pada kondisi yang tak bisa dikatakan layak.

Letters from Birningham Jail” ditulis oleh Martin Luther King Jr di tahun 1963, saat dia ditahan selama 9 hari. Dia adalah seorang penentang rasisme di USA. Lalu ada tokoh berpengaruh dari Afrika, Nelson Mandela yang menulis “Conversations with My Self” ketika dirinya dipenjara selama 27 tahun.

Ada kitab “Fii Dzilalil Quran” buah karya penulis besar asal Mesir, Sayyid Qutb. Bahkan beliau tak lama menemui syahid dihukum gantung karena dituduh merencanakan makar pada rezim Mesir yang berkuasa saat itu. Beliau tak sempat melihat bukunya berulang kali dicetak dan beredar ke beberapa negara.

J. K. Rowling, sang penulis mega best seller dengan novel Harry Potter-nya, juga menuliskan naskahnya di saat berada dalam titik nadir terendah dan kemiskinan. Siapa menyangka, dari situlah titik balik kehidupannya dimulai. Dalam sekejap, nasibnya berubah total. Dari bukan siapa-siapa dan tak memiliki apapun, menjadi penulis terkenal dan masuk dalam jajaran miliarder dunia.

Dee Lestari atau nama pena dari Dewi Lestari, memulai debutnya menuliskan novel Supernova dalam bentuk stensilan. Diterbitkan secara indie dan dijual di kampus-kampus dengan cara menawarkannya pada teman-teman kuliah. Sekarang, setiap kali menelurkan karya terbaru, setiap kali itu pula penggemar setianya telah siap memborong buku di saat pre order dibuka.

Berbekal keyakinan dan kerja keras yang tak sebentar, karya-karya mereka menemui takdirnya. Ada yang menjadi best seller dan dicetak berulang kali hingga kini. Bahkan ketika sang penulisnya sendiri sudah tiada dan tak sempat menikmati hasil materialnya.

Maka jika kita mengaku sebagai seorang penulis, janganlah ragu dan takut untuk segera memulai langkah. Menulislah, apa pun itu. Tulis apa yang ingin dituliskan. Jujurlah pada diri saat menuliskannya agar ruh dalam tulisan kita hadir dan membuai para pembacanya. Biarkan tulisan kita menemui takdirnya setelah diusahakan kehadirannya.

Tak memiliki laptop atau komputer? Mengetiklah di smartphone atau mencari rental komputer terdekat. Buatlah terlebih dahulu coretan kasar dari judul dan tema yang ingin kita tuliskan. Berhenti mengeluh dan meratapi keterbatasan yang ada.

Jadikan hambatan, kendala, ketiadaan alat penunjang sebagai cambuk. Bukan langsung menyerah tanpa syarat dan tanpa usaha. Mana ada pejuang yang namanya dikenang dalam sejarah tetapi tanpa mau bersusah payah maju ke medan laga? Jangan berharap orang lain untuk memaklumi diri kita sementara kita sendiri tidak pernah berupaya. Apa yang akan diapresiasi oleh orang lain jika demikian?

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah

reff :

https ://www.rosediana.net/14 Buku atau Karangan Terkenal yang Ditulis dari Balik Penjara/

3 comments

Comments are closed.