Menumbuhkan Kecerdasan Ketahanmalangan pada Anak Selama Masa Pandemi

            Masa pandemi membawa perubahan besar bagi masyarakat di Indonesia maupun di lingkup dunia. Seluruh aspek kehidupan harus secepatnya beradaptasi dengan kebiasaan baru akibat pandemi ini. Sekolah-sekolah tidak bisa belajar tatap muka, kita tidak bisa bekerja seperti biasanya, ada keterbatasan dalam bersosialisasi dengan teman dan lingkungan, akses  belajar online yang kadang terkendala, pembelajaran jarak jauh dengan sarana dan prasarana yang terbatas, ketidakmampuan siswa untuk belajar mandiri merupakan dampak-dampak  dari pandemi.         Anak maupun orang dewasa harus secepatnya mengubah kebiasaan yang sudah terpola. Perubahan ini terkadang menimbulkan ketidaksiapan bagi beberapa orang. Akibat ketidaksiapan ini akan muncul masalah pada sikap mentalnya.

Selama pandemi covid-19 , Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat bahwa sekitar 277 ribu kasus kesehatan jiwa terjadi di Indonesia. Sedangkan data dari Himpunan Psikologi Indonesia pada Layanan Psikologi Sehat Jiwa (SEJIWA) menyatakan bahwa selama April-Juni 2020 terdapat 151 aduan melibatkan anak-anak seperti kasus kekerasan verbal yaitu sering dimarahi, ataupun dicubit.

Adapun data dari Wahana Visi Indonesia pada Mei 2020 menyatakan bahwa 47% anak merasa bosan berada di rumah selama pandemi, 35% anak merasa khawatir dengan perkembangan pelajarannya, dan sisanya merasa takut akan tertular covid-19, takut akan kondisi ekonomi keluarga, rindu dengan teman-temannya. Ketakutan dan kekhawatiran serta kesulitan selama pandemi ini menunjukkkan betapa hal tersebut jika dibiarkan berlarut-larut akan menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan mental anak.

Ciri gangguan mental pada anak sulit dilihat. Namun, ada beberapa gejala yang bisa dipantau yaitu antara lain kondisi emosi yang begitu berlebihan seperti tiba-tiba marah, menangis. Kemudian ada beberapa kasus pada anak yang tidak jelas keinginannya, sulit konsentrasi, gejala fisik seperti pusing, melukai dirinya sendiri. Disinilah diperlukan kecerdasan ketahanmalangan pada anak agar mampu melewati masa sulit, agar mampu mengubah keadaan susah menjadi penuh hikmah.

Apa Kecerdasan Ketahanmalangan itu?

            Kecerdasan ketahanmalangan merupakan kecerdasan dalam mengatasi segala kesulitan dan kesusahan hidup. Anak yang mempunyai kecerdasan ini mampu menikmati kegelisahan dalam dirinya. Kesulitan, kesusahan, kegelisahan ini tidak mengubah mentalnya menjadi down. Ketika anak-anak mempunyai kecerdasan ketahanmalangan maka mereka mampu mengungkapkannya kepada orang lain kemudian juga mampu mengubahnya menjadi hal yang bisa dikompromikan. Faktor-faktor apa saja yang mampu mempengaruhi tumbuhnya kecerdasan ketahanmalangan ini? Antara lain: faktor pengasuhan orangtua, gaya komunikasi intern keluarga, pemahaman nilai agama dan moral.

            Faktor pengasuhan dan gaya komunikasi keluarga merupakan faktor yang tak bisa dielakkan dalam kehidupan anak. Anak dalam kurun waktu 24 jam bersama keluarga, maka keluargalah yang paling memberi kelekatan sikap pada anak. Keluarga menjadi kunci tumbuhnya kecerdasan ini. Ketika komunikasi anak dengan keluarga baik, maka anak akan dengan mudah mengungkapkan kegelisahan, kesusahan, kesulitannya. Begitupula dengan pola asuh yang friendly, kooperatif, kompromi, demokratis akan mempengaruhi sikap dan perilaku anak di kemudian hari sehingga anakpun akan mudah mengungkapkan dan berkompromi dengan kesulitan, kegelisahan, kesusahan hidupnya.

            Pemahaman pada nilai agama dan moral juga mampu mempengaruhi tumbuhnya kecerdasan ketahanmalangan ini. Agama merupakan panduan dan tuntunan hidup seorang manusia. Agama menjadikan manusia mampu bertahan hidup dengan segala kesusahan dan kesedihan serta kegelisahan dalam hidup karena kita mempelajari tentang sabar, syukur dan tawakal. Sedangkan pada nilai moral, kita mengenal hal-hal apa yang baik untuk dilakukan. Pemahaman akan nilai agama dan moral memberikan faktor signifikan tumbuhnya kecerdasan ketahanmalangan pada anak.

Cara Menumbuhkan Kecerdasan Ketahanmalangan pada Anak

            Menurut Stolz (2000) bahwa menumbuhkan kecerdasan ketahanmalangan adalah dengan cara Listen, mendengarkan keluhan, kesulitan, kegelisahan, kesusahan anak anak. Jika anak kita ternyata berkepribadian yang sulit mengungkapkan keadaannya maka kewajiban kita sebagai orang dewasa untuk mengajaknya berkomunikasi. Komunikasi bisa berawal dari kesukaan anak kita. Jika komunikasi baik maka memudahkan anak untuk nyaman dalam berkomunikasi dengan kita.

Explore and Analyze, tahap berikutnya setelah berkomunikasi dengan anak maka mengurai permasalahan, keluhan, kesulitan, kesusahan, kegelisahan anak kita tersebut. Hal ini akan memudahkan kita menemukan alternatif-alternatif pemecahan masalah. Hendaknya ketika mengurai permasalahan yang ada, kita hanya berperan sebagai fasilitator saja. Biarkan anak untuk menemukan solusi dari tiap permasalahannya. Ajak anak memikirkan akibat dan konsekuensi dari keputusan yang diambilnya. Tanamkan pula nilai-nilai agama dan moral seperti sabar, bersyukur, tawakal pada diri anak.

Tahap terakhir yaitu Do, yaitu aksi nyata dari sebuah solusi pada permasalahan yang dihadapi. Ketika anak gagal menghadapi permasalahannya, tetap berikan motivasi dan dukungan serta jalin komunikasi yang hangat  agar kepercayaan diri anak makin meningkat. Pada akhirnya, dengan doa kita sebagai orang tua insyaAlloh anak akan mampu mengubah susah menajdi penuh hikmah. Aamiin.

Tinggalkan Balasan