Menumbuhkan Minat Makan Sayur dan Buah pada Anak

Menumbuhkan Minat Makan Sayur dan Buah pada Anak

Oleh : Ribka ImaRi

“Pinter ya … doyan makan buah….” puji seorang ibu muda saat melihat Tyaga atau Jehan sedang memakan bekalnya dengan lahap, “anakku ga doyan buah. Apalagi sayur.”

“Gimana ya Mbak supaya anak doyan makan sayur dan buah?” tanyanya lagi. Sambil terus memperhatikan Tyaga atau Jehan yang hampir menandaskan bekal buahnya hanya dalam waktu sekejap saja. Kemanapun kami pergi, hampir selalu memilih membawa bekal buah atau roti isi ketimbang jajanan instan.

Melihat gurat sedih di wajah ibu muda itu, dengan antusias aku berbagi pengalamanku.

Ya, sekarang memang sudah bisa ku syukuri sekali hari-hariku mengiring momen makan Tyaga dan Jehan. Sampai anakku laki-laki berusia 7,5 tahun dan anak perempuan berumur 5 tahun.

Karena perjuangan yang berat dan panjang dalam mengiring fase makan Tyaga sedari MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu), kini berakhir indah. Syukur alhamdulillah.

Jika mungkin digambarkan, ini adalah perjuangan yang juga berdarah-darah. Meski tidak secara harafiah. Tapi benar-benar perjuangan yang menguras emosi, tenaga, waktu dan biaya.

Menyadari, aku adalah ibu yang kurang suka sayur dan buah sedari kecil. Namun hal ini disebabkan karena keterbatasan kehidupan semasa kecilku yang dibawah garis kemiskinan. Jadi aku tak mengenal banyak variasi buah dan sayur.

Sehingga saat dewasa aku jadi pilih-pilih makanan. Oleh karena hal itulah, aku menjadi semakin sadar untuk belajar berjuang mendidik anak untuk suka sayur dan buah sejak dalam kandungan. Aku berjuang makan buah dan sayur apa pun dan melawan ketidaksukaanku terhadap suatu jenis sayur atau buah tertentu yang memang belum pernah kumakan sama sekali sampai tiba waktunya aku hamil. Buah durian dan tomat disayur, misalnya. Aku coba icip demi anak mengenal dan suka semua jenis buah dan sayur sejak janin.

Tepat 7 tahun lalu … ketika memula MPASI di bulan September 2012. Segala suka, duka, stres, bahkan depresi (karena terpicu trauma masa kecil yang selalu kekurangan makan), aku hadapi.

Tak ada kata menyerah dalam mengenalkan semua jenis karbohidrat, lauk, sayur dan buah. Meski pernah ditolak dengan gerakan tutup mulut dan dimuntahkan kembali, aku tetap lanjut mencoba mengenalkan bermacam jenis makanan. Dari mulai bentuk, rasa dan warna.

Bermula dari “sounding”, yaitu memberi tahu secara terus menerus tentang nama-nama sayuran dan buah sejak janin Tyaga dalam kandungan.

Lalu tanpa kenal lelah aku rajin membacakan buku tentang manfaat buah dan sayur. Sejak Tyaga atau Jehan masih bayi masih ASI. Lalu batita (bayi usia 3 tahun) dan kemudian sampai keduanya usia balita (bayi usia lima tahun).

Sounding secara terus-menerus tanpa berpikir, “Memangnya bayi bisa mengerti?” tapi aku menanamkan rasa yakin pada diriku sendiri lebih dulu, “Bismillah … kelak pada waktuNya Tyaga atau Jehan kelak akan mengerti semua sounding dari Bunda”

Lalu memasuki fase batita dan balita yang ada kalanya susah makan yang pernah membuat stres bahkan sampai depresi, bundanya tetap melakukan sounding menarik dan antusias untuk menerima semua jenis makanan yang bunda sediakan dirumah.

Meski kadang masih menolak satu jenis sayur atau buah, bunda berusaha menyediakannya dalam bentuk yang lucu dan menarik. Wortel dibuat bentuk bunga, misalnya. Buah alpukat dibuat puding. Jadi Tyaga atau Jehan yang tidak menyukai satu atau beberapa jenis buah atau sayur, tetap mau menikmatinya setelah disediakan dalam bentuk olahan. Lalu dihidangkan dalam wadah yang juga menarik. Sehingga menggugah selera makan. Tak lupa berdoa dan yakin terus dalam hati, bismillah kedua anakku akan menerima dan lahap memakan menu yang aku sediakan.

Sebab dengan menerima apa pun yang bunda sediakan, lalu memakannya dengan penuh rasa senang adalah wujud syukur mas Tyaga atau adek Jehan kepada Allah SWT.

Karena Allah SWT lah yang memberi rezeki makanan lewat ayah dan bunda (orangtua). Juga sebagai bentuk menghargai jerih lelah orangtua. Sebab ayah yang mencari nafkah. Kemudian bunda yang belanja dan masak makanan sehat.

Alhamdulillah nyata betul bahwa proses panjang selama 7 tahun lamanya, tak pernah berkhianat pada hasil. Dengan Semangat, Konsisten, Sabar dan Telaten (SKST) telah membuahkan hasil terbaik dari Allah SWT.

Sekarang saat Tyaga berusia 7,5 tahun sudah dengan mudahnya suka semua jenis makanan yang terhidang tanpa pilih-pilih. Meski hanya tersedia lauk telur rebus saja. Bahkan buah naga merah yang bundanya tidak suka, Tyaga lahap saja saat makannya. Lalu makan jenis sayuran yang tak lazim dimakan anak, misalnya kacang kapri, oyong, pokcoy, terong, dan lain-lain.

Sebab Tyaga sudah paham makanan apa yang pantas untuk tubuhnya. Ataupun makanan yang benar-benar tidak boleh dimakan karena berbahaya untuk tubuhnya yang masih dalam masa pertumbuhan. Sebab sudah menancap sounding tentang manfaat makanan.

Meskipun pada Jehan terkadang masih ada penolakan, terus berusaha SKST. Sampai nanti Jehan pun bisa lulus fase makan dengan baik, seperti masnya.

Salam SKST (Semangat, Konsisten, Sabar dan Telaten).

-Ribka ImaRi-
Sokaraja, 11 September 2019.
Menulis adalah mengingat perjuangan panjang sekaligus berbagi pengalamanku untuk ibu lain yang sedang berjuang.

#Nubar
#NulisBareng
#Level3
#RumediaNubarBla
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#RNB33
#week2
#day2
#temabebas

Emmy Herlina
Asri Susilaningrum
Lely M Nasution
Hadiyati Triono
Lelly Hepsarini
Syarifah Nur Adni